Jumat, 29 Desember 2017

Spi dakwah nabi muhammad

SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM
KELAS 4 SEMESTER 1
MAKALAH
Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah :
Pembelajaran Sejarah Pendidikan Islam
Dosen Pengampu :
Mashudi, M.Pd.I.















Oleh :
Kelompok 3
1. Nikmaturrohmah (1725143203)
2. Nindia Luluk’ul Janah (1725143211)
3. Lilis Hikmawati (1725143157)
4. Leni Nur Hafidah (1725143154)

KELAS 6 B
JURUSAN PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH (PGMI)
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN (FTIK)
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
(IAIN) TULUNGAGUNG
MARET  2017

DAKWAH NABI MUHAMMAD SAW
Oleh : Nikmaturrohmah (1725143203)

A. Masa Awal Dakwah Nabi Muhammad Saw
Ketika menyepi (berkhalwat) di Gua Hira Nabi Muhammad Saw menerima wahyu yang pertama dari Allah melalui Malaikat Jibril.  Pada saat itu Nabi Muhammad Saw berusia 40 tahun. Kemudian beliau menceritakan kejadian itu kepada istrinya Khadijah. Mendengar cerita tersebut, Khadijah mengajak Nabi Muhammad Saw untuk bertemu Waraqah bin Naufal (Sepupu Khadijah). Dalam pertemuan itu Waraqah menyampaikan bahwa Nabi Muhammad Saw adalah Nabi terakhir yang diutus oleh Allah Swt.
Setelah turun wahyu yang kedua yaitu Surah Al-Muddassir ayat 1-7, Nabi Muhammad Saw mulai  berdakwah kepada umat manusia.  Dakwah Nabi dilakukan dalam tiga fase :
1. Berdakwah Secara Sembunyi-Sembunyi.
Dalam fase dakwah tertutup ini, Nabi berdakwah dilingkungan kelurga sendiri dan dikalangan rekan-rekannya. Pada tahap awal ini, belasan orang dari keluarga dan sahabat dekatnya menerima dakwah beliau. Diantara mereka ialah Khadijah, Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Harisah, Abu Bakar Shiddiq, Ummu Aiman, Utsman bin Afan, Zubair bin Awam, Sa’ad bin Abu Waqqas, Thalhah bin Ubaidillah, Abu Ubaidah bin Jarrah, Arqam bin Abil Arqam dan beberapa penduduk Makkah lainnya dari kabilah Quraisy.  Mereka adalah orang-orang yang pertama masuk Islam, atau yang disebut sebagai Assabiqunal Awwalun. Dan mereka inilah yang mendapat gemblengan dan pelajaran tentang agama Islam dari Rasul sendiri ditempat yang tersembunyi, yaitu dirumah Arqam bin Abil Arqam.
2. Dakwah Terang-terangan di Lingkungan Keluarga Besar Bani Abdul Muthalib
Pada akhir tahun ketiga dari awal kerasulan, Nabi mendapat wahyu (QS Asy-Syu’ara 214-215).
“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat. Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman.” ( QS. Asy-Syu’ara [26]: 214-215 )
Namun pada saat itu semua keluarga Bani Abdul Muthallib menolak dakwah beliau  kecuali Ali.
3. Dakwah Terang-terangan Kepada Masyarakat Umum
Dakwah fase ketiga ini dimulai setelah turunnya QS. Al-Hijr: 94 dan QS. Al-Hijr: 89, yang artinya sebagai berikut :
“Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.”
( QS. Al-Hijr [15]: 94 )
“ Dan katakanlah (hai Muhammad), “ Sesungguhnya aku adalah peringatan yang nyata.” ( QS. Al-Hijr [15]: 89 ). 

Kemudian usaha yang dilakukan Rasulullah Saw ketika berdakwah secara terang-terangan yaitu:
1. Menggumpulkan Orang-orang ke Bukit Shafa.
2. Mengundang Para Pemuka Quraisy Untuk Perjamuan Makan.

Kemudian dari sekian usaha yang dilakukan untuk berdakwah secara terang-terangan, hanya sedikit orang yang mau menerima ajakan Nabi Muhammad Saw. Mereka adalah Hamzah bin Abdul Muthalib (paman Nabi Saw) dan Umar bin Khattab. Sebagian besar dari mereka menolak. Ada yang menolak secara halus, namun tidak sedikit yang menolak secara keras dan terang-terangan. Paman Nabi Muhammad Saw yang bernama Abu Lahab juga menolak dengan keras dan lantang. Ia sangat membenci Nabi Muhammad Saw dan mengancam Nabi Muhammad Saw apabila meneruskan dakwahnya. Hingga akhirnya turunlah wahyu Allah yaitu QS. Al-Lahab ayat 1-5 yang berisi tentang kebinasaan Abu Lahab dan Ummu Jamil isterinya.
Berikut Beberapa alasan kaum kafir Quraisy menolak ajaran Nabi Muhammad Saw adalah:
1. Persaingan merebut kekuasaan
2. Hilangnya kasta
3. Kaum Quraisy sangat menentang ajaran Islam karena mereka merasa memiliki status sosial yang tinggi.
4. Hilangnya perdagangan patung.

B. Tantangan Dakwah Nabi Muhammad Saw dan Para Sahabat
Tantangan yang paling berat ketika Nabi Muhammad Saw berdakwah adalah dari para penguasa Mekah, kaum bangsawan, dan para pemilik budak.
1. Tantangan dari paman Nabi Muhammad Saw
Paman nabi yang bernama Abu Lahab dan Abu Jahal sangat menentang dakwah Nabi Muhammad Saw, terutama Abu Lahab. Abu Lahab adalah orang yang kejam, ia selalu menyakiti dan menentang ajaran yang dibawa Nabi Muhammad Saw. Oleh karena itu turunlah QS al-Lahab 1-5 dalam surah Al-Lahab, disebutkan bahwa kelak Abu Lahab beserta istrinya yang akan masuk ke dalam neraka dengan membawa kayu bakar.
2. Penentangan dari Penguasa Mekah
Kaum Quraisy tidak ingin adanya persamaan derajat. Mereka khawatir kekuasaan dan usaha dagangnya terganggu oleh dakwah dari Nabi Muhammad Saw. Kemudian Kaum Quraisy memperalat paman Nabi Muhammad Saw. yang bernama Abu Thalib.  Kaum Quraisy menyuruh Abu halib agar memerintahkan Nabi Muhammad Saw menghentikan dakwahnya. Kaum Quraisy berjanji akan memberi imbalan kepada Abu halib apabila ia tidak menghalangi rencana mereka untuk membunuh Nabi Muhammad Saw. Namun hal itu ditolak oleh Abu halib.
3. Penyiksaan oleh para pemilik budak dan kafir Quraisy kepada para sahabat.
Tidak hanya Nabi Muhammad saja yang mendapatkan tantangan dalam berdakwah.  Serangan penghinaan dan penyiksaan juga dialami oleh para sahabat.
4. Pemboikotan Bani Hasyim dan Bani Muthallib
Kaum Kafir Quraisy melarang siapa pun untuk berhubungan dengan Bani Hasim dan Bani Mutahllib. Larangan (pemboikotan) ini berlangsung selama 3 tahun dan menimbulkan penderitaan yang luar biasa bagi Bani Hasyim dan Bani Muthallib.  Dan pemboikotan tersebut berakhir setelah Allah memerintahkan anai-anai memakan naskah pemboikotan yang digantungkan di  Ka’bah kecuali asma Allah.

C. Ketabahan dan Keteladanan Nabi Muhammad Dalam Berdakwah
Nabi Muhammad Saw memiliki akhlak yang sangat mulia, beliau memiliki budi pekerti yang luhur. Beliau tetap tabah dan sabar dalam berdakwah meskipun  mendapat banyak tantangan dan rintangan. Beliau selalu sabar dan tabah dalam keadaan apapun. Berikut sikap tabah yang dimiliki Muhammad Saw :
1. Beliau selalu tabah dalam menjalankan perintah Allah untuk berdakwah. Meskipun banyak tantangan beliau tetap melaksanakan dakwahnya.
2. Beliau selalu tabah dalam menjauhi larangan Allah Swt., dan tidak menyerah kepada suatu kebatilan.
3. Beliau selalu tabah dalam menghadapi musibah dan kesulitan. Musibah dan kesulitan tidak pernah membuat beliau gentar dalam berdakwah.

Selain itu, keteladanan dakwah Nabi Muhammad Saw  dapat dipetik dari cara dan sikap beliau dalam berdakwah adalah :
1. Nabi Muhammad Saw berdakwah dengan memberi contoh yang baik (uswah hasanah), baik lisan maupun perbuatan dalam kehidupan sehari-hari. Sebelum Nabi Muhammad Saw menyampaikan sesuatu, terlebih dahulu beliau melaksanakannya.
2. Nabi Muhammad Saw berdakwah dengan penuh kesabaran dan hati-hati, dan menggunakan bahasa yang mudah dipahami, bersikap halus, dan lemah lembut.
3. Nabi Muhammad Saw menganggap para pengikutnya sebagai sahabat. Islam telah menerapkan kesetaraan, sehingga cara ini semakin menimbulkan rasa simpati yang luar biasa.
4. Nabi Muhammad Saw selalu bersama para sahabat dalam keadaan suka maupun duka.
5. Nabi Muhammad Saw tidak pernah memaksakan kehendak dalam berdakwah. Beliau hanya menyampaikan ajaran dari Allah Swt.
6. Nabi Muhammad Saw tidak menggunakan kekerasan dalam berdakwah.

KEPRIBADIAN NABI MUHAMMAD SAW
Oleh : Nindia Luluk’ul Janah (1725143211)

A. Nabi Muhammad Saw Santun Dalam Menyampaikan Kebenaran
Nabi Muhammad Saw. merupakan seorang yang sopan dan santun dalam bertutur kata. Beliau jujur dan tidak pernah berdusta serta luhur budi pekertinya. Ada beberapa peristiwa penting yang dialami Nabi Muhammad Saw. Yang menunjukkan sikap santun beliau dalam menyampaikan kebenaran.
Ketika pada tahun 605 masyarakat Mekkah berjuang untuk membangun Ka’bah muncul konflik di kalangan beberapa suku mengenai siapa yang berhak untuk meletakkan “hajar aswad” di atas Ka’bah. Muhammad yang dipercaya atas tugas menyelesaikan konflik tersebut meminta agar didatangkan jubah dan meletakkan batu hitam di atas jubah yang telah dibentangkan di atas tanah. Ia kemudian meminta masing-masing klan untuk memegang pinggir jubah, kemudian mengangkatnya dan Muhammad mengambil batu tersebut untuk diletakkan di tempatnya.
Tindakan Muhammad tersebut ini jelas menunjukkan kepribadian beliau yang santun. Pertama, kesabaran karena Muhammad mau mendengar terlebih dulu mengenai problem yang sesungguhnya dialami oleh mereka. Kedua, dengan memberikan kesempatan yang sama kepada semua klan untuk memegang jubah, Muhammad menunjukkan signifkansi dan martabat kelompok-kelompok yang bertikai: bahwa penghormatan terhadap kemanusiaan setiap pihak harus diberikan. Ketiga, pengangkatan jubah secara bersama-sama menunjukkan bahwa kehormatan tidak harus diperoleh dengan mengorbankan kehormatan pihak lain, tetapi bisa dengan cara membaginya secara setara. Keempat, penghormatan martabat itu beliau lakukan dengan memberikan partisipasi yang sama di antara semua pihak yang terlibat konflik. Kelima, sikap kreatif untuk mencari media yang bisa menyelesaikan konflik.
Selain peristiwa tersebut, sejarah juga mencatat, ketika beliau diserang, disakiti, dilukai dan diperlakukan secara kasar bahkan dengan kekerasan oleh masyarakat saat itu, beliau tidak membalas perbuatan mereka. Jibril yang memimpin rombongan malaikat menemui Nabi dan menawarkan bantuan: “Wahai Nabi, jika engkau meminta kami untuk mencabut gunung-gunung, lalu menimpakannya kepada penduduk Taif yang kurang ajar itu, apa yang engkau minta akan kami akan lalukan”.
Nabi Muhammad SAW menjawab dengan santun, “Bahkan jika mereka tidak mau beriman dan taat kepada Tuhan, aku masih tetap berharap akan ada anak-anak dan cucu-cucu mereka yang menyembah Tuhan Yang Maha Esa. Biarkan saja mereka, karena mereka memang orang-orang yang tidak tahu; ‘Allāhumma ihdi qawmī fa innahum la ya’lamūn’ (Wahai Tuhan, berilah petunjuk kepada mereka, karena mereka tidak tahu)
Nabi Muhammad Saw. telah terbiasa santun dalam menyampaikan kebenaran. 
a. Santun dalam bicara
Dalam tutur kata Nabi Muhammad Saw. Selalu mengedepankan kefasihan dan keindahan. Tidak berbicara spontan namun penuh dengan persiapan. Nabi Muhammad Saw. terkenal sebagai orang yang paling fasih bahasanya, baik ucapannya dan teratur penjelasannya.
b. Santun dalam perbuatan
Nabi Muhammad Saw. selalu mengajarkan agar kita bersikap santun terhadap sesama, saling menghormati dan mengasihi. Beliau mengajarkan kepada kita untuk memperbanyak sedekah dan membantu terhadap orang yang sedang mengalami kesulitan serta peduli terhadap penderitaan anak yatim piatu, para janda yang lemah, dan orang-orang miskin.
c. Santun dalam pengambilan keputusan
Dalam pengambilan keputusan, Nabi Muhammad Saw. berpegang  teguh pada petunjuk dari Allah Swt. Beliau tidak pernah salah dalam menentukan sikap karena beliau adalah orang yang bijaksana dalam segala hal.
d. Santun ketika berhadapan dengan orang yang membencinya
Meskipun Nabi Muhammad Saw. selalu dihina, dicemooh, dicaci-maki,  dianggap sebagai orang gila, dilempari kotoran, berulang kali ingin dibunuh, namun beliau tetap pemaaf, tidak pernah ada dendam dalam diri beliau.
B. Nabi Muhammad Saw Sebagai Rahmad Bagi Seluruh Alam
Konsep Islam sebagai rahmatan li al-‘ālamīn tidak secara eksplisit disebutkan dalam al-Qur’an. Istilah yang disebutkan untuk menegaskan bahwa Islam adalah agama yang penuh ramat bagi sekalian alam adalah pengutusan Muhammad SAW sebagai rasul sebagaimana tercantum dalam Al-Qur'an surah Al-Anbiya ayat 107 berbunyi:

Artinya: “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”(Qs. Al-Anbiya/ 21 : 107)
Karena Nabi Muhammad SAW adalah pembawa Islam dan merupakan wujud nyata keterutusan beliau sebagai Rasul, maka tentu saja terbangunnya konsep Islam sebagai agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam memiliki dasar yang kuat.Kata “rahmat” berasal dari kata al-rahmah. Dalam al-Quran, kata “rahmah” tercantum sebanyak 88 kali, di antaranya berarti kelembutan hati, kecenderungan yang menyebabkan pengampunan, perbuatan yang memberikan kebaikan dan anugerah.
Tugas Nabi Muhammad Saw. sebagai rahmah bagi seluruh alam Firman Allah Swt surah al-Ahzab/33


Artinya:
“Wahai Nabi! Sesungguhnya Kami mengutusmu untuk menjadi saksi,  pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan untuk menjadi  penyeru kepada (agama) Allah dengan izin-Nya dan sebagai cahaya yang menerangi.” (Q.S. al-Aahzab/33 : 45-46)
Berdasarkan ayat di atas, maka Nabi Muhammad Saw. sebagai Rasul Allah mengemban tugas sebagai berikut: 
1. Syâhidan yaitu menjadi saksi bagi seluruh umat di hadapan Allah Swt. di hari akhir kelak.
2. Mubasysyiran yaitu pemberi kabar gembira kepada umat yang beriman, bahwa mereka kelak akan masuk surga jika menjalankan perintah Allah Swt. dan Rasul-Nya.
3. Nadziran Yaitu pemberi peringatan kepada orang yang tidak beriman bahwa mereka akan dimasukkan kedalam neraka karena tidak mau menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya.
4. Dâ’iyan Ilâ Allah yaitu penyeru kepada agama Allah Swt. agar mau memeluk agama Islam.
5. Sirâjan Munîran
yaitu cahaya yang menerangi umat manusia yang hidup dalam kegelapan dengan ajaran Islam.
HIJRAH PARA SAHABAT NABI MUHAMMAD SAW KE HABASYAH
Oleh : Lilis Hikmawati (1725143157)

A. Peristiwa Hijrah Ke Habasyah
Sementara itu, setiap kabilah Quraisy menyiksa warganya yang masuk Islam. Tekanan terhadap kaum Muslimin pun bertambah keras, hingga Usman bin Affan dan Ruqayyah binti Rasulillah, isterinya, serta Zubair bin Awwam, berpikir-pikir untuk pergi meninggalkan Makkah guna menyelamatkan agamanya. Ketika gagasan ini disampaikan kepada Rasulullah, beliau pun bersabda:
“Seyogianya kalian hijah ke negeri Habasyah, yang memiliki raja yang tidak suka menganiaya orang. Habasyah adalah negeri yang aman. Tinggallah disana, hingga Allah swt. melonggarkan kita dari tekanan-tekanan yang kalian rasakan sekarang ini”.
Maka berangkatlah para pengikut Muhammad itu ke Habasyah.  Mereka meninggalkan Makkah di kesunyian malam di kala orang-orang Quraisy terlena. Mereka menuju laut, terus naik kapal yang membawa mereka ke Habasyah. Tentusaja orang-orang Quraisysangat marah mendengar ke pergian kaum Muslimin itu. Lalu mereka pun berusaha mengejar dan mencarinya. Namun tidak berhasil, sebab kaum Muslimin telah naik kapal dan telah berlindung kepada Raja Habasyah yang baik hati.

B. Sebab-Sebab Nabi Muhammad Saw Menganjurkan Para Sahabat Hijrah Ke Habasyah
Setiap hari Nabi dan para sahabatnya menghadapi penganiayaan baru. Misalnya pada suatu hari ‘Uqbah bin Abi Mu’it melihat Nabi berthawaf, lalu ia menyiksa Nabi Muhammad SAW. Ia menjerat leher Nabi dengan serbannya dan menyeret beliau ke luar masjid. Kemudian beberapa orang datang membebaskan Nabi karena takut kepada Bani Hasyim. Penyiksaan dan penganiayaan terhadap Nabi yang dilakukan oleh pamannya (Abu Lahab) dan Istrinya (Ummi Jamil) tidak ada taranya. Nabi bertetangga dengan mereka, namun mereka tak pernah berhenti melemparkan barang- barang kotor kepadanya. Suatu hari mereka melemparkan kotoran domba ke kepala Nabi. Untuk itu Hamzah membalas dengan menimpakan barang yang sama ke kepala Abu Lahab.
Orang- orang Quraish tidak hanya menyiksa Nabi, namun mereka juga menyiksa kaum muslimin. Misalnya mereka menyiksa ‘Ammār bin Yasir dan kedua orang tuanya (Yasir dan Sumayyah). Ammār bin Yasir adalah seorang maula (bekas budak yang hidup di bawah naungan bekas tuannya) Bani Makhzum. Ia termasuk orang yang paling awal masuk Islam bersama kedua orang tuanya. Ia diseret kaum musyrikin, di bawa ke tengah padang pasir yang sedang panas- panasnya kemudian disiksa dengan kejam. Pada saat mereka disiksa luar biasa itu, Rasulullah SAW lewat dan beliau berkata, “Hai keluarga Yasir, tabahlah! Allah telah menjanjikan surga bagi kalian”.
Dalam penyiksaan tersebut, Yasir tewas dan istrinya, Sumaiyah memaki- maki Abu Jahal sehingga Abu Jahal langsung menusuk jantung wanita tersebut dengan tombak hingga mati. Sumaiyah adalah wanita pertama yang gugur mempertahankan imannya. Setelah itu giliran Ammār mendapatkan penyiksaan yang tak kalah beratnya. Adakalanya ia di jemur telentang diatas pasir menghadap terik matahari, kadang- kadang dadanya di tindih dengan batu yang besar, bahkan berulang- ulang ditenggelamkan ke dalam kubangan. Kaum musyrikin yang menyiksanya mengancam, “Engkau tidak akan aku lepaskan sebelum engkau memaki- maki Muhammad, atau sebelum engkau memuji- muji Lata dan Uzza”.
Untuk menyelamatkan nyawanya, Ammār terpaksa menuruti permintaan mereka. Setelah mereka pergi, Ammār segera menemui Rasulullah sambil menangis. Rasulullah bertanya, “Mengapa engkau menangis?” Ammār menjawab, “Ya Rasulullah kabar buruk”. Ammār kemudian menceritakan apa yang baru dialaminya. Rasulullah SAW bertanya lagi, “Bagaimanakah hatimu?” Ammār menjawab, “Hatiku merasa tentram karena iman”. Rasulullah lalu menjawab, “Kalau mereka hendak menyikasamu lagi, ulangilah!”. Saat itu turunlah ayat yang artinya, “Barang siapa yang kafir kepada Allah sesudah ia beriman (Dia mendapat kemurkaan Allah) kecuali yang dipaksa (menjadi kafir) padahal hatinya tetap tenang dan beriman.”(QS. Al-Naḥl: 106).57 Begitulah kaum musyrikin menyiksa orang- orang yang beriman.
Tidak hanya keluarga Yasir yang disiksa, namun Bilal juga. Bilal adalah seorang budak Umayyah bin Khalaf. Ia adalah salah satu musuh sengit Nabi. Ia menyiksa Bilal dengan menelentangkannya dalam keadaan telanjang di atas pasir panas di saat- saat paling terik, kemudian menindihkan batu panas besar di dadanya seraya berkata, “Aku tidak akan membebaskan engkau sampai engkau mati seperti ini atau menolak agama Muhammad dan menyembah Lata dan ‘Uzza”. Sekalipun menerima siksaan, Bilal menjawab dengan dua kata yang jelas membuktikan kekokohan imannya. Ia berkata, “Ahad! Ahad!” (Yakni Allah itu Esa). Demikianlah sehingga Waraqah bin Naufal, pendeta Arab, menangisi keadaan Bilal seraya berkata kepada Umayyah, “Demi Allah, Bila anda membunuhnya dalam kondisi demikian, aku akan jadikan kuburannya tempat keramat untuk dikunjungi peziarah.” Ketika itu Umayyah malah bertindak lebih keras. Ia melingkarkan tali di leher Bilal dan menyerahkannya kepada anak- anak untuk di seret di jalanan.
Dengan maksud menjauhi kejahatan dan kekejian orang Quraish dan memperoleh suasana damai dalam menyembah Allah Yang Esa, mereka memutuskan untuk meninggalkan Mekkah, meninggalkan harta, usaha, sanak dan kerabat. Tetapi mereka belum tahu apa yang mesti dilakukan dan dimana harus pergi, karena mereka melihat kemusyrikan melanda seluruh Jazirah Arab dan tak ada kesempatan untuk mengumandangkan Asma Allah atau memperkenalkan syari’at Islam. Karena itu mereka menyerahkan masalahnya kepada Nabi.
Maka ketika para sahabatnya meminta nasehat menyangkut hijrah, Nabi menjawab, “Ke Etiopia akan lebih mantap. Penguasanya kuat dan adil, dan tidak ada yang ditindas di sana. Tanah negeri itu baik dan bersih, dan anda boleh tinggal disana sampai Allah menolong anda.”  Kata- kata Nabi berdampak luar biasa sehingga mereka yang benar- benar siap segera mengepak barang menuju Jeddah pada malam hari tanpa sepengetahuan kaum musyrik. Beberapa orang dari mereka berangkat dan yang lain diam- diam menyembunyikan keislaman mereka.
Sedangkan menurut Ibnu Hishām, hijrah ke Habasyah merupakan perintah Nabi.  Ketika Rasulullah SAW melihat penderitaan yang dialami oleh sahabat- sahabatnya, sedang beliau dalam keadaan segar bugar karena kedudukan beliau di sisi Allah dan di sisi pamannya, Abu Ṭālib, sementara beliau tidak mampu melindungi mereka terhadap penderitaan yang di alami, maka beliau bersabda kepada mereka, “Bagaimana kalau kalian berangkat ke Negeri Habasyah, karena Rajanya tidak mengizinkan seorang pun di dzalimi di dalamnya, dan Negeri tersebut adalah Negeri yang benar, hingga Allah memberi jalan keluar bagi penderitaan yang kalian alami?”Kemudian kaum Muslimin dari sahabat- sahabat Rasulullah SAW berangkat ke Habasyah karena takut mendapat penderitaan yang lebih berat, dan lari kepada Allah dengan membawa agamanya. Itulah hijrah pertama yang terjadi dalam Islam.

C. Kesabaran Para Sahabat Nabi Muhammad Saw Pada Peristiwa Hijrah Ke Habasyah
Berkenaan dengan terus-menerusnya siksaan kaum musyrikin kepada orang-orang yang masuk Islam, terutama orang-orang lemah, Rasulullah SAW meminta para sahabatnya untuk hijrah ke Habasyi demi menyelamatkan agama mereka di sisi raja Najasyi yang akan menjamin keamanan mereka, terutama keaman sebagian besar kaum muslimin yang mengkhawatirkan diri dan keluarga mereka dari kaum Quraisy. Dan peristiwa ini tepatnya terjadi pada tahun kelima dari masa kenabian. Lalu berhijrahlah serombongan kaum muslimin yang berjumlah kurang lebih 70 orang beserta keluarga mereka ke Habsyi. Di antara mereka terdapat Utsman bin Affan beserta istrinya, Ruqayah. Namun orang-orang Quraisy berusaha merusak kedudukan mereka di Habsyi. Maka mereka mengirim hadiah untuk raja dan memintanya agar menyerahkan kaum muslimin kepada mereka. Mereka mengatakan kepada raja bahwa kaum muslimin menjelek-jelekkan Isa dan ibundanya. Tatkala raja Najasyi menanyakan hal tersebut kepada kaum muslimin, dan merekapun menjelaskan pandangan Islam tentang Isa dengan sebenar-benarnya, maka raja mengamankan mereka dan menolak untuk menyerahkan mereka kepada orang-orang Quraisy.Kaum Quraisy tak henti-hentinya  mengusik ketenangan kaum muslimin yang sudah berada di Habasyah, namun dengan keyakinan dan keteguhan iman mereka, kaum muslim mampu membuat raja Najasyi takjub dan menolak kaum Quraisy yang berusaha merebut kaum Muslim untuk kembali ke Makkah. Bahkan raja Najasyi mengembalikan semua hadiah yang dikirimkan oleh kaum Quraisy kepadanya.

HIJRAH NABI MUHAMMAD SAW KE KOTA THAIF
Oleh : Leni Nurhafidah (1725143154)
Kota Thaif terletak di sebelah tenggara kota Mekah. Kota Thaif adalah kota yang sangat bersejarah dalam perkembangan Agama Islam. Jarak kota Thaif sampai Mekah kurang lebih 65 km.
A. Peristiwa Hijrah ke Thaif
Kota Thaif merupakan salah satu kota yang diistimewakan oleh Allah Swt. Ayat diatas menerangkan bahwa Kota Thaif dianggap setara kedudukannya dengan Kota Mekah.
Peristiwa hijrah Nabi Muhammad Saw. ke Thaif terjadi pada Bulan Syawal tahun kesepuluh kenabian. Siapakah yang menemani Nabi Muhammad Saw. hijrah ke Thaif? Nabi Muhammad Saw. pergi ke Thaif ditemani oleh Zaid bin Harisah.
Nabi Muhammad pergi ke Thaif dengan tujuan untuk mencari bantuan keluarganya yang ada di Thaif, yaitu Kinanah yang bergelar Abu Jalil, dan Mas’ud yang bergelar Abu Kuhal, serta Habib.  Setelah tiba di Thaif, Nabi Muhammad Saw. menuju ke  rumah para pemuka Bani Tsaqif yang merupakan orang berkuasa di daerah tersebut. Kemudian Nabi Muhammad Saw. menyampaikan tentang Islam dan mengajak mereka agar beriman kepada Allah.
Kedatangan nabi Muhammad ke Thaif mendapat tanggapan dari kaum Quraisy mereka menolak secara mentah-mentah dan menjawab dengan kasar. Nabi Muhammad Saw. bangkit dan meninggalkan mereka. Nabi berharap agar berita kedatangannya tidak diketahui  kaum Quraisy, tetapi mereka menolak. Mereka justru mengerahkan kaum penjahat serta para budak untuk menyerang dan melempari Nabi dengan batu. Hal ini mengakibatkan cidera pada kedua kaki Nabi Muhammad Saw. Zaid bin Haritsah pun berusaha keras melindungi beliau, tetapi ia sendiri terluka.
Ternyata Penduduk Thaif sudah dihasut oleh Abu Jahal untuk tidak mempercayai Nabi Muhammad Saw. Kemudian Nabi Muhammad Saw. meninggalkan Thaif untuk menghindari kejaran penduduk dengan kondisi pakaian yang berlumuran darah dan penuh luka. Dengan demikian hijrah ke Thaif yang bertujuan untuk mendapat bala bantuan dari saudara Nabi dapat dikatakan tidak berhasil.

B. Sebab-sebab Nabi Muhammad Saw Hijrah ke Thaif
Penyebab Nabi Muhammad Saw. hijrah ke Thaif  di antaranya adalah karena tekanan kaum kafir Quraisy kepada Nabi Muhammad Saw. Kaum kafir Quraisy semakin sering mengganggu dan menyakiti Nabi Muhammad Saw. Setelah  Khadijah dan Abu Thalib wafat, mereka menganggap tidak ada lagi orang yang disegani yang melindungi beliau. Kemudian Nabi Muhammad Saw. hijrah ke Thaif dengan harapan dapat menyebarkan Agama Islam dengan tenang dan damai. Beliau berharap
Akan mendapat dukungan dan bantuan dari saudara-saudaranya. Namun kenyataannya berbeda, beliau justru dihina, diusir, dan dilempari batu hingga terluka oleh penduduk Thaif, hingga Nabi Muhammad Saw. kembali lagi ke Mekah.

C. Kesabaran Nabi Muhammad Saw. Dalam Peristiwa Hijrah ke Thaif.
Kesabaran Nabi Muhammad Saw. selalu diuji. Pada awalnya beliau mendapatkan ujian harus berpisah dari orang yang begitu berarti baginya, yaitu Abu Talib dan Khadijah. Meski dalam keadaan  sedih yang mendalam, namun Nabi Muhammad Saw. tetap melanjutkan dakwahnya. Ujian dan cobaan kembali datang ketika Nabi Muhammad Saw. hijrah ke Thaif. Nabi Muhammad Saw. memperoleh perlakuan kasar, hinaan dan pengusiran, bahkan beliau diserang hingga terluka. Dalam kondisi seperti itu  datanglah Malaikat Jibril.
Malaikat Jibril meminta izin kepada Nabi Muhammad Saw. untuk menghukum penduduk Thaif yang telah berlaku kejam kepada beliau. Namun beliau menolak. Beliau justru berdo’a “Allahummahdi qawmî fainnahum lâ ya’lamûn”, artinya:  “Ya Allah berilah hidayah kepada kaumku ini, karena sesungguhnya mereka tidak tahu.” Bahkan beliau tak  lupa mendoakan agar keturunan masyarakat Thaif kelak menyembah Allah Swt.
Tujuan Nabi Muhammad saat diusir dari Thaif Ketika penduduk Thaif menolak dakwahnya, Nabi Saw. memutuskan untuk kembali ke Mekah. Sebelum sampai di kota Mekah, beliau beristirahat sambil membersihkan lukanya di suatu perkebunan anggur milik Uthbah dan Syaibah, anak Rabi’ah. Apa yang terjadi ketika Nabi Muhammad Saw. beristirahat di kebun anggur? Setelah Rasulullah Saw sampai di kebun milik Uthbah bin Rabi’ah, kaum penjahat dan para budak yang mengejarnya berhenti dan kembali.
Tetapi tanpa diketahui ternyata beliau sedang diperhatikan oleh dua orang anak Rabi’ah yang sedang berada didalam kebun. Setelah merasa tenang di bawah naungan pohon anggur itu, Rasulullah Saw. mengangkat kepalanya seraya berdo’a.  Mendengar do’a Rasulullah Saw. hati kedua anak lelaki Rabi’ah pemilik kebun itu tergerak. Mereka merasa iba. Mereka memanggil pelayannya yang bernama Addas dan menyuruhnya mengambilkan buah anggur, dan memberikannya kepada Rasulullah. Ketika Addas meletakkan anggur itu di hadapan Rasulullah Saw. dan meminta beliau untuk memakannya, Rasulullah Saw. mengulurkan tangannya seraya mengucapkan, “Bismillah.“ Kemudian dimakannya. Addas terkejut mendengar ucapan Rasulullah. Nabi pun menceritakan bahwa dirinya adalah seorang Nabi yang diutus Allah untuk menyampaikan Agama Islam seperti halnya nabi sebelumnya. Seketika itu juga Addas berlutut di hadapan Rasulullah Saw. lalu mencium kepala, kedua tangan dan kedua kaki beliau. Alhamdulillah, Addas masuk Islam. Subhanallah! begitu mulia sifat Nabi Muhammad Saw. Meskipun hatinya terluka, namun Nabi Muhammad Saw. tidak dendam kepada penduduk Thaif.


DAFTAR RUJUKAN

Al-Ghazali, Muhammad. 2003. Sejarah Perjalanan Hidup Muhammad, Yogyakarta: Mitra Pustaka.
Al-Hasani, Abul Hasan‘Ali an-Nadwi. 2008. As-Sirah an-Nabawiyyah (Sejarah
Lengkap Nabi Muhammad Saw), terj. Muhammad Halabi Hamdi, et.all. Yogyakarta: Mardiyah Press.
Baidowi, Ahmad. 2015. “Prinsip Dakwah Tanpa Kekerasan Dalam Al-Qur’an”. Hermeneutik, Volume  9 No.2
Hamid Judah As-Sahhar, Abdul. 1996. Sejarah Nabi Muhammad Periode Mekkah, Bandung: Mizan
Hisyam, Ibnu. 1990. Sīrah al-Nabawiyah. Lebanon: Darul Kitab Al-Arabi.
Judah, Abdul Hamid As Sahhar. 1996. Sejarah Nabi Muhammad: Periode Makkah, terj. Hasan Edrus. Bandung: Mizan.
Kementerian Agama. 2014. Sejarah Kebudayaan Islam: Buku Siwa Kelas 4 MI. Jakarta: Kementerian Agama Republik Indonesia.
Machasin.2012. Islam Dinamis Islam Harmonis: Lokalitas, Pluralisme, Terorisme Yogyakarta: LkiS
Subhani. 1996. Al-Risalah: Sejarah Kehidupan Rasulullah SAW. Jakarta: Lentera.
Timbul. 2010. Buku Ajar Sejarah Peradaban Islam: Untuk Mahasiswa STAIN
Tulungagung. Tulungagung: Diktat Tidak Diterbitkan.

0 komentar:

Posting Komentar