BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Kreatifitas adalah sebuah kata yang mudah diucapkan tetapi susah untuk diartikan, bahkan susah untuk dijalankan dalam kehidupan keseharian bagi yang belum terbiasa dan yang masih terbelenggu dengan pikiran bahwa kreativitas itu harus menghasilkan ciptaan yang luar biasa hebat. Pada dasarnya setiap orang didunia di lahirkan dengan potensi kreatif. Kreatif itu sendiri dapat di identifikasi atau dikenali dengan cara dipupuk melalui pendidikan yang tepat. Misalnya saja jika seseorang ingin terampil dalam menulis dan ingin mengembangkan hasil karyanya maka orang tersebut yang pertama harus mempunyai minat terhadap kegiatan yang dilakukannya lalu kemudian di dukung dengan teori yang di dapat dari proses pendidikan.
Namun jika seseorang yang pada awalnya sudah tidak menyukai kegiatan menulis, tentunya ketika diminta untuk membuat suatu karya atau tulisan tentunya akan mengalami kesulitan dan membutuhkan waktu sedikit lebih lama dibandingkan dengan mereka yang sudah terbiasa menulis. tapi juga tidak dapat dipungkiri bahwa orang yang sudah terbiasa menulis pun terkadang juga sulit mengungkapkan pikirannya dalam bentuk tulisan.
Hal ini bisa jadi dipengaruhi olh beberapa faktor yang menghamabat munculnya ide seseorang, sebab emunculkan kreatifitas seseorang khususnya dalam hal menulis tentunya tidak semudah yang dibayangkan, tentunya terdapat faktor-faktor yang mendukung dan faktor-faktor yang menghambat dalam proses kreatif itu sendiri. Selanjutnya dalam makalah ini akan membahas mengenai faktor-faktor yang dapat meghambat dalam proses kreatif/ penulisan kreatif.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka dapat diambil rumusan masalah sebagi berikut:
1. Apa faktor yang menghambat dalam proses kreatif/ penulisan kreatif?
C. Tujuan Pembahasan Masalah
Dari rumusan masalah di atas maka tujuan penulisan makalah ini adalah :
1. Untuk mengetahui faktor yang menghambat dalam proses kreatif/penulisan kreatif.
D. Batasan Masalah
Makalah ini hanya membahsa mengenai faktor yang menghambat dalam proses kreatif/ penulisan kreatif.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Faktor Penghambat dalam Penulisan Kreatif
1. Rasa Malu dan Minder.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) malu berarti merasa sangat tidak enak hati (hina, rendah, dan sebagainya) karena berbuat sesuatu yang kurang baik (kurang benar, berbeda dengan kebiasaan, mempunyai cacat atau kekurangan. Sedangkan minder berarti rendah diri. Rasa malu dan minder akan dapat menutup kreativitas seseorang. Orang yang malu keberaniannya memudar dan patah semangat. Sedangkan, minder membuat diri menjadi kecil dan, nyali menjadi menciut. Dalam keadaan seperti ini orang tidak lagi berani menatap dunia dan mata penuh.
Malu dan minder pada dasarnya bersumber dari bayangan. Karena membayangkan sesuatu secara berlebihan, maka timbulah rasa malu dan minder. Membayangkan diri sangat bodoh membuat orang tidak berani mengeluarkan pendapat. Membayangkan orang lain terlalu pandai, terlalu agung, terlalu kaya atau terlalu apa saja membuat seseorang tidak mampu menghadapinya secara wajar. Bayangan pada umumnya terlihat lebih besar dan lebih berat dari kenyataan.
Untuk itu sikapi dan terima oranglain, peristiwa dan sebagainya secara wajar. Sebab pada dasarnya setiap orang pasti memiliki kelebihan di samping kekurangan dan kelemahan.
2. Kritik
Kritik dalam KBBI diartikan sebagai kecaman atau tanggapan, kadang-kadang disertai uraian dan pertimbangan baik buruk terhadap suatu hasil karya. Bagi seorang penulis kritik adalah balikan yang sangat berharga bagi kesempurnaan ide berikutnya untuk itu terimalah kritik dengan hati terbuka. Karya yang besar memerlukan kritik yang tajam. Karya (sastra) dan kritik adalah dua dunia yang berbeda. Orang yang mengkritik belum tentu menghasilkan karya (ide). Untuk itu seorang penulis (pemilik ide) tidak perlu berkecil hati menerima kritikan. Kritik menunjukkan bahwa karya itu memiliki nilai tertentu, sehingga orang merasa perlu untuk mengkritiknya.
Namun terkadang kritik yang pedas dan berlebihan apalagi dilandasi oleh sentiment pribadi dapat membunuh kreativitas seseorang yang menerimanya. Kritik yang seperti ini jelas tidak obyektif. Untuk itu tidak perlu ditanggapi secara sungguh-sungguh.
3. Menunda Waktu.
Kebiasaan menunda waktu dapat menumpulkan kreativitas. Orang yang menunda pencatatan suatu ide adalah orang yang melakukan kesalahan besar. Mengapa demikian ? sebab, ide cepat hilang sehingga kalau tidak segera dicatat ia akan hilang kembali.
Penundaan catatan ide berarti menunda munculnya ide yang lain. Semakin sering menunda mencatat ide berarti semakin ide yang gagal untuk dimunculkan. Ide tidak usah sampai benar-benar jelas dan siap untuk ditulis. Sebab ide sering muncul segera dan samar-samar, dan baru menjadi jelas setelah dicatat dan direnungkan kembali.
4. Anggapan yang Keliru Tentang Kreativitas dan Menulis Kreatif.
Sebenarnya menulis itu mudah dan satu-satunya kegiatan yang tidak butuh bakat. Andreas Harefa bahkan bilang kalau menulis adalah kemampuan tingkat dasar. Kenapa? Karena siapa yang bisa membaca pasti bisa menulis. Sungguh, seperti ucapan Thomas Alfa Edison, bakat itu 1% dan 99% sisanya adalah kerja keras. Menulis itu in potentia, maksudnya jadi potensi untuk semua orang. Buktinya, semua orang dengan kemauan dan tekad menjadi penulis pasti bisa menjadi penulis. Dan buktinya semua penulis hebat pasti akan berkata bahwa dulu juga mereka penulis pemula yang sering mengalami hambatan.
Namun saat ini masih banyak orang yang beranggapan bahwa kreativitas hanya milik orang-orang yang berbakat saja. Mereka lupa, bahwa orang-orang yang kreatif dan para sastrawan itu menjadi terkenal dan berhasil karena mereka tekun berlatih dan bekerja keras. Perlu diingat bahwa semua orang memiliki bekal kreativitas dan kemampuan menulis kreatif. Hanya permasalahannya, tidak semua orang berkesempatan dan berkemauan untuk memupuk dan mengembangkannya.
Anggapan yang salah tentang kreativitas dan menulis kreatif tersebut membuat orang patah semangat sebelum mencoba. Yang penting ialah, coba saja lebih dulu. Masalah berhasil atau tidak itu urusan belakang.
5. Minat yang Kurang.
Minat sangat menunjang kreativitas dan kemampuan menulis kreatif seseorang. Dengan minat yang besar, orang akan menyenangi sesuatu secara tulus dan sungguh-sungguh. Dengan rasa senang dan sungguh-sungguh semangat dan kemauan seseorang akan tumbuh dengan subur. Orangpun akan dapat bekerja keras tanpa merasa lelah dan jemu. Inilah yang diperlukan bagi kreativitas dan penulisan kreatif.
Jangan biasa memaksakan diri. Orang yang terpaksa tidak akan dapat bekerja secara optimal, sehingga hasilnyapun setengah-setengah serta bekerjalah dengan minat yang penuh.
6. Penguasaan Bahasa yang Kurang.
Penulis pemula pada umumnya mengeluh karena kesulitan bahasa. Ini disebabkan, penulisan memiliki bekal kosa kata yang kurang. Penguasaan bahasa yang kurang membuat seseorang (penulis) tidak mampu mendayagunakan bahasa tersebut secara optimal. Inilah yang membuat proses penulisan karya sastra berjalan tersendat-sendat. Untuk itu seringlah membaca literatur terkait dengan tema tulisan yang dibuat guna menambah daftar kosa kata yang dimiliki.
7. Kekurangan Ide.
Ketika disuruh menyumbangkan ide atau menulis karya sastra, banyak siswa/mahasiswa yang mengeluh karena tidak memiliki ide untuk disumbangkan atau ditulis. Ini adalah hal yang umum terjadi, sebab membuahkan ide-ide adalah pekerjaan yang sulit bagi kebanyakan orang.
Seorang yang serius menulis secara terus menerus dan bertubi-tubi akan mengalami kelelahan yang menyebabkan stres kecil. Sehingga berujung pada mampetnya ide untuk membuat tulisan. Memang benar, jika sudah terbiasa menulis kita akan mudah menorehkan kata. Tapi intensitas yang begitu sering akan membuatnya tidak baik. Berikut beberapa cara atau kegiatan yang dapat dilakukan jika dalam menulis mengalami kendala kekurangan ide :
a. Mencari sumber bacaan yang relevan
Mencari bahan bisa dengan cara surfing di internet untuk mencari artikel yang berhubungan, pergi ke perpustakaan atau toko buku untuk mencari literatur, atau diskusi dengan ahli yang mengerti tentang ilmu yang berkaitan dengan apa yang kita tulis.
b. Refresing
Refreshing adalah kegiatan yang terbaik untuk merelaksasikan otak. Misalnya pergi ke pantai, jalan-jalan, atau sejenisnya. Yang penting tujuannya untuk mengistirahatkan otak.
c. Bermain game
Main game ringan akan membuat pikiran lebih fresh dan tenang, sehingga pada akhirnya dapat mencetuskan sebuah ide untuk dituliskan.
d. Berhenti sejenak dari rutinitas
Terkadang kita tidak sadar, ketika berhenti sejenak dari aktivitas pekerjaan yang melelahkan, kita sering mendapatkan ide secara tiba-tiba. Hal itu membuktikan bahwa saat pikiran penat, ide akan sangat sulit keluar.
e. Bersosialisasi
Salah satu kegiatan yang dapat dilakukan ketika dalam menulis kekurangan ide adalah dengan bersosialisasi. Bersosialisasi atau mengobrol dengan orang-orang sekitar seperti dengan teman atau keluarga untuk beberapa saat dapat membantu merefresh otak dan tentunya juga dapat menambah insprirasi.
f. Tidur
Tidur akan mengistirahatkan segalanya, baik itu otak maupun tubuh. Untuk itu jangan paksakan diri anda ketika anda sudah merasa lelah, istirahatkan tubuh anda, dan bekerjalah sewajarnya.
Pada intinya dengan banyak melihat, mendengarkan, membaca dan berinteraksi dengan sosial, akan semakin memperkaya ide yang ada di kepala kita.
8. Iklim Lingkungan yang Tidak Mendukung
Lingkungan dapat menyuburkan kreativitas dan kemampuan menulis kreatif, tetapi dapat pula mematikannya. Iklim lingkungan yang dapat pula mematikannya. Iklim lingkungan yang dapat membunuh kreatifitas dan kemampuan menulis kreatif ialah yang memiliki ciri sebagai berikut :
a. Lingkungan yang tidak menghargai ide dan hasil karya seseorang
b. Lingkungan yang tidak memberikan kebebasan kepada seseorang untuk menyumbangkan pikiran dan pendapatnya.
c. Lingkungan yang menuntut disiplin secara kaku, diwarnai suasana takut, dan cemas.
d. Lingkungan yang serba mengikat : baik ikatan moral, agama, politik, budaya, maupun sosial.
Untuk itu ciptakan lingkungan yang menunjang bagi kreativitas dan proses kreatif Anda. Hindari lingkungan yang dapat mematikan kreativitas dan kemampuan menulis seperti di atas.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Ada beberapa hal yang dapat menghambat kreatifitas dan proses kreatif khususnya dalam menulis, yaitu rasa malu dan minder, kritik, menunda waktu, anggapan yang keliru tentang kraetivitas dan menulis kreatif, minat yang kurang, pengguasaan bahasa yang kurang, kekeurangan ide, dan iklim lingkungan yang tidak mendukung. Dalam hal tersebut, penghambat dalam pross kreatif dapat diminimalisir dan dihilangkan dengan kebiasaan-kebiasaan yang harus konsisten dilaksanakan dan dijaga. Rasa malu dapat diminimalisir dengan percaya diri bahawa setiap orang memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Menganggap kritikan adalah proses perbaikan dan koreksi baik dari orang lain, serta sering-sering membaca untuk mendapatkan literature dan ide atau gagasan baru dalam proses kreatif.
B. Saran
Penulis berharap tulisan ini dapat memberikan informasi kepada pembacanya dan memberikan titik terang mengenai hambatan yang dialami pembaca dalam proses kreatif dan menulis kreatif. Penulis juga berpesan kepada pembaca untuk tidak menjadikan tulisan ini sebagai satusatunya bahan referensi menginggat banyaknya kekurangan dalam tulisan ini. Untuk itu, kritik dan ssaran pembaca penulis harapkan demi kesempurnaan tulisan ini.
DAFTAR RUJUKAN
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) versi online/daring (dalam jaringan),
(Online) (http://kbbi.web.id/malu, diakses 15 September 2016).
Roekhan. 1991. “Menulis Kreatif Dasar-dasar dan Petunjuk Penerapannya”.
Jawa Timur: Yayasan Asih Asah Asuh Malang.
Qonita, Maryam. “Belajar Menulis: Hambatan Menulis dan Tips Mengatasinya”,
(Online), (http://www.maryamqonita.com/ Belajar Menulis: Hambatan
Menulis dan Tips Mengatasinya/santri menulis.htm, diakses 15 September
2016)
Tunsa, Ari. “5 Tips Mengatasi Kekurangan Ide Menulis”, (Online),
(http://aritunsa.com/5-tips-mengatasi-kekurangan-ide-menulis-menulis/, diakses 15 September 2016).
0 komentar:
Posting Komentar