BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah
Belajar
merupakan kegiatan yang tidak asing lagi di kalangan kita. Seperti di era
sekarng ini, belajar seolah-olah dianggap sebagai tuntutan yang wajib bagi
setiap orang. Tidak hanya bagi mereka yang masih muda, akan tetapi mereka yang
sudah dewasa atau terbilang sudah tua dituntut untuk belajar agar mampu untuk
menyesuaikan diri dengan keadaan zaman.
Belajar
dalam seyogianya dijalankan selama hayat di kandung badan atau bisa dikatakan
seumur hidup. Berkaitan dengan kegiatan belajar di tengah-tengah masyarakat
mengemuka ungkapan “masa muda adalah masa belajar”. Ungkapan tersebut
dimaksudkan bahwa setiap orang muda sudah semestinya mempersiapkan diri untuk
memperoleh segala sesuatu yang berguna bagi hidupnya di kemudian hari.
Dalam
makalah ini penulis mencoba untuk menguraikan beberapa hal mengenai konsep
belajar yang meliputi, definisi belajar, faktor belajar, proses dan fase
belajar, teori-teori belajar serta macam-macam perwujudan perilaku belajar.
B. Rumusan
Masalah
1. Apakah
definisi dari belajar ?
2. Apa
sajafaktor-faktor yang mempengaruhi belajar ?
3. Bagaimanakah
proses dan fase belajar ?
4. Bagaimana
macam-macam perwujudan perilaku belajar ?
C. Tujuan
Masalah
1. Mendiskripsikan
definisi belajar.
2. Mengetahui
faktor-faktor yang mempengaruhi belajar.
3. Mengetahui
proses dan fase belajar.
4. Mengetahui
macam-macam perwujudan perilaku belajar.
D. Batasan
Masalah
Makalah
ini hanya membahas konsep dalam belajar, yakni mengenai definisi belajar, faktor-faktor
yang mempengaruhi belajar, proses dan fase belajar, serta macam-macam
perwujudan perilaku belajar.
BAB II
LANDASAN TEORI
A.
Definisi
Belajar
Arti
kata belajar di dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia adalah suatu usaha memperoleh
kepandaian atau ilmu. Sedangkan dalam kamus Bahasa Inggris terdapat empat macam
arti belajar, yakni memperoleh pengetahuan atau menguasai pengetahuan atau
menguasai pengetahuan melalui pengalaman, mengingat, dan mendapat informasi
atau menemukan.[1]
Beberapa
ahli menguraikan definisi dari belajar sebagai berikut :
a.
Arthur
J. Gates
Menurut
Arthur, yang dinamakan belajar adalah perubahan tingkah laku melalui pengalaman
dan latihan (learnig is the modification
of behavior through experience and training).
b.
L.D.
Crow and A.Crow
Ahli
ini berpendapat bahwa belajar adalah suatu proses aktif yang perlu dirangsang
dan dibimbing ke arah hasil-hasil yang diinginkan (dipertimbangkan). Belajar
adalah penguasaan kebiasaan-kebiasaan, pengetahuan, dan sikap-sikap (learning is an active process that need to
be simulated and guided toward desirable outcome. Learning is the acquisition
of habits, knowledge, and attitudes).
c.
Gregory
A. Kimble
Belajar
menurut Gregory A. Kimble adalah suatu perubahan yang relatif permanen dalam
potensialitas tingkah laku yang terjadi pada seseorang atau individu sebagai
suatu hasil latihan atau praktik yang diperkuat dengan pemberian hadiah. (learning as a relatively permanent change in
behavioral potentiality that occurs as a result of reinforced practice).[2]
d.
Morgan[3]
Morgan
dalam buku Introduction to Psychology
(1978) mengemukakan bahwa belajar adalah setiap perubahan yang relatif menetap
dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau
pengalaman.
e.
Whiterington
Whiterington,
dalam buku Educational Psychology
mengemukakan bahwa belajar adalah suatu perubahan di dalam kepribadian yang
menyatakan diri sebagai suatu pola baru daripada reaksi yang berupa kecakapan,
sikap, kebiasaan, kepandaian, atau suatu pengertian.
Dari berbagai definisi belajar yang
telah dikemukakan para ahli tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa pada
hakikatnya belajar adalah proses penugasan tertentu sesuatu yang dipelajari.
Penugasan tersebut dapat berupa memahami (mengerti), merasakan, dan dapat
melakukan sesuatu.
Bertolak dari berbagai pemikiran
para ahli tersebut, belajar dapat didefinisikan sebagai suatu kegiatan atau
usaha yang disadari untuk meningkatkan kualitas kemampuan atau tingkah laku
dengan menguasai sejumlah pengetahuan, ketrampilan, nilai dan sikap. Belajar
secara formal adalah usaha menyelesaikan program pendidikan di sekolah atau
perguruan tinggi dengan bimbingan guru atau dosen. Sedangkan belajar secara otodidak
atau disebut juga selfstudyatau
belajar mandiri adalah belajar yang dilakukan di luar program pendidikan di sekolah atau
perguruan tinggi, tetapi melalui usaha sendiri. Sebagai hasil dari belajar
tersebut dapat mencakup beberapaaspek antara lain adalah aspek pengetahuan,
ketrampilan, sikap dan nilai.[4]
B.
Faktor-faktor
yang Mempengaruhi Belajar
Telah
dikatakan bahwa belajar merupakan suatu proses yang menimbulkan terjadinya
suatu perubahan atau pembaharuan dalam tingkah laku dan atau kecakapan.
Berhasil atau tidaknya perubahan tersebut tergantung pada bermacam-macam
faktor. Adapun faktor-faktor tersebut, dapat dibedakan menjadi dua golongan
yakni :
1. Faktor
internal(faktor dari dalam diri anak), yakni keadaan atau keadaan jasmani dam
rohani, faktor ini dibagi menjadi dua yaitu :
1.
Aspek
Fisiologis
Aspek
fisiologis meliputi hal-hal yang bersifat jasmaniah. Kondisi jasmani yang
menandai tingkat kebugaran organ-organ tubuh dan sendi-sendinya, dapat
mempengaruhi semangat dan intensitas anak dalam mengikuti pelajaran. Kondisi
organ khusus pada anak, seperti tingkat kesehatan indera pendengar dan indera
penglihat, juga sangat mempengaruhi kemampuan siswa dalam menyerap informasi
dan pengetahuan yang disajikan.
2.
Aspek
Psikologis
Aspek
psikologis meliputi hal-hal yang bersifat rohaniah. Pada umumnya faktor-faktor
rohaniah yang dipandang lebih esensial adalah sebagai berikut :
a.
Kecerdasan/Intelegensi
Intelegensi
pada umumnya diartikan sebagai kemampuan psiko-fisik untuk mereaksi rangsangan
atau untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya dengan cara yang tepat. Pada
umumnya tidak semua anak memiliki intelegensi yang sama dalam mempelajari suatu
mata pelajaran dan kecakapan-kecakapan yang lainnya, untuk menolong terjadinya
ketidakadilan yang terjadi antara anak yang memiliki intelegensi yang tinggi
dan anak yang berintelegensi dibawah rata-rata perlu adanya perhatian khusus
dari seorang guru yang profesional, sehingga anak itu tetap merasa adil dan
tidak merasa bosan ataupun tertinggal.
b.
Sikap
Sikap
(attitude) adalah gejala internal
yang berupa kecenderungan untuk mereaksi atau merespon dengan cara yang relatif
tetap terhadap objek orang, barang, dan sebagainya, baik secara positif maupun
negatif. Sikap anak dalam belajar dapat dipengaruhi oleh perasaan senang atau
tidak senang pada performan guru, pelajaran, atau lingkungan sekitarnya.
c.
Bakat
Secara
umum, bakat (aptitude) adalah
kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada
masa yang akan datang. Dalam perkembangan selanjutnya, bakat diartikan sebagai
kemampuan individu untuk melakukan tugas tertentu tanpa banyak bergantung pada
upaya pendidikan dan latihan. Bakat akan dapat mempengaruhi tinggi-rendahnya
prestasi belajar bidang-bidang studi tertentu. Oleh karena itu, sebagai
orangtua hendaknya menyekolahkan anak pada jurusan yang sesuai dengan bakat
yang dimiliki oleh anak tersebut, karena apabila orang tua terlalu memaksakan
kehendak pada akhirnya akan berpengaruh buruk terhadap kinerja akademik atau
hasil prestasi belajar anak.
d.
Minat
Secara
sederhana minat (interest) diartikan sebagai kecenderungan yang tinggi atau
keinginan yang besar terhadap sesuatu. Minat sama halnya dengan kecerdasan,
sikap dan bakat, karena memberi pengaruh terhadap aktivitas belajar, anak akan
menjadi tidak bersemangat atau bahkan tidak mau belajar. Oleh karena itu, dalam
konteks belajar di kelas, seorang guru atau pendidik lainnya perlu
membangkitkan minat anak agar tertarik terhadap materi pelajaran yang akan
dihadapainya atau dipelajarinya.
e.
Motivasi
Motivasi
merupakan pendorong seseorang untuk melakukan sesuatu hal dalam bidang tertentu
sehingga pada akhirnya orang tersebut dapat menjadi seorang spesialis dalam
bidang yang telah dipilihnya tersebut. Motivasi diberikan kepada anak oleh guru
atau orang tua, dimana motivasi ini ditujukan supaya dalam diri anak tersebut
muncul suatu dorongan atau hasrat untuk belajar, sehingga anak tersebut dapat
menyadari apa guna belajar dan tujuan yang hendak dicapai apabila diberi
perangsang dan motivasi yang baik dan sesuai.
2. Faktor
eksternal (faktor dari luar diri anak), faktor eksternal terdiri atas dua macam
yakni :
1.
Faktor
Lingkungan Sosial
Yang
termasuk dalam lingkungan sosial antara lain adalah lingkungankeluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat.
a.
Lingkungan
keluarga
Suasana
dan keadaan keluarga yang bermacam-macam
mau tidak mau turut serta dalam menentukan bagaimana dan sampai dimana
belajar dialami dan dicapai oleh anak-anak.
b.
Lingkungan
sekolah
Keberadaan
para guru, staf administrasi dan teman-teman sekelas dapat mempengaruhi
semangat belajar anak. Para guru atau staf administrasi yang menunjukkan sikap
dan perilaku yang memperlihatkan suri tauladan yang baik dalam hal belajar akan
menjadi daya dorong yang positif bagi kegiatan belajar anak.
c.
Lingkungan
masyarakat
Kondisi
lingkungan masyarakat tempat tinggal anak juga dapat mempengaruhi tingkat
belajarnya. Misalnya, kondisi lingkungan masyarakat yang kumuh akan sangat
mempengaruhi aktivitas belajar anak. Kesulitan yang akan dihadapi anak tersebut
antara lain adalah kesulitan untuk mencari teman belajar atau berdiskusi.[5]
2.
Faktor
Lingkungan non Sosial
Faktor-faktor
yang termasuk dalam lingkungan non sosial adalah sebagai berikut :
a.
Lingkungan
alamiah
Lingkungan
alamiah seperti kondisi udara yang segar, tidak panas dan tidak dingin, sinar
yang tidak terlalu silau atau tidak terlalu gelap, suasana yang sejuk dantenangmerupakan
faktor-faktor yang dapat memengaruhi aktivitas belajar siswa. Apabila lingkungan
alamiah mendukung proses belajar anak akan berlangsung dengan nyaman. Sebaliknya,
bila kondisi lingkungan alam tidak mendukung, proses belajar anak akan terhambat.
b.
Faktor
instrumental
Faktor instrumentalyaitu
perangkat belajar yang dapat digolongkan dua macam. Pertama, hardware, seperti
gedung sekolah, alat-alat belajar,fasilitas belajar, lapangan olah raga dan
lain sebagainya. Kedua, software, seperti kurikulum sekolah,
peraturan-peraturan sekolah, bukupanduan dan sebagainya. Ketersediaan serta
kelengkapan dari kedua perangkat belajar tersebut akan mempengaruhi aktivitas
belajar anak.
c. Faktor
materi pelajaran
Faktor materi pelajaran (materi
yang diajarkan) ini hendaknya disesuaikan dengan usia perkembangan anak begitu
juga denganmetode mengajar guru, disesuaikandengan kondisi perkembangan anak.[6]
C.
Proses
dan Fase Belajar
1.
Definisi
Proses Belajar
Proses
adalah kata yang berasal dari bahasa latin “processus”
yang berarti “berjalan ke depan”. Menurut Chaplin (1927), proses adalah Any change in any object or organism,
particularly a behavioral or psychological change (proses adalah suatu
perubahan yang menyangkut tingkah laku atau kejiwaan). Sedangkan menurut Reber
(1988) proses berarti cara-cara atau langkah-langkah khusus yang menimbulkan
beberapa perubahan hingga tercapainya hasil tertentu. Dari kedua pendapat
tersebut dapat kita tarik kesimpulan bahwa proses dapat diartikan sebagai
tahapan perubahan perilaku kognitif, afektif, dan psikomotor yang terjadi dalam
diri anak. Perubahan tersebut bersifat positif dalam arti berorientasi ke arah
yang lebih maju daripada keadaan sebelumnya.
2.
Fase-fase
dalam Proses Belajar
Karena
belajar merupakan aktivitas yang berproses, maka di dalamnya terjadi
perubahan-perubahan yang bertahap. Tahapan tersebut timbul melalui fase-fase
yang saling berhubungan secara berurutan dan fungsional.
Menurut
Jerome S. Brunner, dalam proses pembelajaran, anak menempuh tiga fase yaitu :
a.
Fase
informasi (tahap penerimaan materi)
Seorang
anak sedang menerima materi, diantara materi tersebut terdapat materi yang baru
dan berdiri sendiri, ada pula yang berfungsi menambah, memperhalus, dan
memperdalam pengetahuan yang sebelumnya telah dimiliki.
b.
Fase
transformasi (pengubahan materi dalam memori)
Dalam
fase ini, informasi yang telah diperoleh dalam fase sebelumnya dianalisis atau
diubah atau ditransformasikan menjadi bentuk yang abstrak atau konseptual
supaya kelak dapat dimanfaatkan bagi hal-hal yang lebih luas.
c.
Fase
evaluasi (penilaian penguasaan materi)
Dalam
fase evaluasi, anak menilai sendiri sampai sejauh mana pengetahuan (informasi
yang telah ditransformasikan) dapat dimanfaatkan untuk memecahkan masalah yang
dihadapi.
Menurut
Wittig (1981) dalam bukunya psychology of
learning, setiap proses belajar selalu berlangsung dalam tiga fase atau
tahapan yaitu :
a.
Acquisition
(tahap perolehan atau penerimaan informasi)
Pada
tahap ini, anak mulai menerima informasi sebagai stimulus dan melakukan respon
terhadapnya, sehingga menimbulkan pemahaman dan perilaku baru. Proses acquisition dalam belajar merupakan
tahapan yang paling mendasar. Kegagalan dalam tahap ini mengakibatkan kegagalan
pada tahap-tahap berikutnya.
b.
Storage
(tahap penerimaan informasi)
Pada
tahap ini, anak secara otomatis akan mengalami proses penyimpanan pemahaman dan
perilaku baru yang ia peroleh ketika menjalani proses acquisition.
c.
Retrieval
(tahap mendapatkan kembali informasi)
Tahap
retrieval pada dasarnya adalah upaya
atau peristiwa mental dalam mengungkapkan dan memproduksi kembali apa-apa yang
tersimpan dalam memori berupa informasi, simbol, pemahaman, dan perilaku
tertentu sebagai respons atau stimulus yang sedang dihadapi.[7]
D.
PERWUJUDTAN
PERILAKU BELAJAR
Dalam
hal memahami arti belajar dan esensi perubahan karena belajar, para ahli
sependapat atau sekurang – kurangnya terdapat titik temu diantara mereka
mengenai hal – hal yang prinsipal. Akan tetapi, mengenai apa yang dipelajari
siswa dan bagaimana perwujudannya, agaknya masih tetap merupakan teka – teki
yang sering menimbulkan silang pendapat yang cukup tajam diantara para ahli.
Manifestasi atau perwujudan perilaku belajar biasanya lebih sering tampak dalam
perubahan – perubahan sebagai berikut; 1) kebiasaan; 2) ketrampilan; 3)
pengamatan; 4) berpikir asosiatif dan daya ingat; 5) berpikir rasional; 6)
sikap; 7) inhibisi; 8) apresiasi; dan 9) tingkah laku efektif. Timbul-nya sikap
dan kesanggupan yang konstruktif, juga berpikir kritis dan kreatif, seperti
yang dikemukakan sebagian ahli, tidak penyusun uraikan secara ekspilisit
mengingat keterpaduannya dalam sembilan perwujudan di atas.
1. KEBIASAAN
Setiap siswa yang telah
mengalami proses belajar, kebiasaan – kebiasaannya akan tampak berubah. Menurut
burghardt (1973), kebiasaan itu timbul karena proses penyusutan kecenderungan
respons dengan menggunakan stimulasi yang berulang – ulang. Kebiasaan ini
terjadi karena karena prosedur pembiasaan seperti dalam classical dan operant
conditioning. Contoh: siswa yang belajar bahasa secara berkali – kali
menghindari kecenderungan penggunaan kata atau struktur yang keliru, akhirnya
akan terbiasa dengan penggunaan bahasa secara baik dan benar. Jadi berbahasa
dengan cara yang baik dan benar itulah perwujudan perilaku belajar siswa tadi.
2. KETRAMPILAN
Ketrampilan ialah
kegiatan yang berhubungan dengan urat-urat syaraf dan otot-otot (neuromuscular)
yang lazimnya tampak dalam kegiatan jasmaniah seperti menulis, mengetik, olah
raga, dan sebagainya. meskipun sifatnya motorik, namun ketrampilan itu
memerlukan koordinasi gerak yang teliti dan kesadaran yang tinggi dengan
demikian, siswa yang melakukan gerakan motorik dengan koordianasi dan kesadaran
yang rendah dapat dianggap kurang atau tidak terampil.
3. PENGAMATAN
Pengamatan artinya
proses menerima, menafsirkan, dan memberi arti rangsangan yang masuk melalui
indera-indera seperti mata dan telinga. Contohnya seorang anak yang baru
pertama kali mendengarkan radio akan mengira bahwa penyiar benar-benar berada
dalam kotak bersuara itu. Namun melalui proses belajar, lambat laun akan
diketahuinya juga bahwa yang ada dalam radio tersebut hanya suaranya, sedangkan
penyiarnya berada jauh di studio pemancar.
4. BERPIKIR
ASOSIATIF DAN DAYA INGAT
Berpikir asosiatif
adalah berpikir dengan car mengasosiasikan sesuatu dengan lainnya, dengan
menggunakan rangsangan dan respon. Disamping itu daya ingat pun merupakan
perwujudan belajar, sebab merupakan unsur pokok dalam berpikir asosiatif.
5. BERPIKIR
RASIONAL DAN KRITIS
Berpikir rasional dan
kritis adalah perwujudan perilaku belajar terutama yang bertalian dengan
pemecahan masalah. Dalam berpikir rasional, siswa dituntut menggunakan logika (
akal sehat ) untuk menentukan sebab – akibat. Dalam berpikir kritis, siswa
dituntut menggunakan strategi kognitif tertentu yang tepat untuk menguji
keandalan gagasan pemecahan masalah dan mengatasi kesalahan atau kekurangan
(Reber, 1988).
6. SIKAP
Dalam arti sempit sikap adalah pandangan
atau kecenderungan mental. Menurut Bruno (1987), sikap (attitude) adalah kecenderungan
yang relatif menetap untuk bereaksi dengan cara baik atau buruk terhadap orang
atau barang tertentu. Dalam hal ini perwujudan perilaku belajar siswa akan
ditandai dengan munculnya kecenderungan-kecenderungan baru yang telah berubah (
lebih maju dan lugas) terhadap tata nilai peristiwa dan sebagainya.
7. INHIBISI
Inhibisi adalah upaya pengurangan atau
pencegahan timbulnya suatu respon tertentu karena adanya proses respon lain
yang sedang berlangsung ( Reber, 1988). Dalam hal belajar maksudnya adalah
kesanggupan siswa untuk mengurangi atau menghentikan tindakan yang tidak perlu,
lalu memilih tindakan lainnya yang lebih baik ketika ia berinteraksi dengan
lingkungannya.
8. APRESIASI
Apresiasi berarti suatu pertimbangan
(judgment) mengenai arti penting atau nilai sesuatu. Dalam penerapannya
apresiasi sering diartikan sebagai penghargaan atau penilaian terhadap benda –
benda abstrak maupun konkret yang memiliki nilai luhur. Yang biasanya
ditunjukan pada karya seni budaya.
9. TINGKAH
LAKU AFEKTIF
Adalah tingkah laku yang menyangkut
keaneka ragaman perasaan seperti takut, marah, sedih, gembira, kecewa, benci
dan sebagainya. seorang siswa misalnya dapat dianggap sukses secara afektif
dalam belajar agama apabila ia telah menyenangi dan menyadari dengan ikhlas ajaran
agama yang ia pelajari, lalu menjadikannya menjadi “sistem nilai diri”.
Kemudian pada gilirannya ia menjadikan sistem nilai sebagai penutup hidup, baik
suka maupun duka (Darajat, 1985).
BAB III
PEMBAHASAN
Masalah
yang Berkaitan dengan Kegiatan Belajar
Siswa
yang lambat dalam belajar sering mangalami kesulitan, sebab setiap akhir
kegiataan belajar siswa belum mampu untuk menguasai seluruh materi yang
seharusnya sudah dikuasai, guru telah melanjutkan pada materi berikutnya.
Akibat lain yang timbul pada diri mungkin ia tidak ada perhatian terhadap
pelajaran itu atau tidak punya minat untuk belajar atau tidak bersemangat untuk
belajar. Oleh sebab itu guru hendaknya dapat memberikan perhatian khusus
terhadap siswa yang lambat dalam belajar atau mengalami masalah atau kesulitan
dalam mencapai tujuan pelajaran yang ditetapkan. Pada hakekatnya guru mempunyai
tanggung jawab yang lebih luas dari peranannya sebagai pengajar atau
pembelajar. Guru sebagai pembelajar bertanggung jawab untuk membantu siswa
dalam mencapai perkembangan yang optimal. Oleh sebab itu guru diharapkan dapat
menciptakan situasi kegiatan dalam belajar dan pembelajaran di sekolah yang
efektif dan efisien, sehingga siswa diharapkan mencapai hasil belajar yang optimal.
Untuk mencapai hasil belajar yang optimal bagi siswa, maka setiap kesulitan
atau masalah yang timbul dalam belajar seyogyanya dapat segera diidentifikasi
dan segera pula diberikan bantuan atau perbaikan. Ini berarti bahwa setiap guru
dituntut kemampuannya untuk mampu memberikan bantuan pada siswa yang mengalami
kesulitan atau masalah dalam belajar, materi yang di bahas dalam
masalah-masalah belajar dan pembelajaran.
BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Arti
kata belajar di dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia adalah suatu usaha memperoleh
kepandaian atau ilmu. Dari berbagai definisi belajar yang telah dikemukakan
para ahli dapat ditarik kesimpulan bahwa pada hakikatnya belajar adalah proses
penugasan tertentu sesuatu yang dipelajari. Penugasan tersebut dapat berupa
memahami (mengerti), merasakan, dan dapat melakukan sesuatu. Berhasil atau
tidaknya perubahan tersebut tergantung pada bermacam-macam faktor yaitu faktor
internal (faktor dari dalam diri anak) dan faktor eksternal (faktor dari luar
diri anak). Definisi proses belajar, proses adalah Any change in any object or organism, particularly a behavioral or
psychological change (proses adalah suatu perubahan yang menyangkut tingkah
laku atau kejiwaan). Dalam psikologi, teori belajar selalu dihubungkan dengan
stimulus respons dan teori-teori tingkah laku yang menjelaskan respons makhluk
hidup dihubungkan dengan stimulus yang didapat dalam lingkungannya.
A. SARAN
1. Hendaknya
makalah ini dapat bermanfaat dan dapat dijadikan sebagai salah satu sumer
pembelajaran.
2. Untuk
pendidik, sebaiknya selalu memberi contoh yang baik bagi anak didiknya dan
membimbing anak didiknya untuk terus giat belajar sehingga dapat meningkatkan
kemampuan dan ketrampilan mereka.
3. Untuk
terdidik, hendaknya selalu tekun dan rajin belajar. Selalu membiasakan diri
belajar agar melatih ketrampilan dan dapat menambah pengetahuan tentang apa
yang dipelajari nantinya.
DAFTAR RUJUKAN
AtmajaPrawira,Purwa.Psikologi Pendidikan dalam Perspektif Baru,Jojakarta,Ar-RuzzMedia,2013.
Purwanto,M.Ngalim.Psikologi Pendidikan,Bandung,PT Remaja
Rosdakarya,1990.
Syah,Muhibbin.Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru,Bandung,1995.
[1] PurwaAtmajaPrawira,Psikologi Pendidikan dalam Perspektif Baru,Jojakarta,Ar-RuzzMedia,2013:hlm.224.
[3] M.NgalimPurwanto,Psikologi Pendidikan,Bandung,PT Remaja
Rosdakarya,1990:hlm.84.
[4]PurwaAtmajaPrawira,Psikologi Pendidikan dalam Perspektif Baru,...,hlm.229.
[5]MuhibbinSyah,Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru,Bandung,1995:hlm.132-139.
[6]https://ekosuprapto.wordpress.com/2009/04/18/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-proses-belajar. diakses pada 8 Maret
2015 jam:09.27
[7]MuhibbinSyah,Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru,...,hlm.113-114.
0 komentar:
Posting Komentar