Jumat, 29 Desember 2017

Spi dakwah nabi muhammad

SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM
KELAS 4 SEMESTER 1
MAKALAH
Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah :
Pembelajaran Sejarah Pendidikan Islam
Dosen Pengampu :
Mashudi, M.Pd.I.















Oleh :
Kelompok 3
1. Nikmaturrohmah (1725143203)
2. Nindia Luluk’ul Janah (1725143211)
3. Lilis Hikmawati (1725143157)
4. Leni Nur Hafidah (1725143154)

KELAS 6 B
JURUSAN PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH (PGMI)
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN (FTIK)
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
(IAIN) TULUNGAGUNG
MARET  2017

DAKWAH NABI MUHAMMAD SAW
Oleh : Nikmaturrohmah (1725143203)

A. Masa Awal Dakwah Nabi Muhammad Saw
Ketika menyepi (berkhalwat) di Gua Hira Nabi Muhammad Saw menerima wahyu yang pertama dari Allah melalui Malaikat Jibril.  Pada saat itu Nabi Muhammad Saw berusia 40 tahun. Kemudian beliau menceritakan kejadian itu kepada istrinya Khadijah. Mendengar cerita tersebut, Khadijah mengajak Nabi Muhammad Saw untuk bertemu Waraqah bin Naufal (Sepupu Khadijah). Dalam pertemuan itu Waraqah menyampaikan bahwa Nabi Muhammad Saw adalah Nabi terakhir yang diutus oleh Allah Swt.
Setelah turun wahyu yang kedua yaitu Surah Al-Muddassir ayat 1-7, Nabi Muhammad Saw mulai  berdakwah kepada umat manusia.  Dakwah Nabi dilakukan dalam tiga fase :
1. Berdakwah Secara Sembunyi-Sembunyi.
Dalam fase dakwah tertutup ini, Nabi berdakwah dilingkungan kelurga sendiri dan dikalangan rekan-rekannya. Pada tahap awal ini, belasan orang dari keluarga dan sahabat dekatnya menerima dakwah beliau. Diantara mereka ialah Khadijah, Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Harisah, Abu Bakar Shiddiq, Ummu Aiman, Utsman bin Afan, Zubair bin Awam, Sa’ad bin Abu Waqqas, Thalhah bin Ubaidillah, Abu Ubaidah bin Jarrah, Arqam bin Abil Arqam dan beberapa penduduk Makkah lainnya dari kabilah Quraisy.  Mereka adalah orang-orang yang pertama masuk Islam, atau yang disebut sebagai Assabiqunal Awwalun. Dan mereka inilah yang mendapat gemblengan dan pelajaran tentang agama Islam dari Rasul sendiri ditempat yang tersembunyi, yaitu dirumah Arqam bin Abil Arqam.
2. Dakwah Terang-terangan di Lingkungan Keluarga Besar Bani Abdul Muthalib
Pada akhir tahun ketiga dari awal kerasulan, Nabi mendapat wahyu (QS Asy-Syu’ara 214-215).
“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat. Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman.” ( QS. Asy-Syu’ara [26]: 214-215 )
Namun pada saat itu semua keluarga Bani Abdul Muthallib menolak dakwah beliau  kecuali Ali.
3. Dakwah Terang-terangan Kepada Masyarakat Umum
Dakwah fase ketiga ini dimulai setelah turunnya QS. Al-Hijr: 94 dan QS. Al-Hijr: 89, yang artinya sebagai berikut :
“Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.”
( QS. Al-Hijr [15]: 94 )
“ Dan katakanlah (hai Muhammad), “ Sesungguhnya aku adalah peringatan yang nyata.” ( QS. Al-Hijr [15]: 89 ). 

Kemudian usaha yang dilakukan Rasulullah Saw ketika berdakwah secara terang-terangan yaitu:
1. Menggumpulkan Orang-orang ke Bukit Shafa.
2. Mengundang Para Pemuka Quraisy Untuk Perjamuan Makan.

Kemudian dari sekian usaha yang dilakukan untuk berdakwah secara terang-terangan, hanya sedikit orang yang mau menerima ajakan Nabi Muhammad Saw. Mereka adalah Hamzah bin Abdul Muthalib (paman Nabi Saw) dan Umar bin Khattab. Sebagian besar dari mereka menolak. Ada yang menolak secara halus, namun tidak sedikit yang menolak secara keras dan terang-terangan. Paman Nabi Muhammad Saw yang bernama Abu Lahab juga menolak dengan keras dan lantang. Ia sangat membenci Nabi Muhammad Saw dan mengancam Nabi Muhammad Saw apabila meneruskan dakwahnya. Hingga akhirnya turunlah wahyu Allah yaitu QS. Al-Lahab ayat 1-5 yang berisi tentang kebinasaan Abu Lahab dan Ummu Jamil isterinya.
Berikut Beberapa alasan kaum kafir Quraisy menolak ajaran Nabi Muhammad Saw adalah:
1. Persaingan merebut kekuasaan
2. Hilangnya kasta
3. Kaum Quraisy sangat menentang ajaran Islam karena mereka merasa memiliki status sosial yang tinggi.
4. Hilangnya perdagangan patung.

B. Tantangan Dakwah Nabi Muhammad Saw dan Para Sahabat
Tantangan yang paling berat ketika Nabi Muhammad Saw berdakwah adalah dari para penguasa Mekah, kaum bangsawan, dan para pemilik budak.
1. Tantangan dari paman Nabi Muhammad Saw
Paman nabi yang bernama Abu Lahab dan Abu Jahal sangat menentang dakwah Nabi Muhammad Saw, terutama Abu Lahab. Abu Lahab adalah orang yang kejam, ia selalu menyakiti dan menentang ajaran yang dibawa Nabi Muhammad Saw. Oleh karena itu turunlah QS al-Lahab 1-5 dalam surah Al-Lahab, disebutkan bahwa kelak Abu Lahab beserta istrinya yang akan masuk ke dalam neraka dengan membawa kayu bakar.
2. Penentangan dari Penguasa Mekah
Kaum Quraisy tidak ingin adanya persamaan derajat. Mereka khawatir kekuasaan dan usaha dagangnya terganggu oleh dakwah dari Nabi Muhammad Saw. Kemudian Kaum Quraisy memperalat paman Nabi Muhammad Saw. yang bernama Abu Thalib.  Kaum Quraisy menyuruh Abu halib agar memerintahkan Nabi Muhammad Saw menghentikan dakwahnya. Kaum Quraisy berjanji akan memberi imbalan kepada Abu halib apabila ia tidak menghalangi rencana mereka untuk membunuh Nabi Muhammad Saw. Namun hal itu ditolak oleh Abu halib.
3. Penyiksaan oleh para pemilik budak dan kafir Quraisy kepada para sahabat.
Tidak hanya Nabi Muhammad saja yang mendapatkan tantangan dalam berdakwah.  Serangan penghinaan dan penyiksaan juga dialami oleh para sahabat.
4. Pemboikotan Bani Hasyim dan Bani Muthallib
Kaum Kafir Quraisy melarang siapa pun untuk berhubungan dengan Bani Hasim dan Bani Mutahllib. Larangan (pemboikotan) ini berlangsung selama 3 tahun dan menimbulkan penderitaan yang luar biasa bagi Bani Hasyim dan Bani Muthallib.  Dan pemboikotan tersebut berakhir setelah Allah memerintahkan anai-anai memakan naskah pemboikotan yang digantungkan di  Ka’bah kecuali asma Allah.

C. Ketabahan dan Keteladanan Nabi Muhammad Dalam Berdakwah
Nabi Muhammad Saw memiliki akhlak yang sangat mulia, beliau memiliki budi pekerti yang luhur. Beliau tetap tabah dan sabar dalam berdakwah meskipun  mendapat banyak tantangan dan rintangan. Beliau selalu sabar dan tabah dalam keadaan apapun. Berikut sikap tabah yang dimiliki Muhammad Saw :
1. Beliau selalu tabah dalam menjalankan perintah Allah untuk berdakwah. Meskipun banyak tantangan beliau tetap melaksanakan dakwahnya.
2. Beliau selalu tabah dalam menjauhi larangan Allah Swt., dan tidak menyerah kepada suatu kebatilan.
3. Beliau selalu tabah dalam menghadapi musibah dan kesulitan. Musibah dan kesulitan tidak pernah membuat beliau gentar dalam berdakwah.

Selain itu, keteladanan dakwah Nabi Muhammad Saw  dapat dipetik dari cara dan sikap beliau dalam berdakwah adalah :
1. Nabi Muhammad Saw berdakwah dengan memberi contoh yang baik (uswah hasanah), baik lisan maupun perbuatan dalam kehidupan sehari-hari. Sebelum Nabi Muhammad Saw menyampaikan sesuatu, terlebih dahulu beliau melaksanakannya.
2. Nabi Muhammad Saw berdakwah dengan penuh kesabaran dan hati-hati, dan menggunakan bahasa yang mudah dipahami, bersikap halus, dan lemah lembut.
3. Nabi Muhammad Saw menganggap para pengikutnya sebagai sahabat. Islam telah menerapkan kesetaraan, sehingga cara ini semakin menimbulkan rasa simpati yang luar biasa.
4. Nabi Muhammad Saw selalu bersama para sahabat dalam keadaan suka maupun duka.
5. Nabi Muhammad Saw tidak pernah memaksakan kehendak dalam berdakwah. Beliau hanya menyampaikan ajaran dari Allah Swt.
6. Nabi Muhammad Saw tidak menggunakan kekerasan dalam berdakwah.

KEPRIBADIAN NABI MUHAMMAD SAW
Oleh : Nindia Luluk’ul Janah (1725143211)

A. Nabi Muhammad Saw Santun Dalam Menyampaikan Kebenaran
Nabi Muhammad Saw. merupakan seorang yang sopan dan santun dalam bertutur kata. Beliau jujur dan tidak pernah berdusta serta luhur budi pekertinya. Ada beberapa peristiwa penting yang dialami Nabi Muhammad Saw. Yang menunjukkan sikap santun beliau dalam menyampaikan kebenaran.
Ketika pada tahun 605 masyarakat Mekkah berjuang untuk membangun Ka’bah muncul konflik di kalangan beberapa suku mengenai siapa yang berhak untuk meletakkan “hajar aswad” di atas Ka’bah. Muhammad yang dipercaya atas tugas menyelesaikan konflik tersebut meminta agar didatangkan jubah dan meletakkan batu hitam di atas jubah yang telah dibentangkan di atas tanah. Ia kemudian meminta masing-masing klan untuk memegang pinggir jubah, kemudian mengangkatnya dan Muhammad mengambil batu tersebut untuk diletakkan di tempatnya.
Tindakan Muhammad tersebut ini jelas menunjukkan kepribadian beliau yang santun. Pertama, kesabaran karena Muhammad mau mendengar terlebih dulu mengenai problem yang sesungguhnya dialami oleh mereka. Kedua, dengan memberikan kesempatan yang sama kepada semua klan untuk memegang jubah, Muhammad menunjukkan signifkansi dan martabat kelompok-kelompok yang bertikai: bahwa penghormatan terhadap kemanusiaan setiap pihak harus diberikan. Ketiga, pengangkatan jubah secara bersama-sama menunjukkan bahwa kehormatan tidak harus diperoleh dengan mengorbankan kehormatan pihak lain, tetapi bisa dengan cara membaginya secara setara. Keempat, penghormatan martabat itu beliau lakukan dengan memberikan partisipasi yang sama di antara semua pihak yang terlibat konflik. Kelima, sikap kreatif untuk mencari media yang bisa menyelesaikan konflik.
Selain peristiwa tersebut, sejarah juga mencatat, ketika beliau diserang, disakiti, dilukai dan diperlakukan secara kasar bahkan dengan kekerasan oleh masyarakat saat itu, beliau tidak membalas perbuatan mereka. Jibril yang memimpin rombongan malaikat menemui Nabi dan menawarkan bantuan: “Wahai Nabi, jika engkau meminta kami untuk mencabut gunung-gunung, lalu menimpakannya kepada penduduk Taif yang kurang ajar itu, apa yang engkau minta akan kami akan lalukan”.
Nabi Muhammad SAW menjawab dengan santun, “Bahkan jika mereka tidak mau beriman dan taat kepada Tuhan, aku masih tetap berharap akan ada anak-anak dan cucu-cucu mereka yang menyembah Tuhan Yang Maha Esa. Biarkan saja mereka, karena mereka memang orang-orang yang tidak tahu; ‘Allāhumma ihdi qawmī fa innahum la ya’lamūn’ (Wahai Tuhan, berilah petunjuk kepada mereka, karena mereka tidak tahu)
Nabi Muhammad Saw. telah terbiasa santun dalam menyampaikan kebenaran. 
a. Santun dalam bicara
Dalam tutur kata Nabi Muhammad Saw. Selalu mengedepankan kefasihan dan keindahan. Tidak berbicara spontan namun penuh dengan persiapan. Nabi Muhammad Saw. terkenal sebagai orang yang paling fasih bahasanya, baik ucapannya dan teratur penjelasannya.
b. Santun dalam perbuatan
Nabi Muhammad Saw. selalu mengajarkan agar kita bersikap santun terhadap sesama, saling menghormati dan mengasihi. Beliau mengajarkan kepada kita untuk memperbanyak sedekah dan membantu terhadap orang yang sedang mengalami kesulitan serta peduli terhadap penderitaan anak yatim piatu, para janda yang lemah, dan orang-orang miskin.
c. Santun dalam pengambilan keputusan
Dalam pengambilan keputusan, Nabi Muhammad Saw. berpegang  teguh pada petunjuk dari Allah Swt. Beliau tidak pernah salah dalam menentukan sikap karena beliau adalah orang yang bijaksana dalam segala hal.
d. Santun ketika berhadapan dengan orang yang membencinya
Meskipun Nabi Muhammad Saw. selalu dihina, dicemooh, dicaci-maki,  dianggap sebagai orang gila, dilempari kotoran, berulang kali ingin dibunuh, namun beliau tetap pemaaf, tidak pernah ada dendam dalam diri beliau.
B. Nabi Muhammad Saw Sebagai Rahmad Bagi Seluruh Alam
Konsep Islam sebagai rahmatan li al-‘ālamīn tidak secara eksplisit disebutkan dalam al-Qur’an. Istilah yang disebutkan untuk menegaskan bahwa Islam adalah agama yang penuh ramat bagi sekalian alam adalah pengutusan Muhammad SAW sebagai rasul sebagaimana tercantum dalam Al-Qur'an surah Al-Anbiya ayat 107 berbunyi:

Artinya: “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”(Qs. Al-Anbiya/ 21 : 107)
Karena Nabi Muhammad SAW adalah pembawa Islam dan merupakan wujud nyata keterutusan beliau sebagai Rasul, maka tentu saja terbangunnya konsep Islam sebagai agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam memiliki dasar yang kuat.Kata “rahmat” berasal dari kata al-rahmah. Dalam al-Quran, kata “rahmah” tercantum sebanyak 88 kali, di antaranya berarti kelembutan hati, kecenderungan yang menyebabkan pengampunan, perbuatan yang memberikan kebaikan dan anugerah.
Tugas Nabi Muhammad Saw. sebagai rahmah bagi seluruh alam Firman Allah Swt surah al-Ahzab/33


Artinya:
“Wahai Nabi! Sesungguhnya Kami mengutusmu untuk menjadi saksi,  pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan untuk menjadi  penyeru kepada (agama) Allah dengan izin-Nya dan sebagai cahaya yang menerangi.” (Q.S. al-Aahzab/33 : 45-46)
Berdasarkan ayat di atas, maka Nabi Muhammad Saw. sebagai Rasul Allah mengemban tugas sebagai berikut: 
1. Syâhidan yaitu menjadi saksi bagi seluruh umat di hadapan Allah Swt. di hari akhir kelak.
2. Mubasysyiran yaitu pemberi kabar gembira kepada umat yang beriman, bahwa mereka kelak akan masuk surga jika menjalankan perintah Allah Swt. dan Rasul-Nya.
3. Nadziran Yaitu pemberi peringatan kepada orang yang tidak beriman bahwa mereka akan dimasukkan kedalam neraka karena tidak mau menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya.
4. Dâ’iyan Ilâ Allah yaitu penyeru kepada agama Allah Swt. agar mau memeluk agama Islam.
5. Sirâjan Munîran
yaitu cahaya yang menerangi umat manusia yang hidup dalam kegelapan dengan ajaran Islam.
HIJRAH PARA SAHABAT NABI MUHAMMAD SAW KE HABASYAH
Oleh : Lilis Hikmawati (1725143157)

A. Peristiwa Hijrah Ke Habasyah
Sementara itu, setiap kabilah Quraisy menyiksa warganya yang masuk Islam. Tekanan terhadap kaum Muslimin pun bertambah keras, hingga Usman bin Affan dan Ruqayyah binti Rasulillah, isterinya, serta Zubair bin Awwam, berpikir-pikir untuk pergi meninggalkan Makkah guna menyelamatkan agamanya. Ketika gagasan ini disampaikan kepada Rasulullah, beliau pun bersabda:
“Seyogianya kalian hijah ke negeri Habasyah, yang memiliki raja yang tidak suka menganiaya orang. Habasyah adalah negeri yang aman. Tinggallah disana, hingga Allah swt. melonggarkan kita dari tekanan-tekanan yang kalian rasakan sekarang ini”.
Maka berangkatlah para pengikut Muhammad itu ke Habasyah.  Mereka meninggalkan Makkah di kesunyian malam di kala orang-orang Quraisy terlena. Mereka menuju laut, terus naik kapal yang membawa mereka ke Habasyah. Tentusaja orang-orang Quraisysangat marah mendengar ke pergian kaum Muslimin itu. Lalu mereka pun berusaha mengejar dan mencarinya. Namun tidak berhasil, sebab kaum Muslimin telah naik kapal dan telah berlindung kepada Raja Habasyah yang baik hati.

B. Sebab-Sebab Nabi Muhammad Saw Menganjurkan Para Sahabat Hijrah Ke Habasyah
Setiap hari Nabi dan para sahabatnya menghadapi penganiayaan baru. Misalnya pada suatu hari ‘Uqbah bin Abi Mu’it melihat Nabi berthawaf, lalu ia menyiksa Nabi Muhammad SAW. Ia menjerat leher Nabi dengan serbannya dan menyeret beliau ke luar masjid. Kemudian beberapa orang datang membebaskan Nabi karena takut kepada Bani Hasyim. Penyiksaan dan penganiayaan terhadap Nabi yang dilakukan oleh pamannya (Abu Lahab) dan Istrinya (Ummi Jamil) tidak ada taranya. Nabi bertetangga dengan mereka, namun mereka tak pernah berhenti melemparkan barang- barang kotor kepadanya. Suatu hari mereka melemparkan kotoran domba ke kepala Nabi. Untuk itu Hamzah membalas dengan menimpakan barang yang sama ke kepala Abu Lahab.
Orang- orang Quraish tidak hanya menyiksa Nabi, namun mereka juga menyiksa kaum muslimin. Misalnya mereka menyiksa ‘Ammār bin Yasir dan kedua orang tuanya (Yasir dan Sumayyah). Ammār bin Yasir adalah seorang maula (bekas budak yang hidup di bawah naungan bekas tuannya) Bani Makhzum. Ia termasuk orang yang paling awal masuk Islam bersama kedua orang tuanya. Ia diseret kaum musyrikin, di bawa ke tengah padang pasir yang sedang panas- panasnya kemudian disiksa dengan kejam. Pada saat mereka disiksa luar biasa itu, Rasulullah SAW lewat dan beliau berkata, “Hai keluarga Yasir, tabahlah! Allah telah menjanjikan surga bagi kalian”.
Dalam penyiksaan tersebut, Yasir tewas dan istrinya, Sumaiyah memaki- maki Abu Jahal sehingga Abu Jahal langsung menusuk jantung wanita tersebut dengan tombak hingga mati. Sumaiyah adalah wanita pertama yang gugur mempertahankan imannya. Setelah itu giliran Ammār mendapatkan penyiksaan yang tak kalah beratnya. Adakalanya ia di jemur telentang diatas pasir menghadap terik matahari, kadang- kadang dadanya di tindih dengan batu yang besar, bahkan berulang- ulang ditenggelamkan ke dalam kubangan. Kaum musyrikin yang menyiksanya mengancam, “Engkau tidak akan aku lepaskan sebelum engkau memaki- maki Muhammad, atau sebelum engkau memuji- muji Lata dan Uzza”.
Untuk menyelamatkan nyawanya, Ammār terpaksa menuruti permintaan mereka. Setelah mereka pergi, Ammār segera menemui Rasulullah sambil menangis. Rasulullah bertanya, “Mengapa engkau menangis?” Ammār menjawab, “Ya Rasulullah kabar buruk”. Ammār kemudian menceritakan apa yang baru dialaminya. Rasulullah SAW bertanya lagi, “Bagaimanakah hatimu?” Ammār menjawab, “Hatiku merasa tentram karena iman”. Rasulullah lalu menjawab, “Kalau mereka hendak menyikasamu lagi, ulangilah!”. Saat itu turunlah ayat yang artinya, “Barang siapa yang kafir kepada Allah sesudah ia beriman (Dia mendapat kemurkaan Allah) kecuali yang dipaksa (menjadi kafir) padahal hatinya tetap tenang dan beriman.”(QS. Al-Naḥl: 106).57 Begitulah kaum musyrikin menyiksa orang- orang yang beriman.
Tidak hanya keluarga Yasir yang disiksa, namun Bilal juga. Bilal adalah seorang budak Umayyah bin Khalaf. Ia adalah salah satu musuh sengit Nabi. Ia menyiksa Bilal dengan menelentangkannya dalam keadaan telanjang di atas pasir panas di saat- saat paling terik, kemudian menindihkan batu panas besar di dadanya seraya berkata, “Aku tidak akan membebaskan engkau sampai engkau mati seperti ini atau menolak agama Muhammad dan menyembah Lata dan ‘Uzza”. Sekalipun menerima siksaan, Bilal menjawab dengan dua kata yang jelas membuktikan kekokohan imannya. Ia berkata, “Ahad! Ahad!” (Yakni Allah itu Esa). Demikianlah sehingga Waraqah bin Naufal, pendeta Arab, menangisi keadaan Bilal seraya berkata kepada Umayyah, “Demi Allah, Bila anda membunuhnya dalam kondisi demikian, aku akan jadikan kuburannya tempat keramat untuk dikunjungi peziarah.” Ketika itu Umayyah malah bertindak lebih keras. Ia melingkarkan tali di leher Bilal dan menyerahkannya kepada anak- anak untuk di seret di jalanan.
Dengan maksud menjauhi kejahatan dan kekejian orang Quraish dan memperoleh suasana damai dalam menyembah Allah Yang Esa, mereka memutuskan untuk meninggalkan Mekkah, meninggalkan harta, usaha, sanak dan kerabat. Tetapi mereka belum tahu apa yang mesti dilakukan dan dimana harus pergi, karena mereka melihat kemusyrikan melanda seluruh Jazirah Arab dan tak ada kesempatan untuk mengumandangkan Asma Allah atau memperkenalkan syari’at Islam. Karena itu mereka menyerahkan masalahnya kepada Nabi.
Maka ketika para sahabatnya meminta nasehat menyangkut hijrah, Nabi menjawab, “Ke Etiopia akan lebih mantap. Penguasanya kuat dan adil, dan tidak ada yang ditindas di sana. Tanah negeri itu baik dan bersih, dan anda boleh tinggal disana sampai Allah menolong anda.”  Kata- kata Nabi berdampak luar biasa sehingga mereka yang benar- benar siap segera mengepak barang menuju Jeddah pada malam hari tanpa sepengetahuan kaum musyrik. Beberapa orang dari mereka berangkat dan yang lain diam- diam menyembunyikan keislaman mereka.
Sedangkan menurut Ibnu Hishām, hijrah ke Habasyah merupakan perintah Nabi.  Ketika Rasulullah SAW melihat penderitaan yang dialami oleh sahabat- sahabatnya, sedang beliau dalam keadaan segar bugar karena kedudukan beliau di sisi Allah dan di sisi pamannya, Abu Ṭālib, sementara beliau tidak mampu melindungi mereka terhadap penderitaan yang di alami, maka beliau bersabda kepada mereka, “Bagaimana kalau kalian berangkat ke Negeri Habasyah, karena Rajanya tidak mengizinkan seorang pun di dzalimi di dalamnya, dan Negeri tersebut adalah Negeri yang benar, hingga Allah memberi jalan keluar bagi penderitaan yang kalian alami?”Kemudian kaum Muslimin dari sahabat- sahabat Rasulullah SAW berangkat ke Habasyah karena takut mendapat penderitaan yang lebih berat, dan lari kepada Allah dengan membawa agamanya. Itulah hijrah pertama yang terjadi dalam Islam.

C. Kesabaran Para Sahabat Nabi Muhammad Saw Pada Peristiwa Hijrah Ke Habasyah
Berkenaan dengan terus-menerusnya siksaan kaum musyrikin kepada orang-orang yang masuk Islam, terutama orang-orang lemah, Rasulullah SAW meminta para sahabatnya untuk hijrah ke Habasyi demi menyelamatkan agama mereka di sisi raja Najasyi yang akan menjamin keamanan mereka, terutama keaman sebagian besar kaum muslimin yang mengkhawatirkan diri dan keluarga mereka dari kaum Quraisy. Dan peristiwa ini tepatnya terjadi pada tahun kelima dari masa kenabian. Lalu berhijrahlah serombongan kaum muslimin yang berjumlah kurang lebih 70 orang beserta keluarga mereka ke Habsyi. Di antara mereka terdapat Utsman bin Affan beserta istrinya, Ruqayah. Namun orang-orang Quraisy berusaha merusak kedudukan mereka di Habsyi. Maka mereka mengirim hadiah untuk raja dan memintanya agar menyerahkan kaum muslimin kepada mereka. Mereka mengatakan kepada raja bahwa kaum muslimin menjelek-jelekkan Isa dan ibundanya. Tatkala raja Najasyi menanyakan hal tersebut kepada kaum muslimin, dan merekapun menjelaskan pandangan Islam tentang Isa dengan sebenar-benarnya, maka raja mengamankan mereka dan menolak untuk menyerahkan mereka kepada orang-orang Quraisy.Kaum Quraisy tak henti-hentinya  mengusik ketenangan kaum muslimin yang sudah berada di Habasyah, namun dengan keyakinan dan keteguhan iman mereka, kaum muslim mampu membuat raja Najasyi takjub dan menolak kaum Quraisy yang berusaha merebut kaum Muslim untuk kembali ke Makkah. Bahkan raja Najasyi mengembalikan semua hadiah yang dikirimkan oleh kaum Quraisy kepadanya.

HIJRAH NABI MUHAMMAD SAW KE KOTA THAIF
Oleh : Leni Nurhafidah (1725143154)
Kota Thaif terletak di sebelah tenggara kota Mekah. Kota Thaif adalah kota yang sangat bersejarah dalam perkembangan Agama Islam. Jarak kota Thaif sampai Mekah kurang lebih 65 km.
A. Peristiwa Hijrah ke Thaif
Kota Thaif merupakan salah satu kota yang diistimewakan oleh Allah Swt. Ayat diatas menerangkan bahwa Kota Thaif dianggap setara kedudukannya dengan Kota Mekah.
Peristiwa hijrah Nabi Muhammad Saw. ke Thaif terjadi pada Bulan Syawal tahun kesepuluh kenabian. Siapakah yang menemani Nabi Muhammad Saw. hijrah ke Thaif? Nabi Muhammad Saw. pergi ke Thaif ditemani oleh Zaid bin Harisah.
Nabi Muhammad pergi ke Thaif dengan tujuan untuk mencari bantuan keluarganya yang ada di Thaif, yaitu Kinanah yang bergelar Abu Jalil, dan Mas’ud yang bergelar Abu Kuhal, serta Habib.  Setelah tiba di Thaif, Nabi Muhammad Saw. menuju ke  rumah para pemuka Bani Tsaqif yang merupakan orang berkuasa di daerah tersebut. Kemudian Nabi Muhammad Saw. menyampaikan tentang Islam dan mengajak mereka agar beriman kepada Allah.
Kedatangan nabi Muhammad ke Thaif mendapat tanggapan dari kaum Quraisy mereka menolak secara mentah-mentah dan menjawab dengan kasar. Nabi Muhammad Saw. bangkit dan meninggalkan mereka. Nabi berharap agar berita kedatangannya tidak diketahui  kaum Quraisy, tetapi mereka menolak. Mereka justru mengerahkan kaum penjahat serta para budak untuk menyerang dan melempari Nabi dengan batu. Hal ini mengakibatkan cidera pada kedua kaki Nabi Muhammad Saw. Zaid bin Haritsah pun berusaha keras melindungi beliau, tetapi ia sendiri terluka.
Ternyata Penduduk Thaif sudah dihasut oleh Abu Jahal untuk tidak mempercayai Nabi Muhammad Saw. Kemudian Nabi Muhammad Saw. meninggalkan Thaif untuk menghindari kejaran penduduk dengan kondisi pakaian yang berlumuran darah dan penuh luka. Dengan demikian hijrah ke Thaif yang bertujuan untuk mendapat bala bantuan dari saudara Nabi dapat dikatakan tidak berhasil.

B. Sebab-sebab Nabi Muhammad Saw Hijrah ke Thaif
Penyebab Nabi Muhammad Saw. hijrah ke Thaif  di antaranya adalah karena tekanan kaum kafir Quraisy kepada Nabi Muhammad Saw. Kaum kafir Quraisy semakin sering mengganggu dan menyakiti Nabi Muhammad Saw. Setelah  Khadijah dan Abu Thalib wafat, mereka menganggap tidak ada lagi orang yang disegani yang melindungi beliau. Kemudian Nabi Muhammad Saw. hijrah ke Thaif dengan harapan dapat menyebarkan Agama Islam dengan tenang dan damai. Beliau berharap
Akan mendapat dukungan dan bantuan dari saudara-saudaranya. Namun kenyataannya berbeda, beliau justru dihina, diusir, dan dilempari batu hingga terluka oleh penduduk Thaif, hingga Nabi Muhammad Saw. kembali lagi ke Mekah.

C. Kesabaran Nabi Muhammad Saw. Dalam Peristiwa Hijrah ke Thaif.
Kesabaran Nabi Muhammad Saw. selalu diuji. Pada awalnya beliau mendapatkan ujian harus berpisah dari orang yang begitu berarti baginya, yaitu Abu Talib dan Khadijah. Meski dalam keadaan  sedih yang mendalam, namun Nabi Muhammad Saw. tetap melanjutkan dakwahnya. Ujian dan cobaan kembali datang ketika Nabi Muhammad Saw. hijrah ke Thaif. Nabi Muhammad Saw. memperoleh perlakuan kasar, hinaan dan pengusiran, bahkan beliau diserang hingga terluka. Dalam kondisi seperti itu  datanglah Malaikat Jibril.
Malaikat Jibril meminta izin kepada Nabi Muhammad Saw. untuk menghukum penduduk Thaif yang telah berlaku kejam kepada beliau. Namun beliau menolak. Beliau justru berdo’a “Allahummahdi qawmî fainnahum lâ ya’lamûn”, artinya:  “Ya Allah berilah hidayah kepada kaumku ini, karena sesungguhnya mereka tidak tahu.” Bahkan beliau tak  lupa mendoakan agar keturunan masyarakat Thaif kelak menyembah Allah Swt.
Tujuan Nabi Muhammad saat diusir dari Thaif Ketika penduduk Thaif menolak dakwahnya, Nabi Saw. memutuskan untuk kembali ke Mekah. Sebelum sampai di kota Mekah, beliau beristirahat sambil membersihkan lukanya di suatu perkebunan anggur milik Uthbah dan Syaibah, anak Rabi’ah. Apa yang terjadi ketika Nabi Muhammad Saw. beristirahat di kebun anggur? Setelah Rasulullah Saw sampai di kebun milik Uthbah bin Rabi’ah, kaum penjahat dan para budak yang mengejarnya berhenti dan kembali.
Tetapi tanpa diketahui ternyata beliau sedang diperhatikan oleh dua orang anak Rabi’ah yang sedang berada didalam kebun. Setelah merasa tenang di bawah naungan pohon anggur itu, Rasulullah Saw. mengangkat kepalanya seraya berdo’a.  Mendengar do’a Rasulullah Saw. hati kedua anak lelaki Rabi’ah pemilik kebun itu tergerak. Mereka merasa iba. Mereka memanggil pelayannya yang bernama Addas dan menyuruhnya mengambilkan buah anggur, dan memberikannya kepada Rasulullah. Ketika Addas meletakkan anggur itu di hadapan Rasulullah Saw. dan meminta beliau untuk memakannya, Rasulullah Saw. mengulurkan tangannya seraya mengucapkan, “Bismillah.“ Kemudian dimakannya. Addas terkejut mendengar ucapan Rasulullah. Nabi pun menceritakan bahwa dirinya adalah seorang Nabi yang diutus Allah untuk menyampaikan Agama Islam seperti halnya nabi sebelumnya. Seketika itu juga Addas berlutut di hadapan Rasulullah Saw. lalu mencium kepala, kedua tangan dan kedua kaki beliau. Alhamdulillah, Addas masuk Islam. Subhanallah! begitu mulia sifat Nabi Muhammad Saw. Meskipun hatinya terluka, namun Nabi Muhammad Saw. tidak dendam kepada penduduk Thaif.


DAFTAR RUJUKAN

Al-Ghazali, Muhammad. 2003. Sejarah Perjalanan Hidup Muhammad, Yogyakarta: Mitra Pustaka.
Al-Hasani, Abul Hasan‘Ali an-Nadwi. 2008. As-Sirah an-Nabawiyyah (Sejarah
Lengkap Nabi Muhammad Saw), terj. Muhammad Halabi Hamdi, et.all. Yogyakarta: Mardiyah Press.
Baidowi, Ahmad. 2015. “Prinsip Dakwah Tanpa Kekerasan Dalam Al-Qur’an”. Hermeneutik, Volume  9 No.2
Hamid Judah As-Sahhar, Abdul. 1996. Sejarah Nabi Muhammad Periode Mekkah, Bandung: Mizan
Hisyam, Ibnu. 1990. Sīrah al-Nabawiyah. Lebanon: Darul Kitab Al-Arabi.
Judah, Abdul Hamid As Sahhar. 1996. Sejarah Nabi Muhammad: Periode Makkah, terj. Hasan Edrus. Bandung: Mizan.
Kementerian Agama. 2014. Sejarah Kebudayaan Islam: Buku Siwa Kelas 4 MI. Jakarta: Kementerian Agama Republik Indonesia.
Machasin.2012. Islam Dinamis Islam Harmonis: Lokalitas, Pluralisme, Terorisme Yogyakarta: LkiS
Subhani. 1996. Al-Risalah: Sejarah Kehidupan Rasulullah SAW. Jakarta: Lentera.
Timbul. 2010. Buku Ajar Sejarah Peradaban Islam: Untuk Mahasiswa STAIN
Tulungagung. Tulungagung: Diktat Tidak Diterbitkan.

Rabu, 27 Desember 2017

Faktor penghambat dalam penulisan kreatif

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Kreatifitas adalah sebuah kata yang mudah diucapkan tetapi susah untuk diartikan, bahkan susah untuk dijalankan dalam kehidupan keseharian bagi yang belum terbiasa dan yang masih terbelenggu dengan pikiran bahwa kreativitas itu harus menghasilkan ciptaan yang luar biasa hebat. Pada dasarnya setiap orang didunia di lahirkan dengan potensi kreatif.  Kreatif itu sendiri dapat di identifikasi atau dikenali dengan cara dipupuk melalui pendidikan yang tepat. Misalnya saja jika seseorang ingin terampil dalam menulis dan ingin mengembangkan hasil karyanya maka orang tersebut yang pertama harus mempunyai minat terhadap kegiatan yang dilakukannya lalu kemudian di dukung dengan teori yang di dapat dari proses pendidikan.
Namun jika seseorang yang pada awalnya sudah tidak menyukai kegiatan menulis, tentunya ketika diminta untuk membuat suatu karya atau tulisan tentunya akan mengalami kesulitan dan membutuhkan waktu sedikit lebih lama dibandingkan dengan mereka yang sudah terbiasa menulis. tapi juga tidak dapat dipungkiri bahwa orang yang sudah terbiasa menulis pun terkadang juga sulit mengungkapkan pikirannya dalam bentuk tulisan.
Hal ini bisa jadi dipengaruhi olh beberapa faktor yang menghamabat munculnya ide seseorang, sebab emunculkan kreatifitas seseorang khususnya dalam hal menulis tentunya tidak semudah yang dibayangkan, tentunya terdapat faktor-faktor yang mendukung dan faktor-faktor yang menghambat dalam proses kreatif itu sendiri. Selanjutnya dalam makalah ini akan membahas mengenai faktor-faktor yang dapat meghambat dalam proses kreatif/ penulisan kreatif.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka dapat diambil rumusan masalah sebagi berikut:
1. Apa faktor yang menghambat dalam proses kreatif/ penulisan kreatif?

C. Tujuan Pembahasan Masalah
Dari rumusan masalah di atas maka tujuan penulisan makalah ini adalah :
1. Untuk mengetahui faktor yang menghambat dalam proses kreatif/penulisan kreatif.

D. Batasan Masalah
Makalah ini hanya membahsa mengenai faktor yang menghambat dalam proses kreatif/ penulisan kreatif.
























BAB II
PEMBAHASAN
A. Faktor Penghambat dalam Penulisan Kreatif
1. Rasa Malu dan Minder.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) malu berarti merasa sangat tidak enak hati (hina, rendah, dan sebagainya) karena berbuat sesuatu yang kurang baik (kurang benar, berbeda dengan kebiasaan, mempunyai cacat atau kekurangan. Sedangkan minder berarti rendah diri.  Rasa malu dan minder akan dapat menutup kreativitas seseorang. Orang yang malu keberaniannya memudar dan patah semangat. Sedangkan, minder membuat diri menjadi kecil dan, nyali menjadi menciut. Dalam keadaan seperti ini orang tidak lagi berani menatap dunia dan mata penuh.
Malu dan minder pada dasarnya bersumber dari bayangan. Karena membayangkan sesuatu secara berlebihan, maka timbulah rasa malu dan minder. Membayangkan diri sangat bodoh membuat orang tidak berani mengeluarkan pendapat. Membayangkan orang lain terlalu pandai, terlalu agung, terlalu kaya atau terlalu apa saja membuat seseorang tidak mampu menghadapinya secara wajar. Bayangan pada umumnya terlihat lebih besar dan lebih berat dari kenyataan.
Untuk itu sikapi dan terima oranglain, peristiwa dan sebagainya secara wajar. Sebab pada dasarnya setiap orang pasti memiliki kelebihan di samping kekurangan dan kelemahan.

2. Kritik
Kritik dalam KBBI diartikan sebagai kecaman atau tanggapan, kadang-kadang disertai uraian dan pertimbangan baik buruk terhadap suatu hasil karya.  Bagi seorang penulis kritik adalah balikan yang sangat berharga bagi kesempurnaan ide berikutnya untuk itu terimalah kritik dengan hati terbuka. Karya yang besar memerlukan kritik yang tajam. Karya (sastra)  dan  kritik adalah dua dunia yang berbeda. Orang yang mengkritik belum tentu menghasilkan karya (ide). Untuk itu seorang penulis (pemilik ide) tidak perlu berkecil hati menerima kritikan. Kritik menunjukkan bahwa karya itu memiliki nilai tertentu, sehingga orang merasa perlu untuk mengkritiknya.
Namun terkadang kritik yang pedas dan berlebihan apalagi dilandasi oleh sentiment pribadi dapat membunuh kreativitas seseorang yang menerimanya. Kritik yang seperti ini jelas tidak obyektif. Untuk itu tidak perlu ditanggapi secara sungguh-sungguh.

3. Menunda Waktu.
Kebiasaan menunda waktu dapat menumpulkan kreativitas. Orang yang menunda pencatatan suatu ide adalah orang yang melakukan kesalahan besar. Mengapa demikian ? sebab, ide cepat hilang sehingga kalau tidak segera dicatat ia akan hilang kembali.
Penundaan catatan ide berarti menunda munculnya ide yang lain. Semakin sering menunda mencatat ide berarti semakin ide yang gagal untuk dimunculkan. Ide tidak usah sampai benar-benar jelas dan siap untuk ditulis. Sebab ide sering muncul segera dan samar-samar, dan baru menjadi jelas setelah dicatat dan direnungkan kembali.

4. Anggapan yang Keliru Tentang Kreativitas dan Menulis Kreatif.
Sebenarnya menulis itu mudah dan satu-satunya kegiatan yang tidak butuh bakat. Andreas Harefa bahkan bilang kalau menulis adalah kemampuan tingkat dasar. Kenapa? Karena siapa yang bisa membaca pasti bisa menulis. Sungguh, seperti ucapan Thomas Alfa Edison, bakat itu 1% dan 99% sisanya adalah kerja keras. Menulis itu in potentia, maksudnya jadi potensi untuk semua orang. Buktinya, semua orang dengan kemauan dan tekad menjadi penulis pasti bisa menjadi penulis. Dan buktinya semua penulis hebat pasti akan berkata bahwa dulu juga mereka penulis pemula yang sering mengalami hambatan.
Namun saat ini masih banyak orang yang beranggapan bahwa kreativitas hanya milik orang-orang yang berbakat saja. Mereka lupa, bahwa orang-orang yang kreatif dan para sastrawan itu menjadi terkenal dan berhasil karena mereka tekun berlatih dan bekerja keras. Perlu diingat bahwa semua orang memiliki bekal kreativitas dan kemampuan menulis kreatif. Hanya permasalahannya, tidak semua orang berkesempatan dan berkemauan untuk memupuk dan mengembangkannya.
Anggapan yang salah tentang kreativitas dan menulis kreatif tersebut membuat orang patah semangat sebelum mencoba. Yang penting ialah, coba saja lebih dulu. Masalah berhasil atau tidak itu urusan belakang.

5. Minat yang Kurang.
Minat sangat menunjang kreativitas dan kemampuan menulis kreatif seseorang. Dengan minat yang besar, orang akan menyenangi sesuatu secara tulus dan sungguh-sungguh. Dengan rasa senang dan sungguh-sungguh semangat dan kemauan seseorang akan tumbuh dengan subur. Orangpun akan dapat bekerja keras tanpa merasa lelah dan jemu. Inilah yang diperlukan bagi kreativitas dan penulisan kreatif.
Jangan biasa memaksakan diri. Orang yang terpaksa tidak akan dapat bekerja secara optimal, sehingga hasilnyapun setengah-setengah serta bekerjalah dengan minat yang penuh.

6. Penguasaan Bahasa yang Kurang.
Penulis pemula pada umumnya mengeluh karena kesulitan bahasa. Ini disebabkan, penulisan memiliki bekal kosa kata yang kurang. Penguasaan bahasa yang kurang membuat seseorang (penulis) tidak mampu mendayagunakan bahasa tersebut secara optimal. Inilah yang membuat proses penulisan karya sastra berjalan tersendat-sendat. Untuk itu seringlah membaca literatur terkait dengan tema tulisan yang dibuat guna menambah daftar kosa kata yang dimiliki.

7. Kekurangan Ide.
Ketika disuruh menyumbangkan ide atau menulis karya sastra, banyak siswa/mahasiswa yang mengeluh karena tidak memiliki ide untuk disumbangkan atau ditulis. Ini adalah hal yang umum terjadi, sebab membuahkan ide-ide adalah pekerjaan yang sulit bagi kebanyakan orang. 
Seorang yang serius menulis secara terus menerus dan bertubi-tubi akan mengalami kelelahan yang menyebabkan stres kecil. Sehingga berujung pada mampetnya ide untuk membuat tulisan. Memang benar, jika sudah terbiasa menulis kita akan mudah menorehkan kata. Tapi intensitas yang begitu sering akan membuatnya tidak baik. Berikut beberapa cara atau kegiatan yang dapat dilakukan jika dalam menulis mengalami kendala kekurangan ide :
a. Mencari sumber bacaan yang relevan
Mencari bahan bisa dengan cara surfing di internet untuk mencari artikel yang berhubungan, pergi ke perpustakaan atau toko buku untuk mencari literatur, atau diskusi dengan ahli yang mengerti tentang ilmu yang berkaitan dengan apa yang kita tulis.
b. Refresing
Refreshing adalah kegiatan yang terbaik untuk merelaksasikan otak. Misalnya pergi ke pantai, jalan-jalan, atau sejenisnya. Yang penting tujuannya untuk mengistirahatkan otak.
c. Bermain game
Main game ringan akan membuat pikiran lebih fresh dan tenang, sehingga pada akhirnya dapat mencetuskan sebuah ide untuk dituliskan.


d. Berhenti sejenak dari rutinitas
Terkadang kita tidak sadar, ketika berhenti sejenak dari aktivitas pekerjaan yang melelahkan, kita sering mendapatkan ide secara tiba-tiba. Hal itu membuktikan bahwa saat pikiran penat, ide akan sangat sulit keluar.
e. Bersosialisasi
Salah satu kegiatan yang dapat dilakukan ketika dalam menulis kekurangan ide adalah dengan bersosialisasi. Bersosialisasi atau mengobrol dengan orang-orang sekitar seperti dengan teman atau keluarga untuk beberapa saat dapat membantu merefresh otak dan tentunya juga dapat menambah insprirasi.
f. Tidur
Tidur akan mengistirahatkan segalanya, baik itu otak maupun tubuh. Untuk itu jangan paksakan diri anda ketika anda sudah merasa lelah, istirahatkan tubuh anda, dan bekerjalah sewajarnya.

Pada intinya dengan banyak melihat, mendengarkan, membaca dan berinteraksi dengan sosial, akan semakin memperkaya ide yang ada di kepala kita.

8. Iklim Lingkungan yang Tidak Mendukung
Lingkungan dapat menyuburkan kreativitas dan kemampuan menulis kreatif, tetapi dapat pula mematikannya. Iklim lingkungan yang dapat pula mematikannya. Iklim lingkungan yang dapat membunuh kreatifitas dan kemampuan menulis kreatif ialah yang memiliki ciri sebagai berikut :
a. Lingkungan yang tidak menghargai ide dan hasil karya seseorang
b. Lingkungan yang tidak memberikan kebebasan kepada seseorang untuk menyumbangkan pikiran dan pendapatnya.
c. Lingkungan yang menuntut disiplin secara kaku, diwarnai suasana takut, dan cemas.
d. Lingkungan yang serba mengikat : baik ikatan moral, agama, politik, budaya, maupun sosial.
Untuk itu ciptakan lingkungan yang menunjang bagi kreativitas dan proses kreatif Anda. Hindari lingkungan yang dapat mematikan kreativitas dan kemampuan menulis seperti di atas.

























BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Ada beberapa hal yang dapat menghambat kreatifitas dan proses kreatif khususnya dalam menulis, yaitu rasa malu dan minder, kritik, menunda waktu, anggapan yang keliru tentang kraetivitas dan menulis kreatif, minat yang kurang, pengguasaan bahasa yang kurang, kekeurangan ide, dan iklim lingkungan yang tidak mendukung. Dalam hal tersebut, penghambat dalam pross kreatif dapat diminimalisir dan dihilangkan dengan kebiasaan-kebiasaan yang harus konsisten dilaksanakan dan dijaga. Rasa malu dapat diminimalisir dengan percaya diri bahawa setiap orang memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Menganggap kritikan adalah proses perbaikan dan koreksi baik dari orang lain, serta sering-sering membaca untuk mendapatkan literature dan ide atau gagasan baru dalam proses kreatif.

B. Saran
Penulis berharap tulisan ini dapat memberikan informasi kepada pembacanya dan memberikan titik terang mengenai hambatan yang dialami pembaca dalam proses kreatif dan menulis kreatif. Penulis juga berpesan kepada pembaca untuk tidak menjadikan tulisan ini sebagai satusatunya bahan referensi menginggat banyaknya kekurangan dalam tulisan ini. Untuk itu, kritik dan ssaran pembaca penulis harapkan demi kesempurnaan tulisan ini.









DAFTAR RUJUKAN

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) versi online/daring (dalam jaringan),
(Online) (http://kbbi.web.id/malu, diakses 15 September 2016).
Roekhan. 1991. “Menulis Kreatif Dasar-dasar dan Petunjuk Penerapannya”.
Jawa Timur: Yayasan Asih Asah Asuh Malang.
Qonita, Maryam. “Belajar Menulis: Hambatan Menulis dan Tips Mengatasinya”,
(Online), (http://www.maryamqonita.com/ Belajar Menulis: Hambatan
Menulis dan Tips Mengatasinya/santri menulis.htm, diakses 15 September
2016)
Tunsa, Ari. “5 Tips Mengatasi Kekurangan Ide Menulis”, (Online),
(http://aritunsa.com/5-tips-mengatasi-kekurangan-ide-menulis-menulis/, diakses 15 September 2016).

Sabtu, 23 Desember 2017

landasan tori



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Belajar merupakan kegiatan yang tidak asing lagi di kalangan kita. Seperti di era sekarng ini, belajar seolah-olah dianggap sebagai tuntutan yang wajib bagi setiap orang. Tidak hanya bagi mereka yang masih muda, akan tetapi mereka yang sudah dewasa atau terbilang sudah tua dituntut untuk belajar agar mampu untuk menyesuaikan diri dengan keadaan zaman.
Belajar dalam seyogianya dijalankan selama hayat di kandung badan atau bisa dikatakan seumur hidup. Berkaitan dengan kegiatan belajar di tengah-tengah masyarakat mengemuka ungkapan “masa muda adalah masa belajar”. Ungkapan tersebut dimaksudkan bahwa setiap orang muda sudah semestinya mempersiapkan diri untuk memperoleh segala sesuatu yang berguna bagi hidupnya di kemudian hari.
Dalam makalah ini penulis mencoba untuk menguraikan beberapa hal mengenai konsep belajar yang meliputi, definisi belajar, faktor belajar, proses dan fase belajar, teori-teori belajar serta macam-macam perwujudan perilaku belajar.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apakah definisi dari belajar ?
2.      Apa sajafaktor-faktor yang mempengaruhi belajar ?
3.      Bagaimanakah proses dan fase belajar ?
4.      Bagaimana macam-macam perwujudan perilaku belajar ?
C.     Tujuan Masalah
1.      Mendiskripsikan definisi belajar.
2.      Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi belajar.
3.      Mengetahui proses dan fase belajar.
4.      Mengetahui macam-macam perwujudan perilaku belajar.


D.    Batasan Masalah
Makalah ini hanya membahas konsep dalam belajar, yakni mengenai definisi belajar, faktor-faktor yang mempengaruhi belajar, proses dan fase belajar, serta macam-macam perwujudan perilaku belajar.


























BAB II
LANDASAN TEORI
A.    Definisi Belajar
Arti kata belajar di dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia adalah suatu usaha memperoleh kepandaian atau ilmu. Sedangkan dalam kamus Bahasa Inggris terdapat empat macam arti belajar, yakni memperoleh pengetahuan atau menguasai pengetahuan atau menguasai pengetahuan melalui pengalaman, mengingat, dan mendapat informasi atau menemukan.[1]
Beberapa ahli menguraikan definisi dari belajar sebagai berikut :
a.      Arthur J. Gates
Menurut Arthur, yang dinamakan belajar adalah perubahan tingkah laku melalui pengalaman dan latihan (learnig is the modification of behavior through experience and training).
b.      L.D. Crow and A.Crow
Ahli ini berpendapat bahwa belajar adalah suatu proses aktif yang perlu dirangsang dan dibimbing ke arah hasil-hasil yang diinginkan (dipertimbangkan). Belajar adalah penguasaan kebiasaan-kebiasaan, pengetahuan, dan sikap-sikap (learning is an active process that need to be simulated and guided toward desirable outcome. Learning is the acquisition of habits, knowledge, and attitudes).
c.       Gregory A. Kimble
Belajar menurut Gregory A. Kimble adalah suatu perubahan yang relatif permanen dalam potensialitas tingkah laku yang terjadi pada seseorang atau individu sebagai suatu hasil latihan atau praktik yang diperkuat dengan pemberian hadiah. (learning as a relatively permanent change in behavioral potentiality that occurs as a result of reinforced practice).[2]
d.      Morgan[3]
Morgan dalam buku Introduction to Psychology (1978) mengemukakan bahwa belajar adalah setiap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman.
e.       Whiterington
Whiterington, dalam buku Educational Psychology mengemukakan bahwa belajar adalah suatu perubahan di dalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru daripada reaksi yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, kepandaian, atau suatu pengertian.
Dari berbagai definisi belajar yang telah dikemukakan para ahli tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa pada hakikatnya belajar adalah proses penugasan tertentu sesuatu yang dipelajari. Penugasan tersebut dapat berupa memahami (mengerti), merasakan, dan dapat melakukan sesuatu. 
Bertolak dari berbagai pemikiran para ahli tersebut, belajar dapat didefinisikan sebagai suatu kegiatan atau usaha yang disadari untuk meningkatkan kualitas kemampuan atau tingkah laku dengan menguasai sejumlah pengetahuan, ketrampilan, nilai dan sikap. Belajar secara formal adalah usaha menyelesaikan program pendidikan di sekolah atau perguruan tinggi dengan bimbingan guru atau dosen. Sedangkan belajar secara otodidak atau disebut juga selfstudyatau belajar mandiri adalah belajar yang dilakukan di  luar program pendidikan di sekolah atau perguruan tinggi, tetapi melalui usaha sendiri. Sebagai hasil dari belajar tersebut dapat mencakup beberapaaspek antara lain adalah aspek pengetahuan, ketrampilan, sikap dan nilai.[4]


B.     Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar
Telah dikatakan bahwa belajar merupakan suatu proses yang menimbulkan terjadinya suatu perubahan atau pembaharuan dalam tingkah laku dan atau kecakapan. Berhasil atau tidaknya perubahan tersebut tergantung pada bermacam-macam faktor. Adapun faktor-faktor tersebut, dapat dibedakan menjadi dua golongan yakni :
1.      Faktor internal(faktor dari dalam diri anak), yakni keadaan atau keadaan jasmani dam rohani, faktor ini dibagi menjadi dua yaitu :
1.      Aspek Fisiologis
Aspek fisiologis meliputi hal-hal yang bersifat jasmaniah. Kondisi jasmani yang menandai tingkat kebugaran organ-organ tubuh dan sendi-sendinya, dapat mempengaruhi semangat dan intensitas anak dalam mengikuti pelajaran. Kondisi organ khusus pada anak, seperti tingkat kesehatan indera pendengar dan indera penglihat, juga sangat mempengaruhi kemampuan siswa dalam menyerap informasi dan pengetahuan yang disajikan.
2.      Aspek Psikologis
Aspek psikologis meliputi hal-hal yang bersifat rohaniah. Pada umumnya faktor-faktor rohaniah yang dipandang lebih esensial adalah sebagai berikut :
a.      Kecerdasan/Intelegensi
Intelegensi pada umumnya diartikan sebagai kemampuan psiko-fisik untuk mereaksi rangsangan atau untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya dengan cara yang tepat. Pada umumnya tidak semua anak memiliki intelegensi yang sama dalam mempelajari suatu mata pelajaran dan kecakapan-kecakapan yang lainnya, untuk menolong terjadinya ketidakadilan yang terjadi antara anak yang memiliki intelegensi yang tinggi dan anak yang berintelegensi dibawah rata-rata perlu adanya perhatian khusus dari seorang guru yang profesional, sehingga anak itu tetap merasa adil dan tidak merasa bosan ataupun tertinggal.
b.      Sikap
Sikap (attitude) adalah gejala internal yang berupa kecenderungan untuk mereaksi atau merespon dengan cara yang relatif tetap terhadap objek orang, barang, dan sebagainya, baik secara positif maupun negatif. Sikap anak dalam belajar dapat dipengaruhi oleh perasaan senang atau tidak senang pada performan guru, pelajaran, atau lingkungan sekitarnya.
c.       Bakat
Secara umum, bakat (aptitude) adalah kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang. Dalam perkembangan selanjutnya, bakat diartikan sebagai kemampuan individu untuk melakukan tugas tertentu tanpa banyak bergantung pada upaya pendidikan dan latihan. Bakat akan dapat mempengaruhi tinggi-rendahnya prestasi belajar bidang-bidang studi tertentu. Oleh karena itu, sebagai orangtua hendaknya menyekolahkan anak pada jurusan yang sesuai dengan bakat yang dimiliki oleh anak tersebut, karena apabila orang tua terlalu memaksakan kehendak pada akhirnya akan berpengaruh buruk terhadap kinerja akademik atau hasil prestasi belajar anak.
d.      Minat
Secara sederhana minat (interest) diartikan sebagai kecenderungan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu. Minat sama halnya dengan kecerdasan, sikap dan bakat, karena memberi pengaruh terhadap aktivitas belajar, anak akan menjadi tidak bersemangat atau bahkan tidak mau belajar. Oleh karena itu, dalam konteks belajar di kelas, seorang guru atau pendidik lainnya perlu membangkitkan minat anak agar tertarik terhadap materi pelajaran yang akan dihadapainya atau dipelajarinya.
e.       Motivasi
Motivasi merupakan pendorong seseorang untuk melakukan sesuatu hal dalam bidang tertentu sehingga pada akhirnya orang tersebut dapat menjadi seorang spesialis dalam bidang yang telah dipilihnya tersebut. Motivasi diberikan kepada anak oleh guru atau orang tua, dimana motivasi ini ditujukan supaya dalam diri anak tersebut muncul suatu dorongan atau hasrat untuk belajar, sehingga anak tersebut dapat menyadari apa guna belajar dan tujuan yang hendak dicapai apabila diberi perangsang dan motivasi yang baik dan sesuai.
2.      Faktor eksternal (faktor dari luar diri anak), faktor eksternal terdiri atas dua macam yakni :
1.      Faktor Lingkungan Sosial
Yang termasuk dalam lingkungan sosial antara lain adalah lingkungankeluarga,  lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat.
a.      Lingkungan keluarga
Suasana dan keadaan keluarga yang bermacam-macam  mau tidak mau turut serta dalam menentukan bagaimana dan sampai dimana belajar dialami dan dicapai oleh anak-anak.
b.      Lingkungan sekolah
Keberadaan para guru, staf administrasi dan teman-teman sekelas dapat mempengaruhi semangat belajar anak. Para guru atau staf administrasi yang menunjukkan sikap dan perilaku yang memperlihatkan suri tauladan yang baik dalam hal belajar akan menjadi daya dorong yang positif bagi kegiatan belajar anak.
c.       Lingkungan masyarakat
Kondisi lingkungan masyarakat tempat tinggal anak juga dapat mempengaruhi tingkat belajarnya. Misalnya, kondisi lingkungan masyarakat yang kumuh akan sangat mempengaruhi aktivitas belajar anak. Kesulitan yang akan dihadapi anak tersebut antara lain adalah kesulitan untuk mencari teman belajar atau berdiskusi.[5]
2.      Faktor Lingkungan non Sosial
Faktor-faktor yang termasuk dalam lingkungan non sosial adalah sebagai berikut :
a.      Lingkungan alamiah
Lingkungan alamiah seperti kondisi udara yang segar, tidak panas dan tidak dingin, sinar yang tidak terlalu silau atau tidak terlalu gelap, suasana yang sejuk dantenangmerupakan faktor-faktor yang dapat memengaruhi aktivitas belajar siswa. Apabila lingkungan alamiah mendukung proses belajar anak akan berlangsung dengan nyaman. Sebaliknya, bila kondisi lingkungan alam tidak mendukung, proses belajar anak akan terhambat.
b.      Faktor instrumental
Faktor instrumentalyaitu perangkat belajar yang dapat digolongkan dua macam. Pertama, hardware, seperti gedung sekolah, alat-alat belajar,fasilitas belajar, lapangan olah raga dan lain sebagainya. Kedua, software, seperti kurikulum sekolah, peraturan-peraturan sekolah, bukupanduan dan sebagainya. Ketersediaan serta kelengkapan dari kedua perangkat belajar tersebut akan mempengaruhi aktivitas belajar anak.

c.       Faktor materi pelajaran
Faktor materi pelajaran (materi yang diajarkan) ini hendaknya disesuaikan dengan usia perkembangan anak begitu juga denganmetode mengajar guru, disesuaikandengan kondisi perkembangan anak.[6]
C.    Proses dan Fase Belajar
1.      Definisi Proses Belajar
Proses adalah kata yang berasal dari bahasa latin “processus” yang berarti “berjalan ke depan”. Menurut Chaplin (1927), proses adalah Any change in any object or organism, particularly a behavioral or psychological change (proses adalah suatu perubahan yang menyangkut tingkah laku atau kejiwaan). Sedangkan menurut Reber (1988) proses berarti cara-cara atau langkah-langkah khusus yang menimbulkan beberapa perubahan hingga tercapainya hasil tertentu. Dari kedua pendapat tersebut dapat kita tarik kesimpulan bahwa proses dapat diartikan sebagai tahapan perubahan perilaku kognitif, afektif, dan psikomotor yang terjadi dalam diri anak. Perubahan tersebut bersifat positif dalam arti berorientasi ke arah yang lebih maju daripada keadaan sebelumnya.
2.      Fase-fase dalam Proses Belajar
Karena belajar merupakan aktivitas yang berproses, maka di dalamnya terjadi perubahan-perubahan yang bertahap. Tahapan tersebut timbul melalui fase-fase yang saling berhubungan secara berurutan dan fungsional.
Menurut Jerome S. Brunner, dalam proses pembelajaran, anak menempuh tiga fase yaitu :
a.      Fase informasi (tahap penerimaan materi)
Seorang anak sedang menerima materi, diantara materi tersebut terdapat materi yang baru dan berdiri sendiri, ada pula yang berfungsi menambah, memperhalus, dan memperdalam pengetahuan yang sebelumnya telah dimiliki.
b.      Fase transformasi (pengubahan materi dalam memori)
Dalam fase ini, informasi yang telah diperoleh dalam fase sebelumnya dianalisis atau diubah atau ditransformasikan menjadi bentuk yang abstrak atau konseptual supaya kelak dapat dimanfaatkan bagi hal-hal yang lebih luas.
c.       Fase evaluasi (penilaian penguasaan materi)
Dalam fase evaluasi, anak menilai sendiri sampai sejauh mana pengetahuan (informasi yang telah ditransformasikan) dapat dimanfaatkan untuk memecahkan masalah yang dihadapi.
Menurut Wittig (1981) dalam bukunya psychology of learning, setiap proses belajar selalu berlangsung dalam tiga fase atau tahapan yaitu :
a.      Acquisition (tahap perolehan atau penerimaan informasi)
Pada tahap ini, anak mulai menerima informasi sebagai stimulus dan melakukan respon terhadapnya, sehingga menimbulkan pemahaman dan perilaku baru. Proses acquisition dalam belajar merupakan tahapan yang paling mendasar. Kegagalan dalam tahap ini mengakibatkan kegagalan pada tahap-tahap berikutnya.
b.      Storage (tahap penerimaan informasi)
Pada tahap ini, anak secara otomatis akan mengalami proses penyimpanan pemahaman dan perilaku baru yang ia peroleh ketika menjalani proses acquisition.
c.       Retrieval (tahap mendapatkan kembali informasi)
Tahap retrieval pada dasarnya adalah upaya atau peristiwa mental dalam mengungkapkan dan memproduksi kembali apa-apa yang tersimpan dalam memori berupa informasi, simbol, pemahaman, dan perilaku tertentu sebagai respons atau stimulus yang sedang dihadapi.[7]


D.    PERWUJUDTAN PERILAKU BELAJAR
Dalam hal memahami arti belajar dan esensi perubahan karena belajar, para ahli sependapat atau sekurang – kurangnya terdapat titik temu diantara mereka mengenai hal – hal yang prinsipal. Akan tetapi, mengenai apa yang dipelajari siswa dan bagaimana perwujudannya, agaknya masih tetap merupakan teka – teki yang sering menimbulkan silang pendapat yang cukup tajam diantara para ahli. Manifestasi atau perwujudan perilaku belajar biasanya lebih sering tampak dalam perubahan – perubahan sebagai berikut; 1) kebiasaan; 2) ketrampilan; 3) pengamatan; 4) berpikir asosiatif dan daya ingat; 5) berpikir rasional; 6) sikap; 7) inhibisi; 8) apresiasi; dan 9) tingkah laku efektif. Timbul-nya sikap dan kesanggupan yang konstruktif, juga berpikir kritis dan kreatif, seperti yang dikemukakan sebagian ahli, tidak penyusun uraikan secara ekspilisit mengingat keterpaduannya dalam sembilan perwujudan di atas.
1.      KEBIASAAN
Setiap siswa yang telah mengalami proses belajar, kebiasaan – kebiasaannya akan tampak berubah. Menurut burghardt (1973), kebiasaan itu timbul karena proses penyusutan kecenderungan respons dengan menggunakan stimulasi yang berulang – ulang. Kebiasaan ini terjadi karena karena prosedur pembiasaan seperti dalam classical dan operant conditioning. Contoh: siswa yang belajar bahasa secara berkali – kali menghindari kecenderungan penggunaan kata atau struktur yang keliru, akhirnya akan terbiasa dengan penggunaan bahasa secara baik dan benar. Jadi berbahasa dengan cara yang baik dan benar itulah perwujudan perilaku belajar siswa tadi.
2.      KETRAMPILAN
Ketrampilan ialah kegiatan yang berhubungan dengan urat-urat syaraf dan otot-otot (neuromuscular) yang lazimnya tampak dalam kegiatan jasmaniah seperti menulis, mengetik, olah raga, dan sebagainya. meskipun sifatnya motorik, namun ketrampilan itu memerlukan koordinasi gerak yang teliti dan kesadaran yang tinggi dengan demikian, siswa yang melakukan gerakan motorik dengan koordianasi dan kesadaran yang rendah dapat dianggap kurang atau tidak terampil.
3.      PENGAMATAN
Pengamatan artinya proses menerima, menafsirkan, dan memberi arti rangsangan yang masuk melalui indera-indera seperti mata dan telinga. Contohnya seorang anak yang baru pertama kali mendengarkan radio akan mengira bahwa penyiar benar-benar berada dalam kotak bersuara itu. Namun melalui proses belajar, lambat laun akan diketahuinya juga bahwa yang ada dalam radio tersebut hanya suaranya, sedangkan penyiarnya berada jauh di studio pemancar.
4.      BERPIKIR ASOSIATIF DAN DAYA INGAT
Berpikir asosiatif adalah berpikir dengan car mengasosiasikan sesuatu dengan lainnya, dengan menggunakan rangsangan dan respon. Disamping itu daya ingat pun merupakan perwujudan belajar, sebab merupakan unsur pokok dalam berpikir asosiatif.
5.      BERPIKIR RASIONAL DAN KRITIS
Berpikir rasional dan kritis adalah perwujudan perilaku belajar terutama yang bertalian dengan pemecahan masalah. Dalam berpikir rasional, siswa dituntut menggunakan logika ( akal sehat ) untuk menentukan sebab – akibat. Dalam berpikir kritis, siswa dituntut menggunakan strategi kognitif tertentu yang tepat untuk menguji keandalan gagasan pemecahan masalah dan mengatasi kesalahan atau kekurangan (Reber, 1988).


6.      SIKAP
Dalam arti sempit sikap adalah pandangan atau kecenderungan mental. Menurut Bruno (1987), sikap (attitude) adalah kecenderungan yang relatif menetap untuk bereaksi dengan cara baik atau buruk terhadap orang atau barang tertentu. Dalam hal ini perwujudan perilaku belajar siswa akan ditandai dengan munculnya kecenderungan-kecenderungan baru yang telah berubah ( lebih maju dan lugas) terhadap tata nilai peristiwa dan sebagainya.
7.      INHIBISI
Inhibisi adalah upaya pengurangan atau pencegahan timbulnya suatu respon tertentu karena adanya proses respon lain yang sedang berlangsung ( Reber, 1988). Dalam hal belajar maksudnya adalah kesanggupan siswa untuk mengurangi atau menghentikan tindakan yang tidak perlu, lalu memilih tindakan lainnya yang lebih baik ketika ia berinteraksi dengan lingkungannya.
8.      APRESIASI
Apresiasi berarti suatu pertimbangan (judgment) mengenai arti penting atau nilai sesuatu. Dalam penerapannya apresiasi sering diartikan sebagai penghargaan atau penilaian terhadap benda – benda abstrak maupun konkret yang memiliki nilai luhur. Yang biasanya ditunjukan pada karya seni budaya.
9.      TINGKAH LAKU AFEKTIF
Adalah tingkah laku yang menyangkut keaneka ragaman perasaan seperti takut, marah, sedih, gembira, kecewa, benci dan sebagainya. seorang siswa misalnya dapat dianggap sukses secara afektif dalam belajar agama apabila ia telah menyenangi dan menyadari dengan ikhlas ajaran agama yang ia pelajari, lalu menjadikannya menjadi “sistem nilai diri”. Kemudian pada gilirannya ia menjadikan sistem nilai sebagai penutup hidup, baik suka maupun duka (Darajat, 1985).




























BAB III
PEMBAHASAN
Masalah yang Berkaitan dengan Kegiatan Belajar
Siswa yang lambat dalam belajar sering mangalami kesulitan, sebab setiap akhir kegiataan belajar siswa belum mampu untuk menguasai seluruh materi yang seharusnya sudah dikuasai, guru telah melanjutkan pada materi berikutnya. Akibat lain yang timbul pada diri  mungkin ia tidak ada perhatian terhadap pelajaran itu atau tidak punya minat untuk belajar atau tidak bersemangat untuk belajar. Oleh sebab itu guru hendaknya dapat memberikan perhatian khusus terhadap siswa yang lambat dalam belajar atau mengalami masalah atau kesulitan dalam mencapai tujuan pelajaran yang ditetapkan. Pada hakekatnya guru mempunyai tanggung jawab yang lebih luas dari peranannya sebagai pengajar atau pembelajar. Guru sebagai pembelajar bertanggung jawab untuk membantu siswa dalam mencapai perkembangan yang optimal. Oleh sebab itu guru diharapkan dapat menciptakan situasi kegiatan dalam belajar dan pembelajaran di sekolah yang efektif dan efisien, sehingga siswa diharapkan mencapai hasil belajar yang optimal. Untuk mencapai hasil belajar yang optimal bagi siswa, maka setiap kesulitan atau masalah yang timbul dalam belajar seyogyanya dapat segera diidentifikasi dan segera pula diberikan bantuan atau perbaikan. Ini berarti bahwa setiap guru dituntut kemampuannya untuk mampu memberikan bantuan pada siswa yang mengalami kesulitan atau masalah dalam belajar, materi yang di bahas dalam masalah-masalah belajar dan pembelajaran.









BAB IV
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Arti kata belajar di dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia adalah suatu usaha memperoleh kepandaian atau ilmu. Dari berbagai definisi belajar yang telah dikemukakan para ahli dapat ditarik kesimpulan bahwa pada hakikatnya belajar adalah proses penugasan tertentu sesuatu yang dipelajari. Penugasan tersebut dapat berupa memahami (mengerti), merasakan, dan dapat melakukan sesuatu. Berhasil atau tidaknya perubahan tersebut tergantung pada bermacam-macam faktor yaitu faktor internal (faktor dari dalam diri anak) dan faktor eksternal (faktor dari luar diri anak). Definisi proses belajar, proses adalah Any change in any object or organism, particularly a behavioral or psychological change (proses adalah suatu perubahan yang menyangkut tingkah laku atau kejiwaan). Dalam psikologi, teori belajar selalu dihubungkan dengan stimulus respons dan teori-teori tingkah laku yang menjelaskan respons makhluk hidup dihubungkan dengan stimulus yang didapat dalam lingkungannya.
A.    SARAN
1.      Hendaknya makalah ini dapat bermanfaat dan dapat dijadikan sebagai salah satu sumer pembelajaran.
2.      Untuk pendidik, sebaiknya selalu memberi contoh yang baik bagi anak didiknya dan membimbing anak didiknya untuk terus giat belajar sehingga dapat meningkatkan kemampuan dan ketrampilan mereka.
3.      Untuk terdidik, hendaknya selalu tekun dan rajin belajar. Selalu membiasakan diri belajar agar melatih ketrampilan dan dapat menambah pengetahuan tentang apa yang dipelajari nantinya.


DAFTAR RUJUKAN
AtmajaPrawira,Purwa.Psikologi Pendidikan dalam Perspektif Baru,Jojakarta,Ar-RuzzMedia,2013.
Purwanto,M.Ngalim.Psikologi Pendidikan,Bandung,PT Remaja Rosdakarya,1990.
Syah,Muhibbin.Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru,Bandung,1995.






[1] PurwaAtmajaPrawira,Psikologi Pendidikan dalam Perspektif Baru,Jojakarta,Ar-RuzzMedia,2013:hlm.224.
[2]Ibid.,hlm.225-227.
[3] M.NgalimPurwanto,Psikologi Pendidikan,Bandung,PT Remaja Rosdakarya,1990:hlm.84.
[4]PurwaAtmajaPrawira,Psikologi Pendidikan dalam Perspektif Baru,...,hlm.229.
[5]MuhibbinSyah,Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru,Bandung,1995:hlm.132-139.
[7]MuhibbinSyah,Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru,...,hlm.113-114.