A. Landasan Teoritik
Landasan teoritis yang dimaksud disini adalah teori-teori yang digunakan peneliti untuk mendukung penelitiannya. Disini peneliti dapat menulis mulai dari teori-teori atau batasan-batasan tentang fokus masalah sampai dengan faktor pendukungnya.
Landasan teori merupakan teori yang relevan yang digunakan untuk menjelaskan tentang variabel yang akan diteliti dan sebagai dasar untuk memberi jawaban sementara terhadap rumusan masalah yang diajukan (hipotesis), dan penyusunan instrument penelitian. Teori yang digunakan bukan sekedar pendapat dari pengarang atau pendapat lain, tetapi teori yang benar-benar telah teruji kebenarannya.
B. Pengertian Kerangka Teoritik/Berfikir dalam Penelitian
Menurut salah satu seoarng ahli dalam bukunya Business Research mengemukakan bahwa kerangka berpikir merupakan model konseptual tentang bagaimana teori berhubungan dengan berbagai faktor yang akan diidentifikasikan sebagai masalah yang penting.
Kerangka berfikir dalam suatu penelitian perlu di kemukakan apabila penelitian tersebut berkenaan dengan dua variabel atau lebih. Apabila penelitian hanya membahas sebuah variabel atau lebih secara mandiri, maka yang dilakukan peneliti di samping mengemukakan deskripsi teoritis untuk masing-masing variabel, juga argumentasi terhadap variasi besaran variabel yang diteliti.
Jadi kerangka berfikir merupakan sintesis tentang hubungan antarvariabel yang disusun dari berbagai teori yan telah dideskripsikan. Berdsarkan teori-teori yang telah dideskripsikan tersebut, selanjutnya dianalisis secara kritis dan sistematis sehingga menghasilkan sintesis tentang hubungan antarvariabel yang diteliti. Sintesis tentang hubungan variabel tersebut, selanjutnya digunakan untuk merumuskan hipotesis.
C. Fungsi/Manfaat Kerangka Teoritik dalam Penelitian.
1. Digunakan untuk memperjelas dan mempertajam ruang lingkup variable yang akan diteliti.
2. Sebagai prediksi dan pemandu untuk menemukan fakta, yaitu adalah untuk merumuskan hipotesis dan menyusun instrumen penelitian karena pada dasarnya hipotesis itu merupakan pernyataan yang bersifat prediktif.
3. Sebagai control digunakan mencandra atau membahas penelitian, dan selanjutnya digunakan untuk memberikan saran dalam upaya pemecahan masalah.
D. Teknik Menyusun Kerangka Teoritik
1. Menatapkan Variabel yang Diteliti
Untuk menentukan kelompok teori apa yang perlu dikemukakan dalam menyusun kerangka berpikir untuk pengajuan hipotesis, maka harus ditetapkan terlebih dahulu variabel penelitiannya. Selain itu juga, berapa jumlah variable yang diteliti, dan apakah nama setiap variable merupakan titik tolak untuk menentukan teori yang akan dikemukakan.
2. Membaca Buku dan Hasil Peneletian
Setelah variable ditemukan, langkah berikutnya adalah membaca buku-buku dan hasil penelitianyang relevan. Buku-buku yang dibaca dapat berbentuk buku teks, ensiklopedia, dan kamus. Hasil penelitian yang dapat dibaca adalah laporan penelitian, jurnal ilmiah, skripsi, tesis, dan disertasi.
3. Deskripsi Teori dan Hasil Penelitian
Dari buku dan hasil penelitian yang dibaca akan dapat dikemukakan teori-teori yang berkenaan dengan variable yang akan diteliti. Seperti telah dikemukakan, deskripsi teori berisi tentang, definisi terhadap masing-masing variable yang diteliti, uraian terperinci tentang ruang lingkup setiap variable, dan kedudukan antara variable satu dengan yang lain dalam konteks penelitian ini.
4. Analisis Kritis terhadap teori dan Hasil Penelitian
Pada tahap ini peneliti melakukan analisis secara kritis terhadap teori-teori dan hasil penelitian yang telah dikemukakan. Dalam analisis ini peneliti akan mengkaji apakah teori-teori dan hasil penelitian yang telah ditetapkan itu betul-betul sesuai dengan objek penelitian atau tidak karena sering terjadi teori-teori yang berasal dari luar tidak sesuai dengan penelitian.
5. Analisis Komparatif terhadap Teori dan Hasil Penelitian
Analisis koparatif dilakukan dengan cara membandingan antara satu teori dengan teori yang lain, dan hasil penelitian satu dengan hasil penelitian yang lain. Melalui analisis komparatif ini, peneliti dapat memadukan anatara teori satu dengan teori yang lain, atau mereduksi bila dipandang terlalu luas.
6. Sintesis/Kesimpulan
Melalui analisis kritis dan komparatif terhadap teori-teori dan hasil penelitian yang relevan dengan semua variable yang diteliti, selanjutnya peneliti dapat melakukan sintesis atau kesimpulan sementara. Perpaduan sintesis antara variable satu dengan variable yang lain akan menghasilkan kerangka berfikir yang selajutnya dapat digunakan untuk merumuskan hipotesis.
Uma Sekaran mengemukakan bahwa, kerangka berpikir yang baik, menurut hal-hal sebagai berikut :
a. Variabel-variabel yang akan diteliti harus dijelaskan
b. Diskusi dalam kerangka berpikir harus dapat menunjukkan dan menjelaskan pertautan/hubungan antarvariabel yang diteliti, da nada teori yang mendasari.
c. Diskusi juga harus dapat menunjukkan dan menjelaskan apakah hubungan antarvariabel itu positif atau negative, berbentuk simetris kausal atau interaktif (timbal balik)
d. Kerangka berpikur tersebut selanjutnya perlu dinyatakan dalam bentuk diagram (paradigm penelitian) sehingga pihak lain dapat memahami kerangka berpikir yang dikemukakan dalam penelitian.
Landasan Teori KUANTITATIF
“Pengaruh Media Poster terhadap Motivasi dan Hasil Belajar Siswa di SDN 1 Bandung, Tulungagung”
A. Media Pembelajaran Poster
1. Pengertian media pembelajaran
Dikutip dari Azhar Arsyad kata media berasal dari bahasa latin “medius” yang secara harfiah berarti tengah, perantara atau pengantar. Menurut Criticos dalam bukunya Daryanto media pembelajaran merupakan sarana perantara dalam proses pembelajaran. Jadi berdasarkan kedua pendapat diatas media pembelajaran adalah perantara yang digunakan dalam proses pembelajaran. Media apabila dipahami mendalam dapat berupa manusia, materi, atau kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan atau sikap. Secara khusus pengertian media dalam proses belajar mengajar lebih cenderung diartikan sebagai alat tulis grafis, fotografis, atau elektronik untuk menangkap, memproses dan menyusun kembali informasi visual atau verbal.
2. Pengertian Poster
Poster adalah gambar pada selembar kertas berukuran besar yang digantung atau ditempel. Poster merupakan alat untuk mengiklankan sesuatu, sebagai alat propaganda, dan protes, serta maksud-maksud lain untuk menyampaikan berbagai pesan (Ensiklopedia Wikipedia).
Menurut Nana Sudjana poster adalah media yang kuat dengan warna, pesan dan maksud untuk menangkap perhatian orang yang lewat, tetapi cukup lama menanamkan gagasan yang berarti dalam ingatannya. Sedang menurut Robin Landa dalam buku Graphic Design Solution mendiskripsikan poster sebagai bentuk publikasi dua dimensional dan satu muka, digunakan untuk menyajikan informasi, data, jadwal, atau penawaran, dan untuk mempromosikan orang, acara, tempat, produk, perusahaan, jasa atau organisasi.
Dari definisi di atas dapat disimpulkan poster adalah selembar kertas yang berukuran besar yang digantung atau ditempel yang menggunakan warna yang kuat yang dapat menyampaikan pesan dan maksud kepada pembaca yang bertujuan untuk menyampaikan informasi.
1) Kriteria Disain Poster menurut Sibert dan Ballard dalam Rakhmat Supriyono adalah :
a) Ukuran huruf untuk poster dibuat besar sehingga terbaca dari jarak yang diperkirakan (sekitar 10-15 kali lebar poster). jika lebar poster 30 cm maka harus terbaca dari jarak sekitar 3-4,5meter.
b) Layout dibuat simpel, tidak membingungkan pembaca.
c) Masukkan informasi penting yang dibutuhkan pembaca, seperti tanggal, jam, tempat, harga tiket, kontak person, dan sebagainya.
d) Ada satu elemen yang ditonjolkan (paling dominan), baik judul ataupun ilustrasi, yang sekilas dapat menarik perhatian.
e) Memuat satu informasi paling penting dan ditonjolkan dengan ukuran, warna, atau value (kontras).
f) Memuat unsur seni yang sesuai dengan pesan atau informasi.
g) Huruf dan elemen visual disusun dalam urutan yang logis ( dibaca dari kiri kekanan dan dari atas kebawah).
h) Ilustrasi foto hendaknya dipilih yang tidak lazim (unusual) dan bila perlu di cropping agar lebih terlihat.
i) Huruf untuk poster sebaiknya tebal (bold), dengan warna-warna kontras
sehingga terlihat dari kejauhan.
2) Tujuan Poster menurut Landa dalam Rakhmat Supriono.
a) Menyampaikan informasi secara jelas dan mudah dipahami.
b) Menciptakan disain yang seketika dapat dibaca dan dipahami.
c) Menciptakan disain yangg mudah dibaca
d) Menyajikan informasi yang penting yang dibutuhkan pembaca.
e) Menyusun informasi dengan urutan yang mudah diikuti.
f) Menyusun elemen visual secara hierarki dan menyatu.
g) Menyusun elemen-elemen poster berdasarkan prinsip-prinsip desain grafis.
h) Membuat desain yang sesuai dengan subjek, audiens, dan lingkungannya.
i) Mengekspresikan spirit dari subjek atau pesan yang disampaikan.
3) Jenis Poster
Jenis poster ada 10 macam yaitu:
a) Poster Propaganda
Tujuannya mengembalikan semangat pembeca atas perjuangan atau usaha seseorang dalam melakukan segala hal yang bermanfaat bagi kehidupan sosial.
b) Poster Kampanye
Tujuannya untuk mencari simpati masyarakat pada saat dilakukannya pemilihan umum atau untuk melakukan pencegahan atau bersifat larangan dalam sesuatu hal contoh larangan merokok.
c) Poster Wanted
Tujuanya memuat sayembara bagi masyarakat yang menemukan orang yang dicari orang lain.
d) Poster Cheesecake
Tujuanya untuk menarik perhatian publik terutama masyarakat muda yang sedang menggandrungi sesuatu.
e) Poster film
Tujuannya mempopulerkan film-film yang sedang diproduksi dalam industri film.
f) Poster Buku Komik
Tujuannya untuk mempopulerkan buku komik yang sempat mengalami masa kejayaan di era tahun 1960 an.
g) Poster Affirmation
Tujuannya untuk memotivasi pembacanya dengan menggunakan kata-kata yang tertulis diposter tersebut biasanya mengenai kepemimpinan, kesempatan, dan lain sebagainya.
h) Poster Riset atau Kegiatan Ilmiah
Tujuannya untuk mempromosikan kegiaan riset atau kegiatan ilmiah.
i) Poster Kelas
Jenis poster ini berasal dari Amerika yang digunakan untuk memotivasi siswa agar bisa belajar dengan baik dan termotivasi untuk mencapai cita-cita yang diharapkan.
j) Poster Komersial
Poster komersial tujuannya untuk mempromosikan sesuatu yang dibuat dengan budget tertentu dengan anggaran sales promosion. Contoh poster iklan di jalan raya.
Berdasarkan kriteria, tujuan, dan jenis poster di atas pada penelitian ini peneliti menggunakan jenis poster kelas dimana poster ini mempunyai tujuan untuk memotivasi pelajar untuk belajar. Pada penerapannya media poster sebagai alat bantu pembelajaran yang difungsikan untuk menyampaikan materi dalam kegiatan belajar mengajar.
4) Manfaat Poster dalam Pembelajaran
a) Memotivasi siswa; dalam hal ini, poster dalam pembelajaran sebagai pendorong atau motivasi kegiatan belajar siswa.
b) Peringatan; dalam hal ini, poster berisi tentang peringatan-peringatan terhadap pelaksanaan aturan hukum, aturan sekolah atau peringatanperingatan tentang sosial, kesehatan bahkan keagamaan.
c) Pengalaman kreatif; proses belajar mengajar menurut kreatifitas siswa dan guru. Melalui poster pembelajaran dapat lebih kreatif. Siswa ditugaskan untuk membuat ide, cerita, karangan dari sebuah poster yang dipajang.
5) Penggunaan Poster dalam Pembelajaran Menggunakan poster untuk pembelajaran dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu sebagai berikut.
a) Digunakan sebagai bagian dari kegiatan belajar mengajar. Dalam hal ini, poster digunakan saat guru menerangkan sebuah materi kepada siswa. Begitu halnya siswa dalam mempelajari materi menggunakan poster yang disediakan oleh guru. Poster yang digunakan ini harus relevan dengan tujuan materi.
b) Digunakan di luar pembelajaran yang bertujuan untuk memotivasi siswa, sebagai peringatan, ajakan, propaganda atau ajakan untuk melakukan sesuatu yang positif dan penanaman nilai-nilai sosial dan keagamaan. Dalam hal ini poster tidak digunakan saat pembelajaran namun dipajang di dalam kelas atau di sekitar sekolah yang lokasinya setrategis agar terlihat dengan jelas oleh siswa. (Sumber : SMK Kediri, 2010)
Dari kajian di atas dapat disimpulkan media pembelajaran poster adalah alat yang digunakan untuk membantu dalam proses belajar mengajar berupa media grafis poster. Pada penelitian ini peneliti menggunakan poster sebagai media pembelajaran sebagai alat untuk menyampaikan materi secara singkat.
B. Konsep Motivasi
1. Pengertian Motivasi
Kata motif diartikan sebagai daya upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Motif dikatakan sebagai daya penggerak dari dalam dan di dalam subjek untuk melakukan aktivitas aktivitas tertentu demi mencapai suatu tujuan. Bahkan motif dapat diartikan suatu kondisi intern (kesiapsiagaan). Motivasi berasal dari kata “motif” yang diartikan sebagai “daya penggerak yang telah menjadi aktif”.
Berelzon dan Steiner mengemukakan bahwa “is an inner state that energizer, activates, or moves (hence ‘motivation’), and that directs or channels behavior toward goals” (adalah suatu keadaan dari dalam yang memberi kekuatan, yang menggiatkan, atau yang menggerakan, sehingga disebut ‘penggerakan’ atau ‘motivasi’, dan yang mengarahkan atau menyalurkan perilaku ke arah tujuan)
Sartain mengatakan bahwa motivasi adalah suatu pernyataan yang kompleks di dalam suatu organisme yang mengarahkan tingkah laku terhadap suatu tujuan (goal) atau perangsang (incentive). Tujuan adalah yang membatasi/menentukan tingkah laku organisme itu.
Menurut Mc. Donald, motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya “feeling” dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan
Dari urian diatas dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah daya penggerak dari dalam diri yang memberi kekuatan, yang menggiatkan serta arah umum dari tingkah laku manusia terhadap suatu tujuan.
2. Fungsi motivasi
Sehubungan dengan hal tersebut ada tiga fungsi motivasi yaitu :
a. Mendorong manusia untuk berbuat, jadi sebagai penggerak atau motor yang melepas energi. Motivasi dalam hal ini merupakan motor penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan.
b. Menentukan arah perbuatan, yakni kearah tujuan yang hendak dicapai. Dengan demikian motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuannya.
c. Menyelesaikan perbuatan, yakni menentukan perbuatan perbuatanapa yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan perbuatan perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut.seorang siswa yang akan menghadapi ujian dengan harapan dapat lulus, tentu akan melakukan kegiatan belajar dan tidak akan menghabiskan waktunya untuk bermain kartu atau membaca komik, sebab tidak serasi dengan tujuan.
C. Konsep Belajar
1. Pengertian Belajar
Belajar adalah suatu proses yamg ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang. Perubahan dalam diri seseorang dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti berubahnya pengetahuannya, pemahamannya, sikap dan tingkah lakunya, keterampilan dan kemampuannya, daya reaksinya, daya penerimaannya dan lain-lain aspek yang ada pada individu.
Belajar dalam arti luas dapat diartikan sebagai suatu proses yang memungkinkan timbulnya atau berubahnya suatu tingkah laku sebagai hasil dari terbentuknya respon utama, dengan sarat bahwa perubahan atau munculnya tingkah laku baru itu bukan disebabkan oleh adanya kematangan atau oleh adanya perubahan sementara oleh suatu hal. Sedangkan menurut Slameto belajar adalah ”merupakan suatu proses usaha yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”.
Berdasarkan uraian diatas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa belajar adalah proses usaha yang dilakukan oleh individu yang memungkinkan berubahnya suatu tingkah laku melalui jalan latihan latihan.
2. Tujuan belajar
Tujuan belajar ada tiga jenis yaitu :
a. Untuk mendapatkan pengetahuan
Hal ini ditandai dengan kemampuan berpikir. Pemilikan pengetahuan dan kemampuan berpikir sebagai yang tidak dapat dipisahkan. Dengan kata lain tidak dapat mengembangkan kemampuan berfikir tanpa bahan pengetahuan, sebaliknya kemampuan berfikir akan memperkaya pengetahuan. Tujuan inilah yang paling penting memiliki kecenderungan lebih besar perkembangannya didalam kegiatan belajar.
b. Penanaman konsep dan ketrampilan
Penanaman ketrampilan atau merumuskan konsep juga memerlukan suatu ketrampilan. Jadi soal ketrampilan yang bersifat jasmani maupun rohani. Ketrampilan jasmaniah adalah ketrampilan ketrampilan yang dapat dilihat, diamati, sehingga akan menitik beratkan pada keterampilan gerak/penampilan dari anggota tubuh seseorang yang sedang belajar.sedangkan ketrampilan rohani lebih rumit, karena tidak selalu berurusan dengan masalah masalah ketrampilan yang dapat dilihat bagaimana ujung pangkalnya, tetapi lebih abstrak, menyangkut persoalan persoalan penghayatan dan keterampilan berfikir serta kreatifitas untuk menyelesaikan dan merumuskan masalah atau konsep.
c. Pembentukan sikap
Dalam menumbuhkan sikap mental, perilaku pribadi anak didik, guru harus lebih bijak dan hati hati dalam pendekatannya. Untuk ini dibuthkan kecakapan mengarahkan motivasi dan berpikir dengan pidak lupa menggunakan pribadi guru itu sendiri sebagai contoh atau model.
3. Pengertian Hasil Belajar
Hasil belajar terdiri dari dua suku kata, yaitu hasil dan belajar. Hasil berarti sesuatu yang diadakan oleh usaha.Sedangkan belajar berarti berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu. Jadi, hasil belajar adalah realisasi atau pemakaran dari kecakapan-kecakapan potensial atau kapasitas yang dimiliki seseorang. Penguasaan hasil belajar oleh seseorang dapat dilihat dari perilakunya, baik perilaku dalam bentuk penguasaan pengetahuan, keterampilan berfikir maupun keterampilan motorik. Sedangkan dalam sistem pendidikan nasional rumusan tujuan pendidikan, baik tujuan kurikuler maupun tujuan intruksional, menggunakan klasifikasi hasil belajar dari Benyamin Bloom yang secara garis besar membaginya menjadi tiga ranah yaitu:
1) Ranah kognitif
Berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek, yaitu pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi. Pengetahuan (Knowledge) adalah kemampuan seseorang untuk mengingatingat kembali tentang nama, istilah, ide, gejala, rumus-rumus dan sebagainya tanpamengharapkan kemampuan untuk menggunakannya.
Pemahaman adalah kemampuan seseorang untuk mengerti sesuatu setelah sesuatu itu diketahui dan diingat dengan kata lain mengetahui tentang sesuatu dan dapat melihatnya dari berbagai segi. Penerapan adalah kesanggupan seseorang untuk menerapkan ide-ide umum, tata cara ataupun metode-metode,prinsip-prinsip, rumus-rumus, teori-teori dan sebagainya dalam situasi yang baru dan konkret.
Analisis adalah kemampuan seseorang untuk merinci suatu bahan menurut bagian-bagian yang lebih kecil dan mampu memahami hubungan diantara bagian-bagian yang satu dengan faktor-faktor yang lainnya.
Sintesis adalah kemampuan berfikir yang merupakan kebalikan dari proses berfikir analisis, sintesi merupakan proses yang memadukan bagian-bagian secara logis sehingga menjadi suatu pola yang terstruktur baru. Penilaian adalah kemampuan seseorang untuk membuat pertimbangan terhadap situasi, nilai, ide.
2) Ranah afektif
Ranah afektif berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek yakni receiving, responding, valuing, organization, dan characterization. Receiving atau menerima adalah kepekaan seseorang dalammenerima rangsangan atau stimulus dari luar yang datang kepada dirinya dalam bentuk masalah, situasi, gejalagejala dan sebagainya.
Responding atau menanggapi adalah kemampuan seseorang untuk mengikutsertakan dirinya secara aktif dalam fenomena tertentu dan membuat reaksi terhadap salah satu cara.
Valuing atau menilai adalah kemampuan seseorang mau menrima nilai yang diajarkan tetapi mereka telah berkemampuan untuk menilai konsep baik dan buruk.
Organization atau mengorganisasikan adalah pengembangan dari nilai kedalam satu system organisasi, termasuk didalamnya hubungan satu nilai dengan nilai yang lain.
Characterization atau karakter adalah keterpaduan semua system nilai yang telah dimiliki seseorang, yang mempengaruhi pola kepribadian dan tingkah lakunya.
3) Ranah psikomotorik
Berkenaan dengan hasil keterampilan dan kemampuan bertindak. Ada enam aspek ranah psikomotorik, yakni, gerakan reflek, keterampilan gerakan dasar, kemampuan perseptual, keharmonisan, gerakan keterampilan kompleks, gerakan ekpresif dan interpretatif. Hasil belajar psikomotor ini merupakan kelanjutan dari hasil belajar kognitif (memahami sesuatu) dan hasil belajar afektif (yang baru tampak dalam bentuk kecenderungan-kecenderungan untuk berperilaku). Hasil belajar kognitif dan afektif akan menjadi belajar psikomotor apabila peserta didik telah menunjukkan perilaku sesuai dengan makna yang terkandung dalam ranah kognitif dan afektifnya.
4. Penilaian Hasil Belajar
Penilaian hasil belajar dalam tujuan pendidikan nasional, baik tujuan kurikuler maupun tujuan intruksional, menggunakan klasifikasi hasil belajar dari Benyamin Bloom yang secara garis besar membaginya menjadi tiga ranah yaitu
1) Penilaian kognitif
Aspek kognitif yang dinilai dapat berupa kemampuan mengetahui ,kemampuan mengerti, kemampuan menerapkan informasi atau pengetahuan yang diperoleh untuk memecahkan masalah, kemampuan menganalisis informasi yang kompleks, kemampuan menggabungkan beberapa informasi menjadi suatu kesimpulan, kemampuan mempertimbangkan dan mengambil keputusan atau tindakan berdasarkan pertimbangan.
2) Penilaian Afektif
Aspek afektif berkenaan dengan sikap dan nilai, tipe hasil belajar afektif tampak pada siswa dalam berbagai tingkah laku seperti perhatiannya terhadap pelajaran, disiplin, motivasi belajar, menghargai guru dan teman sekelas, kebiasaan belajar dan hubungan sosial. Ada beberapa jenis kategori ranah afektif sebagai hasil belajar, kategorinya dimulai dari tingkat yang dasar sampai tingkat yang kompleks diantaranya yaitu: Reciving/attending, Responding atau jawaban, valuing atau penilaian, organisasi, karakteristik atau internalisasi nilai.
3) Penilaian Psikomotorik
Penilaian psikomotorik adalah penilaian terhadap keterampilan gerak yang berhubungan dengan otot kecil dan otot besar, sehingga gerakan yang dinilai dapat berupa gerakan halus atau gerakan kasar. Keterampilan dalam gerakan halus misalnya keterampilan mengukur, mengambar, melukis menggunakan alat. Keterampilan dalam gerak kasar misalnya pada cabang olahraga tertentu.
Kerangka Berfikir
1. Hubungan antara Media Poster dengan Motivasi Belajar
Poster merupakan media visual dua dimensi berisikan gambar dan pesan tertulis yang singkat. Poster tidak hanya penting untuk menyampaikan pesan-pesan tertentu tetapi mampu pula untuk mempenggaruhi dan memotivasi tingkah laku orang yang melihatnya.
Motivasi dapat juga dikatakan serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi kondisi tertentu, sehingga seseorang itu mau dan ingin melakukan sesuatu, dan bila tidak ia suka maka, akan berusaha untuk meniadakan atau mengelakkan perasaan tidak suka itu. Motivasi belajar adalah merupakan faktor psikis yang bersifat non intelektual. Perannya yang khas adalah dalam hal penumbuhan gairah, merasa senang dan semangat untuk belajar.
Media poster berisi informasi serta peta konsep dengan berbagai gambar yang menarik. Pelajaran yang menggunakan media poster ini akan menambah dorongan siswa untuk lebih perhatian dan mencermati rasa ingin tahu mempelajari media poster tersebut. Sehingga siswa mulai tertarik untuk membaca dan melakukan suatu dari petunjuk yang ada di dalam poster tersebut.
2. Hubungan antara Media Poster dengan Hasil Belajar
Poster merupakan suuatu gambar yang mengombinasikan unsur-unsur visual seperti garis, gambar dan kata-kata yang bermaksud menarik perhatian serta mengkomunikasikan pesan secara singkat.
Hasil belajar merupakan bagian terpenting dalam pembelajaran. Nana Sudjana mendefinisikan hasil belajar siswa pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar dalam pengertian yang lebih luas mencakup bidang kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Media poster berisi sebuah gambar, gagasan, dan petunjuk dalam berbagai hal. Dengan semua isi-isi poster tersebut pastinya lebih memudahkan siswa untuk memahami suatu materi yang diajarkan, penuangan materinya lebih singkat dan jelas. Sehingga media poster ini bisa mendongkrak hasil belajar siswa secara efisien.
3. Hubungan antara Media Poster terhadap Motivasi dan Hasil Belajar
Dari paragraf diatas sudah mengenai pengertian media poster, motivasi dan hasil belajar maka diambil kesimpulan bahwa media poter ini merupakan sebuah alat bantu proses pembelajaran yang nantinya bisa mendorong siswa serta mampu meningkatkan hasil belajar siswa sesuai tujuan instruksional dalam pembelajaran. Dengan terobosan ini akan menjadikan pelajaran bisa berjalan sesuai yang diharapkan.
Apabila dikaitkan memang dengan perkembangan teknologi ini media poster menjadikan bahan cetak yang sesuai untuk memberikan informasi-informasi yang tertuang. Hanya selembar kertas namun berisikan banyak informasi yang bisa disajikan dalam beberpa materi. Dengan demikian motivasi dan hasil belajar bisa dipengaruhi dengan keefektifan penggunaan media poster yang tepat guna sesuai acuan.
Dengan adanya media poster ini merupakan sebuah terobosan dalam proses pembelajaran tema lingkungan hidup di SDN 1 Bandung, Tulungagung. Apabila media ini diterapkan akan menjadi dorongan/perhatian, maka akan berpengaruh terhadap motivasi dan hasil belajarnya. Hal ini dikarenakan dalam ketertarikan yang mengandung respon positif akan sangat berpengaruh dalam proses pembelajaran sehingga siswa lebih aktif menyikapi pembelajaran. Pada akhirnya siswa termotavasi/tertarik untuk mempelajari pembelajaran tema lingkungan hidup ini.
Penelitian Terdahulu
1. Badrudin Nurul Fajri, skripsi dengan judul : “Penerapan Metode Poster Session pada Mata Pelajaran IPA Materi Pokok Bumi dan Alam Semesta untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas V Semester Genap Tahun Ajarqan 2014/2015 di SD Islam AL KHOTIMAH RANDUSARI Kecamatan Semarang Selatan”. Program Studi Ilmu Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, Universitas Islam Negeri Walisongo, 2015. Dalam skripsi ini peneliti membahas mengenai penerapan metode poster session pada mata pelajaran IPA materi bumi dan alam semesta kelas V semester genap. Tujuan penelitian ini untuk meningkatkan aktifitas dan hasil belajar siswa pada pembelajaran IPA tentang IPA materi bumi dan alam semesta kelas V semester genap SD Islam AL Khotimah Semarang melalui penerapan metode poster session.
Peneliti menggunakan pendekatan penelitian yaitu penelitian tindakan kelas (PTK) yang mana dalam penelitian ini subyek penelitian pada kelas V dengan jumlah siswa 14 anak yang terdiri dari 6 siswa laki-laki dan 8 siswa perempuan. Menggunakan dua siklus serta teknik pengumpulan datanya antara lain observasi langsung, metode tes berupa pertanyaan, dan metode dokumentasi.
Hasil dari penelitian ini dilihat dari siklusnya yaitu pra siklus, siklus I dan siklus II. Dari prosentase klasikal yang diperoleh yaitu pra skiklus 35%, sikulus I 57,14%, siklus II 92,86%. Sehingga bisa disimpulkan mengalami peningkatan.
2. I Putu Arie Permana, penelitian ini dengan judul : “Penggunaan Poster Mlalui Model Pembelajaran Kooperatif STAD terhadap Aktivitas dan Hasil Belajar. Program Studi Pendidikan Biologi, FKIP Universitas Lampung, 2015. Penelitian ini membahas mengenai penggunaan poster melalui model pembelajaran kooperatif Stad terhadap aktivitas dan hasil belajar apakah mengalami peningkatan atau sebaliknya. Tujuan dari penelitian ini adalah meningkatkan aktivitas siswa dan hasil belajar siswa serta tanggapan siswa dalam pembelajaran IPA materi pokok pengelolaan lingkungan dengan menggunakan media poster melalui model pembelajaran kooperatif tipe STAD.
Peneliti menggunakan pendekatan penelitian berupa pendekatan kuantitatif eksperimen yang mana kelas yang dipilih ada 2 dengan alasan dibagi menjadi kelas eksperimen dan kelas kontrol. Desain yang digunakan adalah desain pretes postes tak ekuivalen. Hasil dari penelitian ini dilihat dari beberapa tabel untuk membedakan dua kelas tersebut melalui model STAD. Dari akhir tabel terlihat bahwa kelas eksperimen mengalami peningkatan yang signifikan.
3. Khusnul Khotimah, skripsi dengan judul : ”Upaya Meningkatkan Aktivitas dan Pemanfaatan Media Poster pada Pembelajaran Membatik Siswa Kelas 1 di SMK Ma’arif 2 Sleman”. Program Studi Pendidikan Teknik Busana Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta, 2013 . Penelitian ini membahasa mengenai pengaruh media poster terhadap aktivitas pembelajaran membatik di SMK Ma’arif Sleman. Tujuan dari penelitian ini untuk mengidentifikasi upaya meningkatkan aktifitas belajar siswa dengan memanfaatkan media poster dalam pembelajaran membatik siswa kelas 1 di SMK Ma’arif 2 Sleman.
Peneliti menggunakan pendekatan penelitian yaitu kuantitatif deskriptif dengan populasi kelas 1 berjumlah 68 siswa, namun pengambilan sampel peneliti menggunakan teknik random sampling sehingga memperoleh sampel yang sebanyak 34 siswa. Instumen yang digunakan dalam penelitian ini antara lain lembar observasi.
Hasil penelitian ini disajikan dengan prosentase, hasil yang diperoleh mengalami peningkatan seperti siswa memperhatikan pejelasan guru meningkat 23,52%, siswa mengamati petunjuk yang diberikan oleh guru meningkat 41%, siswa mengikuti petunjuk yang diberikan guru meningkat 41,17%, siswa turut serta melakukan kegiatan belajar meningkat 26,47%, siswa mengikuti tes tertulis dengan baik meningkat 55,88%, siswa memanfaatkan media poster sebagai sumber belajar yang disediakan guru meningkat 14,70%, siswa dapat menguasai tujuan pembelajaran meningkat 11,76%, siswa memperhatikan dengan aktif meningkat 11,76 %, siswa aktif dan tekun mengerjakan tugas meningkat 8,82%, siswa untuk bertanya meningkat 14,70%, siswa menyelesaikan tugas tepat waktu meningkat 11,76%.
Tabel Perbandingan dalam Penelitian
Nama Peneliti dan Judul Penelitian Persamaan Perbedaan
Badrudin Nurul Fajri, skripsi dengan judul : “Penerapan Metode Poster Session pada Mata Pelajaran IPA Materi Pokok Bumi dan Alam Semesta untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas V Semester Genap Tahun Ajarqan 2014/2015 di SD Islam AL KHOTIMAH RANDUSARI Kecamatan Semarang Selatan”.
Tahun ajaran 2014/2015. 1. Sama-sama menggunakan media poster
2. Mata pelajaran sama mengenai IPA 1. Tujuan peneliti untuk motivasi dan hasil belajar, untuk skripsi Badrudin hanya hasil belajar saja.
2. Yang diteliti peneliti untuk kelas IV, sedangkan skripsi Badrudin untuk kelas V.
I Putu Arie Permana, penelitian ini dengan judul : “Penggunaan Poster Melalui Model Pembelajaran Kooperatif STAD terhadap Aktivitas dan Hasil Belajar
Tahun ajaran 2014/2015. 1. Sama-sama menggunakan media poster
2. Meneliti variabel terikat mengenai hasil belajar 1. Peneliti hanya fokus pada pengaruh poster terhadap motivasi dan hasil belajar, sedangkam skripsi I Putu Arie bahwa Poster digunakan sebagai alat bantu untuk model pembelajaran STAD
Khusnul Khotimah, skripsi dengan judul : ”Upaya Meningkatkan Aktivitas dan Pemanfaatan Media Poster pada Pembelajaran Membatik Siswa Kelas 1 di SMK Ma’arif 2 Sleman”.
Tahun ajaran 2012/2013. 1. Sama-sama menggunakan media poster 1. Peneliti hanya fokus pada pengaruh media poster terhadap motivasi dan hasil belajar, namun skripsi Khusnul mengangkat pemanfaatan media poster dalam aktivitas pembelajaran.
Dari tabel diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa banyak perbedaan yang tertera anatara peneliti dengan peneliti yang lain. Banyaknya perbedaan terdapat pada variabel terikatnya serta ada pula tujuan yang dipaparkan peneiliti dan peneliti yang lain. Selain itu tempat yang ditelitipun sangatlah berbeda. Penelitian ini dipaparkan pada penekanan pengaruh media poster sebagaimana sebagai penunjang proses pembelajaran. Media poster ini akan menjadi sebagai penguatan siswa untuk memahami suatu materi yang disediakan sehingga dapat memberi pengaruh baik itu dorongan maupun peningkatan hasil belajar siswa di SDN Bandung 1 Tulungagung.
Landasan Teori KUALITATIF
“Implementasi Pembelajaran Tematik di SDN 1 Bandung, Tulungagung”
A. Pengertian Pembelajaran Tematik
1. Pengertian Pembelajaran Tematik
Pembelajaran yang baik bukan hanya pembelajaran yang mampu memberikan tambahan pengetahuan bagi siswa. Pembelajaran yang baik yaitu pembelajaran yang mampu mengajak siswa untuk memperoleh pengetahuan. Guru juga harus mampu menggali konsep-konsep yang sudah dimiliki siswa melalui berbagai aktivitas dengan melibatkan lingkungan sekitar, sehingga tercipta kebermaknaan dari pembelajaran yang dilakukan. Untuk memadukan berbagai konsep tersebut, maka dibutuhkan tema agar tercipta kesatuan dalam pembelajaran.
Dalam Permendikbud Nomor 57 Tahun 2014 tentang Kurikulum 2013 Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah dijelaskan bahwa pembelajaran tematik terpadu merupakan pembelajaran yang mengintegrasikan berbagai kompetensi dari berbagai mata pelajaran ke dalam berbagai tema. Pembelajaran dengan pendekatan tematik terpadu ini dilakukan di semua kelas di tingkat SD (kelas I s.d VI), kecuali untuk mata pelajaran Pendidikan Agama dan Budi Pekerti yang tidak menggunakan pembelajaran tematik terpadu.
Pembelajaran tematik merupakan pembelajaran dimana materi ajar disampaikan dalam bentuk tema-tema yang megintegrasikan seluruh mata pelajaran. Kompetensi dari berbagai mata pelajaran diintegrasikan ke dalam berbagai tema yang mengintegrasikan aspek sikap, keterampilan, dan pengetahuan di dalam pembelajaran.
Secara lebih rinci, pembelajaran tematik dijelaskan sebagai pembelajaran yang mengintegrasikan beberapa kompetensi dari berbagai mata pelajaran ke dalam berbagai tema. Integrasi yang dilakukan mencakup dua hal. Yang pertama yaitu integrasi sikap, keterampilan, dan pengetahuan dalam pembelajaran. Sedangkan yang kedua merupakan dengan integrasi berbagai konsep dasar yang berkaitan).
Terdapat beragam definisi mengenai pembelajaran tematik seperti yang telah diuraikan di atas. Dari beberapa pengertian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran tematik integratif merupakan pembelajaran yang mengintegrasikan beberapa KD dari berbagai mata pelajaran ke dalam satu tema, serta integrasi aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Pengertian inilah yang digunakan peneliti untuk mendefinisikan pengertian pembelajaran tematik.
Pendekatan yang digunakan untuk mengintegrasikan KD dari berbagai mata pelajaran yaitu intradisipliner, interdisipliner, multidisipliner, dan transdisipliner. Permendikbud Nomor 57 Tahun 2014 tentang Kurikulum 2013 Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah menjelaskan pengertian tersebut sebagai berikut:
a. Integrasi intradisipliner dilakukan dengan cara mengintegrasikan dimensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan menjadi satu kesatuan yang utuh di setiap mata pelajaran. Dengan demikian, aspek pengetahuan tidak lagi dominan disampaikan di dalam pembelajaran.
b. Integrasi interdisipliner dilakukan dengan menggabungkan KD beberapa mata pelajaran agar terkait satu dengan yang lainnya, sehingga dapat saling memperkuat, menghindari terjadinya tumpang tindih, dan menjaga keselarasan pembelajaran. Hal ini tergambar pada struktur Kurikulum SD untuk Kelas I-III yang tidak ada mata pelajaran IPA dan IPS. Tetapi, muatan IPA dan IPS terintegrasi ke dalam mata pelajaran lain terutama Bahasa Indonesia.
c. Integrasi multidisipliner dilakukan dengan tanpa menggabungkan Kompetensi Dasar (KD) tiap mata pelajaran, sehingga setiap mata pelajaran masih mempunyai KDnya sendiri. Gambaran tersebut adalah IPA dan IPS yang berdiri sendiri di kelas IV-VI.
d. Integrasi transdisipliner dilakukan dengan mengaitkan berbagai mata pelajaran yang ada dengan berbagai permasalahan yang dijumpai di sekitarnya, sehingga pembelajaran menjadi kontekstual.
Dengan menggunakan tema di dalam pembelajaran tematik, maka diharapkan siswa tidak mempelajari suatu konsep dasar secara terpisah-pisah. Pembelajaran tematik pada Kurikulum 2013 disusun dengan menggunakan berbagai integrasi seperti yang sudah dijelaskan, sehingga pembelajaran tematik ini berbeda dengan pembelajaran tematik yang dilakukan pada kurikulum sebelumnya (KTSP). Perubahan ini merupakan usaha penyempurnaan dari kurikulum sebelumnya.
2. Arti Penting Pembelajaran Tematik
Pembelajaran tematik sangat penting dilakukan di SD/MI, karena sesuai dengan tahap perkembangan anak usia SD/MI. Beberapa arti penting pembelajaran tematik yang diungkapkan oleh Trianto adalah sebagai berikut :
a) Dunia anak adalah dunia nyata.
Perkembangan mental anak adalah tahap berpikir nyata. Anak melihat objek yang dipelajari memuat sejumlah konsep atau materi beberapa mata pelajaran. Sebagai contoh, ketika anak berbelanja di pasar, maka anak akan dihadapkan dengan perhitungan (Matematika), percakapan tawar-menawar (Bahasa Indonesia), serta interaksi antara penjual dan pembeli (IPS).
b) Proses pemahaman anak terhadap suatu konsep dalam suatu peristiwa/objek lebih terorganisasi.
Saat berangkat sekolah, setiap anak sudah membawa pengetahuan yang sudah dimiliki sebelumnya. Proses pemahaman terhadap mata pelajaran yang diberikan sangat tergantung pada pengetahuan awal siswa. Guru dan orang tua berperan sebagai fasilitator untuk menghubungkan pengetahuan yang sudah dimiliki siswa dengan pengetahuan baru yang akan dipelajari .
c) Pembelajaran akan lebih bermakna
Jika apa yang sudah dipelajari siswa dapat digunakan untuk mempelajari materi selanjutnya, maka pembelajaran yang dilakukan akan lebih bermakna. Sehingga siswa mempelajari sesuatu yang masih saling berhubungan (tidak terpisah-pisah).
d) Memberi peluang siswa guna mengembangkan kemampuan diri.
Melalui pembelajaran tematik, maka aspek sikap, keterampilan, dan pengetahuan lebih dapat dikembangkan.
e) Memperkuat kemampuan yang diperoleh
Kemampuan yang diperoleh siswa dari satu mata pelajaran akan saling memperkuat kemampuan yang diperoleh dari mata pelajaran yang lain.
f) Efisiensi waktu
Dengan penggabungan beberapa mata pelajaran dalam satu tema, maka guru dapat membuat RPP untuk beberapa mata pelajaran sekaligus.
Pembelajaran tematik sangat penting dilaksanakan di tingkat SD/MI, karena mengajak siswa untuk aktif mencari pengetahuannya sendiri, sehingga pengetahuan yang diperoleh diharapkan akan lebih bermakna. Pembelajaran dihubungkan dengan peristiwa yang dialami atau dilihat siswa dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, pembelajaran tematik juga sesuai dengan tahap perkembangan anak usia SD/MI yang memandang segala sesuatumasih secara keseluruhan.
3. Prinsip Pembelajaran Tematik
Prinsip pembelajaran tematik seperti yang tercantum dalam Permendikbud Nomor 57 Tahun 2014 tentang Kurikulum 2013 Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah adalah sebagai berikut:
a. Siswa mencari pengetahuannya sendiri, bukan diberi tahu.
b. Pemisahan antar mata pelajaran tidak begitu nampak. Pembelajaran difokuskan pada kompetensi yang akan dicapai melalui tema.
c. Adanya tema yang menyatukan beberapa KD yang berkaitan dengan berbagai konsep, sikap, dan keterampilan.
d. Sumber belajar yang lebih bervariasi, tidak terbatas pada buku teks.
e. Siswa dapat belajar secara individu maupun kelompok, sesuai dengan karakteristik kegiatan yang dilakukan.
f. Guru harus merencanakan dan melaksanakan pembelajaran, sehingga dapat mengakomodasi keberagaman siswa, baik tingkat intelektual, pengalaman, maupun cara belajar.
g. Tidak memaksanakan KD yang tidak dapat dipadukan. KD tersebut dapat diajarkan secara mandiri.
h. Memandang segala sesuatu dari hal-hal yang konkret menuju ke abstrak, serta memberikan pengalaman langsung kepada siswa (direct experiences).
Pembelajaran tematik, menghendaki guru yang lebih aktif dan kreatif dalam mengembangkan bahan pelajaran, karena dalam buku panduan (buku guru) yang diterbitkan oleh Kemendikbud materi yang disajikan masih dalam standar minimal. Prinsip pembelajaran yang akan dianalisis lebih mendalam dalam penelitian ini adalah prinsip pemisahan antar mata pelajaran tidak begitu nampak, adanya tema yang menyatukan beberapa KD yang berkaitan, serta tidak memaksakan KD yang tidak dapat dipadukan.
B. Implementasi Pembelajaran Tematik
Pelaksanaan pembelajaran tematik harus memperhatikan sintaks dan rambu-rambu pembelajaran tematik. Pembelajaran tematik pada intinya sama dengan pembelajaran tematik. Hanya berbeda pada penekanan integrasi aspek sikap, keterampilam, dan pengetahuan. Oleh karena itu, sintaks dan rambu-rambu pembelajaran tematik masih mengacu pada sintaks dan rambu-rambu pembelajaran tematik.
1. Sintaks Pembelajaran Tematik
Sintaks merupakan langkah-langkah suatu pembelajaran. Langkah-langkah dalam mengimplementasikan pembelajaran tematik menurut Rusman adalah sebagai berikut :
a. Menetapakan mata pelajaran yang akan dipadukan.
Sebelum menetapkan mata pelajaran yang akan dipadukan, sebaiknya guru sudah membuat pemetaan KD secara menyeluruh pada semua mata pelajaran yang diajarkan.
b. Mempelajari KD dan indikator mata pelajaran yang dipadukan
Pada tahap ini dilakukan pengkajian atas KD pada jenjang dan kelas yang sama dari beberapa mata pelajaran yang memungkinkan untuk diajarkan dengan menggunakan suatu tema tertentu. Sebelum hal itu, perlu ditetapkan aspek-aspek dari setiap mata pelajaran yang dapat dipadukan.
c. Memilih dan menetapkan tema pemersatu
Dalam pembelajaran tematik Kurikulum 2013, tema, mata pelajaran, serta KD yang akan dipadukan sudah ditentukan oleh pemerintah, akan tetapi pengembangan tema tetap dapat dilakukan oleh guru.
d. Membuat bagan hubungan KD dan tema pemersatu
Pada tahap ini dilakukan pemetaan keterhubungan KD dari masing-masing mata pelajaran yang dipadukan dengan tema tertentu sebagai pemersatu. Pemetaan dapat dibuat dalam bentuk bagan dan atau matriks jaringan tema yang memperlihatkan hubungan antara tema dengan KD dari setiap mata pelajaran, serta hubungan tema dengan indikator pencapaiannya.
e. Menyusun silabus pembelajaran tematik
Hasil dari proses yang telah dilakukan sebelum tahap penyusunan silabus ini dijadikan dasar dalam menyusun silabus pembelajaran tematik. Silabus dapat diartikan sebagai garis-garis besar atau pokok-pokok materi dari pembelajaran tematik. Dalam Kurikulum 2013, silabus sudah disiapkan pemerintah. Hal ini seperti yang tertulis dalam Buku Materi Pelatihan Guru Implementasi Kurikulum 2013 SD Kelas I bahwa “Satuan pendidikan dan guru tidak diberikan kewenangan menyusun silabus, tapi disusun pada tingkat nasional”.
f. Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) tematik
Sebelum melaksanakan pembelajaran, maka perlu disusun RPP. Penyusunan RPP tematik ini merupakan realisasi dari pengalaman belajar siswa yang telah ditetapkan dalam silabus pemelajaran. Kegiatan pembelajaran terdiri dari pendahuluan, inti, dan penutup.
g. Penilaian
Tahap penilaian dapat berupa penilaian proses dan penilaian hasil pembelajaran.
Terdapat beberapa langkah untuk mengimplementasikan pembelajaran tematik. Terlebih dahulu, guru mempelajari tema, dan sub tema yang sudah ada, kemudian guru dapat melakukan pengembangan disesuaikan dengan karakteristik lingkungan sekolah. Selanjutnya guru membuat pemetaan persebaran KD pada semua tema yang ada. Selanjutnya guru membuat jaringan indikator dari KD mata pelajaran yang akan dipadukan dalam satu pembelajaran tertentu. Selanjutnya, guru membuat RPP dengan mengacu pada silabus dan pemetaan KD dari semua mata pelajaran. Aspek sikap, keterampilan, dan pengetahuan menjadi hal pokok yang tidak boleh dilupakan guru dalam setiap penyusunan RPP tematik, maupun dalam pelaksanaan pembelajaran tematik.
2. Tinjauan Tentang Penilaian Pembelajaran Teamtik
Salah satu penekanan di dalam kurikulum 2013 adalah penilaian autentik. Penilaian adalah proses pengumpulan berbagai data yang memberikan gambaran mengenai perkembangan siswa setelah siswa mengalami proses pembelajaran. Penilaian autentik adalah kegiatan menilai peserta didik yang menekankan pada apa yang seharusnya dinilai, baik proses maupun hasil dengan berbagai instrumen penilaian yang disesuaikan dengan tuntutan kompetensi yang ada di Standar Kompetensi (SK) atau Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD).
Acuan pada penilaian autentik, siswa diminta untuk menerapkan konsep atau teori dalam keadaan sebenarnya sesuai dengan kemampuan atau keterampilan yang dimiliki siswa. Oleh karena itu, guru harus memperhatikan keseimbangan antara penilaian kompetensi sikap, keterampilan dan pengetahuan yang disesuaikan dengan perkembangan karakteristik siswa sesuai dengan jenjangnya. Contohnya untuk PAUD, TK dan SD, lebih banyak porsinya pada soft skill (misalnya kemampuan yang perlu dilatih dan diukur, antara lain: mengamati, motivasi berprestasi, kemauan kerja keras, disiplin, berkomunikasi, tata krama, dll) daripada penilaian hard skill (pengukuran penguasaan pengetahuan dan keterampilan). Berikut adalah ciri-ciri penilaian autentik:
1. Mengukur semua aspek pembelajaran, yakni kinerja dan hasil atau produk.
2. Dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung.
3. Menggunakan berbagai cara dan sumber.
4. Tes hanya salah satu alat pengumpulan data penilaian.
5. Tugas-tugas yang diberikan mencerminkan bagian-bagian kehidupan nyata setiap hari.
6. Penilaian harus menekankan kedalaman pengetahuan dan keahlian, bukan keluasannya (kuantitas).
Karakteristik penilaian autentik meliputi sebagai berikut:
1. Bisa digunakan untuk formatif maupun sumatif, pencapaian kompetensi terhadap satu kompetensi dasar (formatif) maupun pencapaian terhadap standar kompetensi atau kompetensi inti dalam satu semester (sumatif).
2. Mengukur keterampilan dan performansi, bukan mengingat fakta, menekankan pencapaian kompetensi keterampilan (skill) dan kinerja (performance), bukan kompetensi yang sifatnya hafalan dan ingatan.
3. Berkesinambungan dan terintegrasi, merupakan satu kesatuan secara utuh sebagai alat untuk mengumpulkan informasi terhadap pencapaian kompetensi siswa.
4. Dapat digunakan sebagai feed back, dapat digunakan sebagai umpan balik terhadap pencapaian kompetensi siswa secara komprehensif.
Berdasarkan ciri-ciri dan karakteristik penilaian autentik di atas, maka proses penilaian harus merupakan bagian yang tak terpisahkan dari proses pembelajaran dan mencerminkan masalah dunia nyata/sehari-hari. Sehingga dalam merancang penilaian autentik, perlu memperhatikan prinsip-prinsip, sebagai berikut: penilaian harus menggunakan berbagai ukuran, metode dan kriteria yang sesuai dengan karakteristik dan esensi pengalaman belajar; penilaian harus bersifat holistik mencakup semua aspek dari tujuan pembelajaran (sikap, keterampilan dan pengetahuan).
Instrumen Penilaian
Menurut Permendikbud, Strandar Penilaian Pendidikan adalah kriteria mengenai mekanisme, prosedur dan instrumen penilaian hasil belajar siswa. Penilaian hasil belajar siswa mencakup kompetensi sikap, keterampilan dan pengetahuan yang dilakukan secara seimbang, untuk mengetahui bahwa setiap siswa sudah sesuai dengan standar yang ditetapkan. Muatan di dalam penilaian antara lain, ruang lingkup materi, kompetensi mata pelajaran/kompetensi muatan/kompetensi program dan proses. Adapun teknik dan instrumen penilaian, sebagai berikut:
1. Penilaian kompetensi sikap.
- Observasi, dilakukan secara berkesinambungan baik secara langsung maupun tidak langsung perilaku siswa.
- Penilaian diri, meminta siswa mengemukakan kelebihan dan kekurangan dirinya dalam pencapaian kompetensi.
- Penilaian antarsiswa, siswa saling menilai terkait dengan pencapaian kompetensi.
- Jurnal, merupakan catatan guru baik di dalam maupun di luar kelas, mengenai kekuatan dan kelemahan siswa.
2. Penilaian kompetensi keterampilan.
- Penilaian kerja, siswa mendemonstrasikan suatu kompetensi tertentu dengan praktek, proyek dan portofolio.
- Tes praktek, penilaian yang menuntut respons berupa perilaku yang sesuai dengan tuntutan kompetensi.
- Projek, tugas belajar yang meliputi kegiatan perancangan, pelaksanaan dan pelaporan baik tertulis maupun lisan dalam waktu tertentu.
- Portofolio, berupa kumpulan seluruh karya siswa yang bersifat reflektif-integratif, dapat berbentuk tindakan nyata yang mencerminkan kepedulian siswa terhadap lingkungannya.
3. Penilaian kompetensi pengetahuan.
- Tes tulis, berupa isian, jawaban singkat, benar-salah, menjodohkan dan uraian.
- Tes lisan, berupa daftar pertanyaan.
- Penugasan, berupa pekerjaan rumah dan proyek yang dapat dikerjakan individual maupun kelompok sesuai dengan karakteristik tugas.
Berdasarkan penjabaran di atas, instrumen penilaian harus memenuhi persyaratan: mempresentasikan kompetensi yang ada dinilai, susunan penilaian memenuhi persyaratan teknis sesuai dengan bentuk instrumen yang digunakan, dan penggunaan Bahasa yang baik dan benar serta komunikatif sesuai dengan perkembangan siswa.
Prinsip yang paling penting dari penilaian autentik adalah dalam pembelajaran tidak hanya menilai apa saja yang sudah diketahui oleh siswa, tetapi juga menilai apa yang dapat dilakukan oleh siswa setelah pembelajaran selesai. Sehingga kualitas hasil belajar dan kerja siswa dalam menyelesaikan tugas dapat terukur. Maka dari itu dapat ditarik kesimpulan dalam melakukan penilaian autentik ada tiga hal yang harus diperhatikan, yakni:
1. Autentik dari instrumen yang digunakan, menggunakan instrumen yang bervariasi yang disesuaikan dengan karakteristik atau tuntutan kompetensi yang ada dikurikulum.
2. Autentik dari aspek yang diukur, menilai aspek-aspek hasil belajar secara komprehensif meliputi kompetensi sikap, keterampilan dan pengetahuan.
3. Autentik dari aspek kondisi siswa, menilai input (kondisi awal siswa), proses (kinerja dan aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar), dan output (hasil pencapaian kompetensi, baik sikap, keterampilan maupun pengetahuan siswa setelah mengikuti proses belajar mengajar). Melalui kurikulum 2013 penilaian autentik menjadi penekanan dalam melakukan penilaian hasil belajar siswa yang memperhatikan seluruh minat, potensi dan prestasi siswa secara menyeluruh. Penilaian juga dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan agar dapat menggambarkan kemampuan para siswa yang dievaluasi. Sangat penting untuk melibatkan siswa dalam penilaian, sehingga siswa secara sadar dapat mengenali perkembangan pencapaian hasil pembelajaran mereka.
C. Hambatan dan Solusi Terhadap Pembelajaran Tematik
Pembelajaran tematik merupakan metode pembelajaran yang baru, sehingga kebanyakan pengajar belum mengetahui/menguasai. Selain itu dalam pengaplikasiannya masih terkendala dan dalam sebuah pembe lajaran pasti adanya hambatan yang muncul. Berikut ini merupakan hambatan dan solusi dalam pembelajaran terpadu.
1. Hambatan dalam Pembelajaran Tematik
Permasalahan yang muncul pertama adalah guru. Guru sebagai pelaksana utama kegiatan pembelajarn merupakan kunci keberhasilan pembelajaran tematik. Kenyataannya belum semua guru memperoleh pelatihan pembelajaran tematik dan kurikulum 13. Guru juga masih banyak yang belum bisa memadukan semua pelajaran pada tema tertentu dan masih perlu pemahaman yang luas. Jaring tema merupaka jaringan beberapa kompetensi dasar dari berbagai mata pelajaran yang dipadukan menjadi satu tema dan satu kegiatan pembelajaran.
Permasalahan ke dua adalah kegiatan pembelajaran. Kegiatan inti pembelajaran tematik melalui lima tahapan pembelajaran yaitu kegiatan mengamati, menanya, mengasosiasikan, mencoba dan membangun jejaring. Pelaksanaan pembelajaran di SD/MI terbagi pada tema. Setiap tema terbagi menjadi sub tema dan setiap tema terbagi menjadi pembelajaran 1 sampai dengan pembelajaran 6. Dapat dikatakan bahwa setiap hari setiap kelas akan mendapatkankan satu kegiatan pembelajaran. Satu kegiatan pembelajaran merupakan pembelajaran tematik sebagai satu kesatuan tema yang menggait beberapa pelajaran. Hal yang menjadi masalah adalah bagaimana melaksanakan pembelajaran dari beberapa mata pelajaran dengan lima langkah pembelajaran pada satu kegiatan pembelajaran yang juga terdiri dari penilaian pembelajaran baik penilaian proses maupun penilaian hasil yang tercakup di dalamnya.
Permasalahan yang ke tiga adalah sumber belajar. Pembelajaran tematik yang ada di SD/MI sumber belajar yang dipakai adalah satu buku siswa saja. Kondisi seperti ini akan menjadi masalah ketika buku siswa sebagai sumber belajar tidak dikembangkan oleh guru. Hal ini bisa dilihat bahwa buku siswa pada setiap materi pembelajaran (pembelajaran 1 s.d. pembelajaran 6) hanya terdiri dari beberapa lembar. Guru akan mengalami kesulitan manakala sumber belajar lain tidak tersedia. Bagi SD/MI yang berada di daerah perkotaan tentu bukan masalah untuk mendapatkan jaringan internet, namun tidak demikian bagi SD/MI yang berada di pelosok desa.
2. Solusi dalam Menyelesaikan Masalah yang Muncul Pada Pembelajaran Tematik
Guru harus mempersiapkan diri untuk menyongsong pembelajaran tematik Kurikulum Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah. Persiapan tersebut meliputi tiga kegiatan, yaitu persiapan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, dan evaluasi proses dan hasil belajar. Pemerintah dalam hal ini Kemendikbud dan Kemenag harus secara merata melaksanakan pelatihan bagi semua lapisan guru SD/MI baik guru PNS maupun guru swasta. Pelatihan pembelajaran tematik ini harus benar-benar mencapai sasaran dengan perbandingan 30% teori dan 70% praktek.
Kegiatan praktek mengajar pada pembelajaran tematik harus benar-benar mengait langkah pembejaran scientific approach yaitu mengamati, mananya, mangasosiasi, mencoba, dan membangun jejaring. Pemerintah juga harus melakukan kegiatan pendampingan ketika tahun ajaran baru dimulai hingga semua warga sekolah/madrasah benar-benar menguasai. Pemahaman yang mendalam mengenai jaring-jaring tema perlu ditanamkan kepada semua guru sehingga pelaksanaan pembelajaran bisa berjalan, demikian juga dengan pemahaman mengenai penilaian autentik. Guru masih belum sepenuhnya memahami sistem penilaian pembejaran tematik dimana pembejarannya menyatu pada tema, namun penilaiannya tetap permata pelajaran. Perlu juga adanya kerjasama antara guru kelas dengan guru mata pelajaran olahraga. Pada pembelaran tematik di kelas. Jadwal kegiatan pembelajaran sehari-hari bukan berdasarkan mata pelajaran, namun berdasarkan tema, subtema, dan pembelajaran. Hal ini menimbulkan permasalahan bagi guru olahraga. Pada kegiatan pembelajaran yang terdiri dari beberapa mata pelajaran (PPkn, bahasa Indonesia, matematika, seni budaya dan prakarya, serta pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan) disajikan pada sebuah tema sehingga tidak terasa perpindahan mata pelajaran satu ke mata pelajaran lainnya. Guru kelas dan guru olahraga harus bekerjasama untuk menyusun skenario pembelajaran yang benar-benar tematik.
Sumber belajar yang digunakan sebagai buku wajib telah disediakan oleh pemerintah. Setiap tema sebagi satu buku terdiri dari 4 subtema dan setiap subtema terdiri dari 6 kegiatan pembejaran. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa satu semester terdiri dari satu buku. Guru perlu mengembangkan materi-materi pembelajaran yang ada sehingga pembelajaran sesuai dengan kondisi dan situasi masing-masing. Pihak sekolah perlu juga mengusahakan jaringan internet. Manfaat dari internet akan membuka dunia luar bagi anak-anak untuk mengetahui dunia luar yang ternyata telah mengalami kemajuan yang begitu pesat. Pihak manajemen sekolah juga harus menyediakan sumber belajar lain seperti buku-buku pengayaan, buku-buku laithan, dan buku-buku berkaitan dengan pembelajaran tematik.
Dengan demikian bahwa yang sudah tertera diatas baik hambatan dan solusi yang ada merupakan kewajiban semua pihak sekolah untuk mendongkrak semua hal tersebut. Tujuan pendidikan yang nyata sebagai landasan terus berkembannya dan memperbaiki system di sekolahan tersebut agar berjalan secara maksimal. Selain itu kebijakan sekolah yang ada harus diterapkan sesuai pedoman kurikulum 2013 yang berlaku.
Kerangka Berfikir
Dengan berkembangnya zaman sangat berpengaruh ke berbagai hal termasuk dunia pendidikan. hal yang menjadi sorotan dalam pendidikan ialah perkembangan kurikulum yang sekarang dikenal ialah kurikulum 2013 yang identik pembelajarannya menggnakan pembelajaran tematik atau terpadu. Namun dalam kaitannya dalam pelaksanaannya masih kurang optimal dari segi berbagai hal yang ditemukan. Hal itu baik dari segi sekolah, program, sarana prasarana maupun pendidiknya.
Sebagaimana yang tertera pada Permendiknas No.16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru. Dalam peraturan ini dijelaskan bahwa setiap guru wajib memenuhi standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru yang berlaku secara nasional, baik melalui jalur pendidikan formal maupun melalui uji kelayakan dan kesetaraan. Sedangkan standar kompetensi guru dikembangkan secara utuh dari empat kompetensi utama, yaitu kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional. Keempat kompetensi tersebut terintegrasi dalam kinerja guru.
Pastinya dalam pembelajaran tematik tidak terpangku seluruhnya pada peserta didik, namun hal yang tepenting pula ialah peran guru dalam memberikan bimbingan agar pelajaran tersebut bisa berlanjut sesuai yang diharapkan. Memang pada dasarnya pembelajaran ini menyeimbangkan antara soft skill dan hard skill antara aspek sikap, pengetahuan dan keterampilan. Sehingga guru harus benar-benar memberikan kesiapan yang ekstra dalam hal ini serta dukungan dari beberapa orang yang berada lembaga sekolah ditempati harus ada dan nyata.
Oleh sebab itu, dalam implementasi pembelajaran tematik ini pastinya banyak hal-hal yang harus dituangkan mengenai persoalan-persoalan yang muncul dan harus dituntaskan. Peneliti akan memberikan analisis serta informasi mengenai permasalahan yang muncul serta memberikan solusi yang dapat diterapkan. Sehingga semua pihak sekolah dan guru akan dapat pehamahan secara komprehensif mengenai implementasi pembelajaran tematik ini agar berjalan secara optimal.
Penelitian Terdahulu
1. Hanifah Lutfiatuz Zakiyah, skripsi dengan judul : ”PROBLEMATIKA GURU DALA MENERAPKAN MODEL PEMBELAJARAN TEMATIK INTEGRATIF TEMA BENDA, HEWAN, DAN TANAMAN DI SEKITARKU SISWA KELAS 1 SD HJ. ISRIATI BAITURRAHMAN 1 SEMARANG”. Program Studi Ilmu Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, Universitas Islam Negeri Walisongo, 2015. Dalam skripsi ini peneliti membahas mengenai problematika guru dalam menerapkan model pembelajaran tematik integratif tema benda, hewan, dan tanaman di sekitarku. Tujuan dari penelitian ini yakni mengetahui bagaimana keefektifan dalam proses pembelajaran tematik integratif pada Kurikulum 2013 di SD HJ. Baiturrahaman 1 Semarang.
Peneliti menggunakan pendelatan penelitian yaitu pendekatan kualitatif diskriptif yang mana peneliti ingin mengetahui gambaran tentang pembelajaran tematik integratif baik dari guru maupun muridnya. Disini teknik pengumpulan yang digunakan ialah obervasi, wawancara, dan dokumentasi. Persiapan dalam observasi peneliti menggunakan audio-visual serta check list serta menyiapkan catatan lapangan seperlunya, setelah itu melakukan wawancara dengan guru dan murid yang bersangkutan, terakhir dokumentasi untuk merekam pembelajaran selama berlangsung.
Hasil dari penelitian tersebut harus diolah karena data yang diperoleh harus diuji keabsahannya selanjutnya dianalisa. Beberapa tahapan yang harus dilakukan peneliti anatara lain reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan serta melihat catatan lapangan yang ada. Dari semua itu hasil yang diperoleh sebagai berikut; deskripsi perencanaan pembelajaran tematik integratif, menyiapkan media dan sumber bahan ajar. Untuk perencanaan pembelajarannya sendiri meliputi pembuatan RPP, menyediakan materi ajar, menyediakan media pembelajaran tematik, dan menyediakan model pembelajaran tematik.
2. Titik Septiani, skripsi dengan judul : ”Studi Kesiapan guru Melaksanakan Kurikulum 2013 Dalam Pembelajaran Berbasis Tematik Integratif di Sekolah Dasar Sekecamatan Colomadu Tahun Ajaran 2014/2015”. Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2015. Penelitian ini membahas mengenai kesiapan guru melaksanakan kurikulum 2013 dalam pembelajaran berbasis tematik. Tujuan penelitian ini meliputi mendiskripsikan kesiapan guru, pelaksanaan pembelajaran, dan pelaksanaan otentik.
Peneliti menggunakan pendekatan penelitian yaitu penelitian kualitatif yang mana hasil yang diharapkan berupa paparan diskriptif mengenai pelaksanaan kurikulum 2013 ini. Teknik yang digunakan berupa metode wawancara, observasi, angket dan dokumentasi. Setelah data semuanya terkumpul akan dianalisis data tersebut dengan metode alur yang terdiri dari reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian yang didapat bahwa kesiapan guru telah sesaui dengan sistematika yang ditentukan pada kurikulum 2013, namun kendala ditemukan pada tahap penilaian otentik. Penelian ini dianggap sangat rumit sehingga kurang menyeluruh dan optimal karena banyaknya jenis penilaian yang dinilai.
3. Eka Rahmawati, skripsi dengan judul : “Kesiapan Guru Kelas dalam Mengimplementasikan Pembelajaran Tematik Integratif di SD Negeri Graulan Kulonprogo”. Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta, 2015. Penelitian ini membahas mengenai seberapa jauh kesiapan guru dalam mengimplementasikan pembelajaran tematik integratif tersebut. Tujuan dari penelitian ini untuk mendeskripsikan perencanaan, pelaksanaan, penilaian, faktor pendukung,, penghambat dan upaya untuk mengatasi hambatan dalam mengimplementasukan pembelajaran tematik integratif fi kelas I dan IV SD Negeri Graulan.
Peneliti menggunakan pendekatan penelitian yaitu pendekatan penelitian kualitatif deskriptif. Untuk pengumpulan data yang dilakukan dengan observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Intrumen dalam penelitian ini adalah peneliti dengan menggunakan alat bantu lembar analisis RPP, lembar observasi dan lembar wawancara. Setelah data terkumpul selanjutnya data dianalisis dengan menggunakan reduksi data, penyaji data, dan penarikan kesimpulan serta dilakukan uji keabsahan data.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa guru sudah membuat perencanaa pembelajaran berupa RPP sesuai dengan kriteria kurikulum 2013. Pelaksanaan pembelajaran guru sudah menggunakan pendekatan saintifik dan penilaian otentik. Faktor pendukung berasal dari kepala sekolah, guru dan sarana prasarana. Untuk faktor penghambat muncul dalam pembuatan RPP, pelaksanaan pembelajaran, ketercapaian pembelajaran, dan orang tua siswa.
Tabel Perbandingan dalam Penelitian
Nama Peneliti dan Judul Penelitian Persamaan Perbedaan
Hanifah Lutfiatuz Zakiyah, skripsi dengan judul : ”PROBLEMATIKA GURU DALAM MENERAPKAN MODEL PEMBELAJARAN TEMATIK INTEGRATIF TEMA BENDA, HEWAN, DAN TANAMAN DI SEKITARKU SISWA KELAS 1 SD HJ. ISRIATI BAITURRAHMAN 1 SEMARANG” 1. Sama-sama membahas pembelajaran tematik 1. Peneliti membahas tentang pembelajran tematik secara menyeluruh tidak hanya gurunya saja seperti yang dituangkan di skripsi Hanifah.
2. Tujuan peneliti membahas secara umum pembelajran tematik, sedangkan skripsi Hanifah difokuskan pada suatu tema.
Titik Septiani, skripsi dengan judul : ”Studi Kesiapan guru Melaksanakan Kurikulum 2013 Dalam Pembelajaran Berbasis Tematik Integratif di Sekolah Dasar Sekecamatan Colomadu Tahun Ajaran 2014/2015”. 1. Sama-sama membahas pembelajaran tematik 1. Peneliti ruang lingkup penelitian difokuskan hanya satu SDN yang dijadikan sebagai induk percontohan, sedangkan skripsi Titik dengan ruang lingkup satu kecamatan yang akan diteliti tersebut dan dipusatkan pada gurunya saja.
Eka Rahmawati, skripsi dengan judul : “Kesiapan Guru Kelas dalam Mengimplementasikan Pembelajaran Tematik Integratif di SD Negeri Graulan Kulonprogo”. 1. Sama-sama membahas pembelajaran tematik 1. Peneliti membahas tentang pembelajran tematik secara menyeluruh, sedangkan di skripsi Eka ini hanya tentang kesiapan guru saja yang akan diteliti.
Dari tabel yang telah disajikan diatas memang adanya perbedaan tetapi perbedaan itu hanya sedikit yang tertera. Memang kebanyakan peneliti-peneliti lainnya menuangkan penelitiannya terfokuskan pada gurunya saja. Hal itu yang membuat berbeda dari peneliti dengan peneliti lain. Pada dasarnya peneliti ingin mengkaji seberapa besar implementasi pembelajaran tematik yang telah berjalan di suatu lembaga sekolah itu, hal ini bertujuan untuk mengetahui peran apa saja yang harus dipersiapkan dalam suatu lembaga sekolah tersebut. Maka dari itu peneliti hanya mengambil fokus satu sekolah yang menjadi pusat kendali implementasi pembelajran agar mendapat data yang komprehensif.
DAFTAR PUSTAKA
Anitah, Sri. 2008. Media Pembelajaran. Surakarta: LPP UNS dan UNS Pers.
Arfid Burhanuddin, Landasan Teori Penelitian, https://afidburhanuddin.wordpress.com/2013/09/24/landasan-teori-penelitian-2/ diakses pada tanggal 25 Maret pukul 10.00
Arie Permana, I putu, Penggunaan Poster Mlalui Model Pembelajaran Kooperatif STAD terhadap Aktivitas dan Hasil Belajar tahun ajaran 2014/2015. (Dalam Skripsi Progam Studi Pendidikan Biologi, FKIP Universitas Lampung, 2015)
B. Suryosubroto, Proses Belajar Mengajar di Sekolah, (Jakarta: Rineka Cipta, 2009).
Darmawan, Deni, Metode Penelitian Kuantitatif. (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2014).
Daryanto, Media Pembelajaran,(PT SARANA TUTORIAL NURANI SEJAHTERA: Bandung, 2015).
Iif Khoiru Ahmadi; Amri, Sofan. (2014). Pengembangan & Model Pembalajaran. Tematik Integratif. Jakarta: Prestasi Pustaka.
Khotimah, Khusnul, Upaya Meningkatkan Aktivitas dan Pemanfaatan Media Poster pada Pembelajaran Membatik Siswa Kelas 1 di SMK Ma’arif 2 Sleman tahun ajaran 2012/2013. (Dalam Skripsi Program Studi Pendidikan Teknik Busana, Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta)
Nurul Fajri, Badrudin, Penerapan Metode Poster Session pada Mata Pelajaran IPA Materi Pokok Bumi dan Alam Semesta untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas V Semester Genap Tahun Ajarqan 2014/2015 di SD Islam AL KHOTIMAH RANDUSARI Kecamatan Semarang Selatan tahun ajaran 2014/2015. . (Dalam skripsi Program Studi Ilmu Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Jurusan Tarbiyah Universitas Islam Negeri Walisongo, 2015)
Purwanto, Ngalim. 2007. Psikologi Pendidikan (Bandung: PT Remaja. Rosdakarya).
Qowi Handiko, Permasalahan Dan Solusi Pembelajaran Tematik (Refleksi Atas Pelaksanaan Pendampingan Implementasi Kurikulum 2013 Jenjang SD/ MI), http://bdksemarang.kemenag.go.id/permasalahan-dan-solusi-pembelajaran-tematik-refleksi-atas-pelaksanaan-pendampingan-implementasi-kurikulum-2013-jenjang-sd-mi/, diakses pada tanggal 25 Maret 2017 pukul 15.20 WIB.
Rusman. 2011. Model-Model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru. (Jakarta; CV Pustaka Cendekia Utama).
Sardiman. 2003. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. PT Raja. Grafindo Persada. Jakarta.
Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.
Sudjana, Nana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2014).
Sudjono, Anas, Pengantar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1996)
Supriyono, Rachmat. (2010). Desain Komunikasi Visual. Yogyakarta; ANDI.
0 komentar:
Posting Komentar